Rupiah Tembus 18.000, IHSG Dibayangi Aksi KoreksiRupiah Tembus 18.000, IHSG Dibayangi Aksi Koreksi

MEDAN (Waspada.id): Nilai tukar rupiah kembali berada di atas level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa (4/8) pagi, diperdagangkan di kisaran Rp18.025 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi meski indeks dolar AS (USD Index) justru melemah ke bawah level 100 atau sekitar 99,97.
Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai pelemahan rupiah kali ini lebih dipengaruhi sentimen domestik dibandingkan faktor eksternal. Menurutnya, pasar masih mencermati defisit neraca perdagangan Indonesia yang dirilis sebelumnya, serta penurunan cadangan devisa hingga Juni yang mencapai sekitar US$11 miliar.
"Penurunan cadangan devisa memberi gambaran bahwa Bank Indonesia telah melakukan intervensi cukup besar untuk meredam tekanan terhadap rupiah. Namun, tekanan dari sisi fundamental domestik masih menjadi perhatian pelaku pasar," ujarnya.
Di sisi lain, sentimen global pada perdagangan hari ini cenderung lebih kondusif. Minimnya agenda ekonomi di kawasan Asia serta munculnya peluang dialog antara Iran dan Amerika Serikat memberikan harapan terhadap stabilitas pasar keuangan regional.
Meski rupiah masih tertekan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru dibuka menguat ke level 6.254. Gunawan menilai penguatan tersebut menunjukkan bahwa pasar saham domestik masih memperoleh dukungan dari pergerakan mayoritas bursa Asia yang berada di zona hijau.
"Selama sentimen eksternal tetap positif, IHSG masih memiliki peluang bertahan di zona hijau meskipun pelemahan rupiah berpotensi memicu aksi ambil untung," katanya.
Ia memperkirakan nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini bergerak dalam rentang Rp17.950 hingga Rp18.050 per dolar AS. Sementara IHSG diproyeksikan bergerak di kisaran 6.220 hingga 6.275.
Menurut Gunawan, pelaku pasar saat ini cenderung mengambil sikap wait and see menjelang proses suksesi Gubernur Bank Indonesia. Minimnya rilis data ekonomi penting juga membuat investor memilih menahan diri sambil menunggu arah kebijakan moneter berikutnya.
Sementara itu, harga emas dunia bergerak relatif stabil di kisaran US$4.058 per troy ons atau sekitar Rp2,36 juta per gram. Kondisi tersebut mencerminkan belum adanya sentimen global yang cukup kuat untuk mendorong pergerakan signifikan pada aset lindung nilai tersebut.
"Untuk sementara, pasar cenderung bergerak terbatas. Investor masih menunggu katalis baru, baik dari dalam negeri maupun perkembangan ekonomi global," tutup Gunawan. (id09)































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda