Rupiah Menguat Saat BI Tahan Suku Bunga Acuan, IHSG TertekanRupiah Menguat Saat BI Tahan Suku Bunga Acuan, IHSG Tertekan

MEDAN (Waspada.id): Rupiah mampu menguat setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen. Namun, penguatan rupiah tidak diikuti kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang justru mengalami tekanan cukup signifikan.
Pada perdagangan Rabu (19/8) sore, rupiah ditutup menguat ke level Rp17.835 per dolar AS. Pergerakannya relatif terbatas sepanjang sesi perdagangan, berada dalam rentang Rp17.820 hingga Rp17.845 per dolar AS.
Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai penguatan rupiah tidak terlepas dari melemahnya indeks dolar AS (DXY) serta imbal hasil US Treasury.
“Rupiah masih mampu bertahan dan menguat setelah BI mempertahankan BI-Rate di 5,75 persen. Penguatan ini juga didukung oleh pelemahan dolar AS dan imbal hasil US Treasury,” ujar Gunawan.
Meski demikian, ruang penguatan rupiah dinilai masih terbatas lantaran pasar kembali dihadapkan pada meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Harga minyak mentah dunia menjadi salah satu indikator yang paling mendapat perhatian. Pada perdagangan sore, harga minyak mentah Brent naik ke kisaran US$92,2 per barel.
Kenaikan tersebut dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar setelah muncul rencana Iran menyerang aset-aset Amerika Serikat di Eropa. Ketegangan di kawasan Selat Hormuz juga kembali memanas sehingga meningkatkan risiko meluasnya konflik ke negara-negara lain.
Menurut Gunawan, jika eskalasi konflik terus meningkat, dampaknya tidak hanya akan terasa pada harga minyak, tetapi juga pasar keuangan global.
“Yang menjadi perhatian sekarang adalah eskalasi konflik. Kalau perang meluas dan mengganggu jalur distribusi energi, harga minyak berpotensi bergerak lebih tinggi. Kondisi ini tentunya menjadi risiko bagi pasar keuangan dan perekonomian global,” jelasnya.
Di tengah penguatan rupiah, IHSG justru ditutup melemah 0,86 persen ke level 6.394,125. Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak cukup volatil dengan rentang sekitar 6.373 hingga 6.490.
Sejumlah saham berkapitalisasi besar turut memberikan tekanan terhadap indeks, di antaranya BMRI, ASII, ANTM, BUMI hingga BRMS.
Gunawan mengatakan pelemahan IHSG juga tidak terlepas dari kondisi bursa saham Asia yang mayoritas mengalami koreksi.
“Investor cenderung lebih berhati-hati ketika risiko geopolitik meningkat. Tekanan pada saham menjadi sesuatu yang wajar karena pelaku pasar akan mengurangi eksposur pada aset berisiko,” katanya.
Menurutnya, sektor keuangan menjadi salah satu sektor yang cukup rentan ketika ketidakpastian geopolitik meningkat. Investor akan lebih memperhatikan dampak konflik terhadap pertumbuhan ekonomi, inflasi, harga energi dan kebijakan suku bunga global.
Sementara itu, harga emas dunia relatif stabil di kisaran US$4.358 per troy ounce, atau sekitar Rp2,5 juta per gram jika dikonversikan ke rupiah.
Gunawan menilai pergerakan pasar ke depan masih akan sangat ditentukan oleh perkembangan konflik Iran-AS. Selama ketegangan belum mereda, volatilitas pasar keuangan berpotensi tetap tinggi.
“Untuk saat ini, rupiah masih cukup solid, tetapi IHSG lebih rentan terhadap sentimen global. Fokus pasar berikutnya adalah perkembangan geopolitik dan arah harga minyak. Jika keduanya terus memburuk, tekanan terhadap aset berisiko bisa semakin besar,” pungkasnya. (id09)


























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda