Breaking News
Memuat breaking news...

Rupiah Tembus Rp18.000, Tekanan Pasar Keuangan Makin Berat

Redaksi
Redaksi
Selasa, 29 September 2026 - 9.54 AM WIB
Rupiah Tembus Rp18.000, Tekanan Pasar Keuangan Makin Berat
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN (Waspada.id): Tekanan terhadap pasar keuangan global kembali meningkat. Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) atau US Treasury 10 tahun yang masih bertahan di atas level 5,2% ikut memperkuat tekanan terhadap aset berisiko, termasuk pasar saham dan mata uang negara berkembang.

Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, tekanan jual di pasar obligasi AS pada perdagangan sebelumnya mengalami peningkatan. Kondisi tersebut tercermin dari imbal hasil US Treasury 10 tahun yang masih berada dalam tren kenaikan.

“Imbal hasil US Treasury 10 tahun masih dalam tren naik dan bertahan di atas level 5,2%. Kondisi ini membuat tekanan terhadap pasar keuangan semakin besar,” kata Gunawan, Selasa (29/9).

Menurutnya, tekanan yang terjadi di pasar obligasi AS turut merambat ke bursa saham global. Bursa saham AS mengalami tekanan dan kondisi tersebut kemudian menjalar ke pasar saham Asia.

Mayoritas bursa saham Asia pada sesi perdagangan pagi ini berada di zona merah. Kondisi serupa juga terjadi di pasar saham domestik, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang kembali terkoreksi.

IHSG dibuka melemah ke level 6.118 dan masih melanjutkan tren penurunan. Pergerakan indeks semakin mendekati level psikologis 6.000 yang menjadi salah satu area penting bagi pasar.

“Secara teknikal, penurunan IHSG berpeluang tertahan di level 6.000. Namun, tekanan fundamental yang kian berat bisa menyulut koreksi yang lebih besar jika IHSG menembus level bawah 6.000,” jelas Gunawan.

Rupiah Tembus Rp18.000

Di pasar valuta asing, tekanan juga dirasakan oleh rupiah. Mata uang Garuda kembali melemah hingga menyentuh level Rp18.000 per dolar AS.

Gunawan menilai pelemahan rupiah tidak terlepas dari kondisi likuiditas global yang semakin ketat seiring dengan kenaikan imbal hasil US Treasury.

“Rupiah masih dalam tren pelemahan di tengah mengeringnya likuiditas di pasar keuangan global seiring dengan kenaikan imbal hasil US Treasury,” ujarnya.

Menurut Gunawan, ruang pelemahan rupiah masih terbuka apabila sejumlah indikator keuangan global yang menjadi penentu arah pasar kembali memburuk.

Dengan demikian, pergerakan rupiah dalam waktu dekat masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan imbal hasil obligasi AS, arah dolar AS serta kondisi likuiditas global.

Harga Emas Ikut Tertekan

Sementara itu, tekanan pasar keuangan juga tercermin pada pergerakan harga emas dunia. Harga emas tercatat melemah ke level US$4.136 per troy ounce atau sekitar Rp2,4 juta per gram.

Gunawan mengatakan tekanan terhadap emas terjadi ketika pasar masih memperhitungkan kemungkinan arah suku bunga acuan ke depan serta potensi mengetatnya likuiditas.

“Pasar masih melihat adanya potensi kenaikan bunga acuan ke depan dan potensi ketatnya likuiditas yang sejauh ini membuat demand kenaikan imbal hasil dolar AS berlanjut,” katanya.

Ia menambahkan, tekanan terhadap harga emas maupun pasar keuangan berpotensi semakin besar apabila data inflasi Amerika Serikat kembali menunjukkan peningkatan.

“Tekanan pada harga emas maupun pasar keuangan berpeluang memburuk jika data inflasi AS mengalami peningkatan,” pungkas Gunawan. (id09)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement