S. Mida Silaban Ajak Masyarakat Pahami Makna Lirik dan Hormati Pencipta LaguS. Mida Silaban Ajak Masyarakat Pahami Makna Lirik dan Hormati Pencipta Lagu

TOBA (Waspada.id): Kekayaan sastra dalam syair lagu Batak menjadi pembahasan menarik dalam sesi "Sastra Batak dalam Syair dan Lagu" pada rangkaian Balige Writers Festival (BWF) 2026 di Toba Art Space, Balige.
Pemateri S. Mida Silaban mengajak masyarakat, khususnya para penyanyi, untuk lebih memahami makna lirik lagu Batak agar nilai sastra dan pesan moral yang terkandung di dalamnya tetap terjaga.
Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa syair lagu Batak mengandung nilai sastra yang dapat dikelompokkan ke dalam tiga bentuk, yakni upama (perumpamaan), umpasa, dan martutur atau turiturian (bercerita).
"Syair lagu Batak bukan sekadar rangkaian kata yang indah, tetapi menyimpan pesan moral, filosofi hidup, dan kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi," ujarnya.
Ia menjelaskan, lagu yang menggunakan upama menyampaikan pesan melalui perumpamaan, sedangkan umpasa memadukan sampiran dan isi yang sarat makna. Sementara bentuk martutitutian menghadirkan kisah atau cerita melalui syair lagu.
Menurutnya, masih banyak lagu Batak yang dinyanyikan dengan pengucapan maupun penggalan kata yang kurang tepat sehingga mengubah makna yang ingin disampaikan penciptanya.

S. Mida Silaban membacakan kutipan dari karyanya saat menjadi pemateri dalam sesi Sastra Batak dalam Syair dan Lagu pada Balige Writers Festival 2026 di Toba Art Space, Balige. Waspada.id/Ramsiana Gultom
"Lagu yang salah pengucapan atau salah memenggal kata bisa kehilangan arti, bahkan nilai sastranya ikut hilang," katanya.
Sebagai contoh, ia mengulas lagu Anak Medan yang menurutnya sarat dengan simbol dan pesan sosial. Banyak istilah dalam lagu tersebut yang sering dinyanyikan, namun belum dipahami maknanya oleh masyarakat.
Ia juga mengingatkan agar setiap lagu dibawakan sesuai konteks acara.
Lagu yang menggambarkan kehidupan jalanan atau pergaulan, misalnya, kurang tepat dinyanyikan dalam prosesi adat seperti pemberian ulos kepada pengantin.
"Semua lagu itu baik, tetapi setiap lagu memiliki tempat yang tepat untuk dinyanyikan," ujarnya.
Selain itu, para penyanyi maupun masyarakat diajak membiasakan menyebut judul lagu beserta nama penciptanya sebelum menyanyikan sebuah lagu sebagai bentuk penghargaan terhadap karya para seniman.
Menutup pemaparannya, ia mengapresiasi konsistensi Balige Writers Festival dalam menghadirkan ruang belajar sastra dan budaya bagi masyarakat.
"Kegiatan seperti ini membutuhkan militansi dan konsistensi. Manfaatnya sangat besar untuk membantu generasi muda mengenal jati diri melalui sastra, musik, dan berbagai kearifan lokal," tutupnya. (Id52)































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda