Rupiah Menguat Saat IHSG Melemah, Harga Emas Turun Jelang Rencana Pertemuan Iran-ASRupiah Menguat Saat IHSG Melemah, Harga Emas Turun Jelang Rencana Pertemuan Iran-AS

MEDAN (Waspada.id): Pasar keuangan domestik menunjukkan pergerakan yang beragam pada penutupan perdagangan hari ini, Senin (20/4). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah, sementara nilai tukar rupiah justru menguat di tengah dinamika geopolitik global.
Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai kondisi ini mencerminkan dominasi sentimen eksternal, khususnya terkait perkembangan di Timur Tengah.
“IHSG tidak mampu mempertahankan penguatan dan akhirnya ditutup melemah 0,65 persen di level 7.594,111, meskipun sempat menyentuh level tertinggi di 7.692. Ini menunjukkan pasar saham masih rentan terhadap tekanan sentimen global,” ujar Gunawan.
Di sisi lain, mayoritas bursa saham Asia justru mampu bertahan di zona hijau sepanjang sesi perdagangan, meski dibayangi ketegangan geopolitik yang memanas.
Berbanding terbalik dengan IHSG, nilai tukar rupiah justru menunjukkan penguatan. Rupiah ditutup menguat di level Rp17.165 per dolar AS, setelah sempat melemah ke kisaran Rp17.185 selama perdagangan.
Menurut Gunawan, penguatan rupiah didukung oleh pelemahan indeks dolar AS (USD Index) yang berada di level 98,2.
“Ketika dolar AS melemah, rupiah mendapatkan ruang untuk menguat. Apalagi saat ini minim sentimen ekonomi domestik, sehingga pasar lebih banyak digerakkan oleh faktor global,” jelasnya.
Sementara itu, harga emas dunia mengalami penurunan dan ditransaksikan di level USD 4.787 per ons troy. Penurunan ini terjadi di tengah kenaikan harga minyak mentah dunia.
Gunawan menjelaskan bahwa pelaku pasar mulai bersikap hati-hati menjelang rencana pertemuan antara Amerika Serikat dan Iran. “Ada harapan de-eskalasi konflik, sehingga sebagian investor mulai keluar dari aset safe haven seperti emas dan memilih wait and see,” katanya.
Dalam sepekan ke depan, pasar juga akan mencermati sejumlah agenda ekonomi penting, seperti rilis data penjualan ritel Amerika Serikat serta kebijakan moneter Bank Indonesia.
Namun demikian, Gunawan menilai bahwa faktor geopolitik masih akan menjadi penggerak utama pasar.
“Rencana pertemuan antara AS dan Iran berpotensi menjadi sentimen yang lebih dominan dibandingkan data ekonomi dalam waktu dekat,” tutupnya. (id09)































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda