Rupiah Tembus Rp18.100 per Dolar AS, Pasar Tunggu Kepastian Suksesi BIRupiah Tembus Rp18.100 per Dolar AS, Pasar Tunggu Kepastian Suksesi BI

MEDAN (Waspada.id): Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menembus level psikologis Rp18.100 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi ini, Rabu (29/7/2026). Di tengah pelemahan mayoritas bursa saham Asia, pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada kepastian suksesi kepemimpinan Bank Indonesia (BI) pasca pengunduran diri gubernurnya.
Pada pembukaan perdagangan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih mampu menguat ke level 6.141. Namun, penguatan tersebut dinilai masih rentan terkoreksi seiring melemahnya rupiah yang diperdagangkan di kisaran Rp18.105 per dolar AS.
Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumut, Gunawan Benjamin, mengatakan pelemahan rupiah berpotensi menjadi beban bagi pasar saham apabila tekanan terhadap mata uang domestik terus berlanjut.
"Penguatan IHSG di awal perdagangan masih sangat rentan terkoreksi. Pelemahan rupiah bisa menjadi sentimen negatif yang menyeret pergerakan pasar saham sepanjang hari," ujarnya, Rabu (29/7).
Menurut Gunawan, fokus utama investor saat ini bukan semata siapa figur yang akan menggantikan Gubernur BI, melainkan bagaimana pemerintah mampu memastikan independensi bank sentral tetap terjaga.
"Pasar membutuhkan kepastian bahwa pergantian kepemimpinan BI tidak akan mengganggu independensi bank sentral. Kepercayaan itu sangat penting untuk meredam tekanan terhadap rupiah," katanya.
Ia menilai pelemahan rupiah tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena dapat memicu dampak berantai terhadap perekonomian nasional.
"Multiplier effect dari pelemahan rupiah sangat besar. Dampaknya tidak hanya meningkatkan tekanan inflasi dan sektor moneter, tetapi juga mengganggu aktivitas dunia usaha, meningkatkan biaya produksi, hingga menekan kinerja berbagai sektor ekonomi," jelasnya.
Di sisi lain, Gunawan melihat masih terdapat sentimen positif yang berpotensi menopang pergerakan IHSG. Saat ini sejumlah emiten mulai merilis laporan keuangan semester pertama sekaligus mengumumkan rencana pembagian dividen.
Meski demikian, ia menilai investor cenderung lebih berhati-hati dan akan mengutamakan data fundamental resmi dibandingkan spekulasi pasar.
"Musim rilis laporan keuangan dapat menjadi penopang IHSG. Bahkan tidak menutup kemungkinan IHSG bergerak berbeda arah dengan rupiah apabila laporan keuangan emiten memberikan kejutan positif," ungkapnya.
Sementara itu, harga minyak mentah dunia relatif stabil dengan Brent berada di kisaran US$87 per barel. Kondisi tersebut dinilai belum memberikan tekanan tambahan terhadap pasar. Di sisi lain, harga emas dunia justru melemah ke kisaran US$4.026 per ons troy atau sekitar Rp2,35 juta per gram.
Gunawan menambahkan, investor diperkirakan tetap bersikap selektif sambil mencermati seluruh perkembangan sentimen, baik dari dalam maupun luar negeri, terutama terkait kebijakan pemerintah dan arah kepemimpinan Bank Indonesia yang baru. (id09)































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda