Rupiah Tertekan, IHSG Menguat: Geopolitik Jadi Bayang-Bayang Pasar Keuangan

MEDAN (Waspada.id): Pergerakan pasar keuangan Indonesia memasuki pekan ini diperkirakan masih dibayangi oleh ketidakpastian global, terutama meningkatnya tensi geopolitik yang berpotensi kembali menekan rupiah dan memicu kenaikan harga komoditas energi.
Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, sejumlah data ekonomi domestik akan menjadi perhatian pelaku pasar dalam sepekan ke depan. Di antaranya data cadangan devisa, indeks kepercayaan konsumen, serta penjualan ritel.
Selain itu, pasar global juga akan mencermati agenda Federal Open Market Committee (FOMC) Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) yang berpotensi memberikan pengaruh terhadap pergerakan dolar AS, imbal hasil surat utang AS, hingga mata uang negara berkembang.
"Data dari tanah air setidaknya mampu menjadi sentimen yang akan menahan laju pelemahan pasar keuangan," ujar Gunawan, Senin (5/10).
Menurutnya, tantangan terbesar justru berasal dari faktor eksternal. Tensi geopolitik diperkirakan kembali meningkat seiring dengan tekanan militer Amerika Serikat terhadap Iran.
Kondisi tersebut mulai tercermin dari pergerakan harga minyak mentah. Harga minyak Brent pada perdagangan pagi ini berada di kisaran US$101,4 per barel. Sementara imbal hasil atau yield US Treasury 10 tahun masih bertahan di sekitar 5,25%.
Di tengah kondisi tersebut, indeks dolar AS atau USD Index menguat ke level 102,2. Penguatan dolar ini turut memberikan tekanan terhadap rupiah.
"Namun USD index alami kenaikan dan berada di kisaran level 102.2 pada perdagangan pagi ini. Mata uang Rupiah merespon dengan koreksi ke level 17.900 pada sesi perdagangan pertama," jelasnya.
Menariknya, tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya diikuti oleh pasar saham. IHSG justru masih mampu bergerak menguat pada perdagangan sesi pertama dan berada di kisaran level 6.070.
Gunawan menilai penguatan IHSG tersebut salah satunya tertolong sentimen positif dari mayoritas bursa saham di kawasan Asia.
Meski demikian, investor diminta tidak mengabaikan tekanan terhadap rupiah. Pelemahan mata uang domestik dapat menjadi sinyal bahwa pasar masih menyimpan kekhawatiran terhadap kondisi eksternal, khususnya perkembangan geopolitik dan arah kebijakan moneter global.
"Meski demikian pelaku pasar harus mewaspadai kemungkinan sentimen pasar, seiring dengan tekanan yang dialami pada mata uang Rupiah," katanya.
Untuk perdagangan hari ini, Gunawan memproyeksikan IHSG bergerak dalam rentang 6.000 hingga 6.100. Sementara rupiah diperkirakan berada dalam kisaran 17.870 hingga 17.985 per dolar AS.
Menurutnya, belum terdapat agenda ekonomi domestik berskala besar yang secara khusus menjadi penggerak utama pasar pada perdagangan hari ini. Namun, risiko terbesar tetap berasal dari perkembangan geopolitik global.
"Pada dasarnya tidak ada agenda ekonomi besar yang akan menjadi sentimen pasar keuangan pada perdagangan hari ini. Namun kekuatiran terbesar masih datang dari kemungkinan memburuknya tensi geopolitik yang berpeluang menyulut ekspektasi kenaikan laju inflasi," ungkapnya.
Meningkatnya tensi geopolitik berpotensi mendorong harga minyak dan komoditas energi lainnya. Jika berlangsung dalam waktu lama, kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan inflasi global dan mempersempit ruang bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter.
Di sisi lain, emas masih menjadi aset yang mendapatkan perhatian investor di tengah tingginya ketidakpastian global. Harga emas dunia tercatat relatif stabil di area US$4.154 per troy ounce atau sekitar Rp2,4 juta per gram.
Dengan kondisi tersebut, pergerakan pasar keuangan domestik dalam waktu dekat diperkirakan akan sangat bergantung pada keseimbangan antara sentimen domestik dan perkembangan global.
Data ekonomi Indonesia yang membaik berpotensi menjadi penahan tekanan, tetapi penguatan dolar AS, tingginya yield US Treasury, kenaikan harga minyak serta eskalasi geopolitik tetap menjadi risiko yang perlu diwaspadai investor. (id09)


















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda