Saat Listrik Menjadi Sahabat Petani Buah Naga di Tanah Karo


KARO (Waspada.id): Cahaya lampu yang menerangi kebun pada malam hari menjadi bagian penting bagi Adi Wijaya Sitepu dalam mengembangkan usaha pertanian buah naga di Kabupaten Karo Sumatera Utara (Sumut). Dengan memanfaatkan listrik PLN untuk merangsang pembungaan, petani ini mampu mengatur siklus produksi hingga tiga kali panen dalam setahun.
Adi mengembangkan kebun buah naga seluas lebih dari satu hektare di Desa Payung, Kecamatan Payung, Kabupaten Karo. Usaha yang dirintis sekitar tiga tahun lalu itu kini memiliki sekitar 1.500 hingga 1.600 pohon produktif dengan produksi panen dalam satu periode atau empat bulan sekali sekitar 15 ton.

Warga Desa Kutambaru, Kecamatan Tiganderket, Kabupaten Karo ini mengaku memilih buah naga setelah mempertimbangkan prospek dan perhitungan ekonomi. Salah satu alasannya karena tanaman tersebut relatif lebih cepat menghasilkan dibandingkan sejumlah komoditas pertanian lainnya.
Ia mencontohkan tanaman salak yang membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat tahun untuk mulai menghasilkan buah. Sementara buah naga sudah dapat berbuah sekitar satu tahun setelah ditanam.
“Dengan pertimbangan itu, saya memilih mengembangkan buah naga agar lebih cepat mendapatkan hasil, meskipun modal awalnya cukup besar,” ujarnya kepada Waspada.id, Rabu (4/11).
Untuk membangun kebun buah naga seluas satu hektare lebih, Adi menginvestasikan modal sekitar Rp300 juta, khusus untuk tanaman dan pengembangannya, di luar pembelian lahan. Ia memperkirakan modal tersebut dapat kembali dalam waktu sekitar dua tahun setelah tanaman mulai menghasilkan secara optimal.
Salah satu strategi yang diterapkannya untuk meningkatkan produktivitas adalah memanfaatkan lampu listrik PLN guna merangsang keluarnya bunga. Setiap pohon dipasangi satu lampu berdaya sembilan watt. Dengan jumlah tanaman sekitar 1.500 hingga 1.600 pohon, kebutuhan lampu di kebunnya mencapai jumlah yang sama.
“Penyinaran itu dilakukan selama kurang lebih satu bulan dengan durasi rata-rata enam hingga delapan jam setiap malam. Lampu ini sangat wajib untuk merangsang pembungaan dan tidak lagi dinyalakan setelah bunga muncul,” ucap bapak dua orang anak ini.

Tanaman buah naga setelah tumbuh bunga.
Melalui metode tersebut, Adi Sitepu menyebut tanaman buah naganya dapat menghasilkan sekitar tiga kali panen dalam setahun, dengan siklus produksi kurang lebih empat bulan sekali. Untuk memenuhi kebutuhan penyinaran tersebut, ia harus mengeluarkan biaya listrik sekitar Rp6 juta per bulan. Meski membutuhkan biaya operasional, penggunaan listrik PLN lebih praktis dibandingkan genset.
“Kalau menggunakan genset, perawatan mesinnya tinggi, minyak juga mahal dan terkadang sulit didapat. Sementara listrik PLN lebih terjamin ketersediaannya,” ungkapnya.
Adi mengungkapkan, ketika pertama kali membeli lahan, jaringan listrik belum menjangkau hingga ke kebunnya. Sebelumnya, sejumlah petani di kawasan tersebut masih mengandalkan genset untuk memenuhi kebutuhan penyinaran tanaman.
“Sekitar tiga tahun ini, jaringan listrik telah tersedia di sekitar kawasan pertanian dengan dukungan tiga unit trafo. Jadi sudah sangat memudahkan petani menjalankan usaha tanpa harus terus bergantung pada genset,” ungkapnya.
Dari sisi pemasaran, Adi melihat peluang usaha buah naga masih terbuka. Ia menyebut perluasan pasar, termasuk permintaan untuk kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG), turut mendorong harga jual buah naga.
“Kemarin baru jual dihargai Rp11.500 per kilogram,” ucapnya.
Meski demikian, diungkapkan Adi Sitepu, pengembangan usaha buah naga masih menghadapi tantangan, terutama terkait kestabilan tegangan listrik. Ia mengaku tegangan listrik di kawasan kebunnya terkadang turun ketika seluruh lampu dinyalakan secara bersamaan.
Menurutnya, tegangan yang seharusnya berada di kisaran 220 volt terkadang turun hingga sekitar 120–160 volt. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan kapasitas trafo yang belum seimbang dengan kebutuhan listrik pelanggan. Karena itu, ia berharap PLN melakukan evaluasi jaringan dan mempertimbangkan peningkatan kapasitas trafo agar pasokan listrik lebih stabil.
“Kalau semua lampu dipasang, terkadang tegangannya turun. Harapan saya ada penambahan atau peningkatan kapasitas trafo supaya kebutuhan listrik petani bisa terpenuhi dengan baik,” katanya.

Adi Wijaya Sitepu saat memantau tanaman buah naganya yang mendapatkan penyinaran lampu.
Dalam menjalankan usaha tersebut, Adi dibantu seorang pekerja. Ia berharap pemanfaatan listrik untuk pertanian semakin berkembang, sehingga dapat membantu petani meningkatkan produktivitas dan pendapatan. “Listrik bukan hanya kebutuhan rumah tangga, tetapi juga menjadi energi produktif yang membuka peluang pengembangan usaha pertanian di Kabupaten Karo ini,” tuturnya.
Tanaman Tumpang Sari
Senada dikatakan petani buah naga, di Desa Kutambaru Kecamatan Tiganderket Kabupaten Karo, Bena Ukur Tarigan, bahwa
tanaman buah naga memerlukan perhatian khusus ketika memasuki masa berbunga. Kondisi cuaca, terutama hujan lebat, dapat memengaruhi bunga yang sedang berkembang dan menyebabkan bunga rontok.
“Karena itu, lampu dinyalakan pada periode tertentu untuk memberikan pencahayaan tambahan,” ujar Bena Ukur yang mengembangkan buah naga menjadi tanaman sela atau tumpang sari pada pohon kurma yang ditanamnya seluas 2 hektare.
“Buah naga ini saya tekuni sejak 2010 dan dibudayakan secara komersil ditahun 2021.
Buah naga ditanam disela-sela pohon kurma ini dipilih agar lahan tidak dibiarkan kosong sambil menunggu tanaman kurma tumbuh dan berkembang,” ucapnya lagi.
Menurut pensiunan Kepala SMP Negeri 1 Tiganderket ini, penggunaan lampu tidak berlangsung sepanjang tahun karena pencahayaan tambahan biasanya dilakukan sekitar 25 hari dalam satu periode pembungaan. Teknik pencahayaan tersebut dipelajarinya secara mandiri melalui buku dan informasi daring. Ia mencoba memahami kebutuhan tanaman sekaligus menyesuaikan penerapannya dengan kondisi kebun.
Perspektif Pertanian
Pengamat Pertanian Sumatera Utara, Prof. Rauf, menjelaskan, penggunaan penerangan listrik pada malam hari dalam budidaya buah naga memiliki tujuan tertentu yang berkaitan dengan karakter bunga buah naga yang mekar maksimal pada malam hari.
Menurutnya, pemanfaatan listrik dalam pertanian modern juga semakin penting, khususnya pada sistem budidaya rumah kaca maupun rumah kasa. Teknologi tersebut dapat mendukung pengoperasian sistem irigasi, hujan buatan, pengembunan, serta menjaga kelembapan udara dan media tumbuh tanaman.
Namun, Prof. Rauf menegaskan, penggunaan lampu listrik untuk penerangan kebun buah naga belum dapat dikategorikan sebagai program Electrifying Agriculture (EA) yang dikembangkan PT PLN. Program EA, merupakan inovasi PLN yang mengajak pelaku sektor pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan beralih menggunakan peralatan serta mesin berbasis listrik. Pada dasarnya, program tersebut mendorong perubahan penggunaan teknik manual atau mesin konvensional menjadi teknik yang memanfaatkan tenaga listrik.
Prof Rauf menilai, peluang pengembangan teknologi pertanian berbasis listrik di pedesaan masih cukup besar. Beberapa alternatif energi yang dapat dimanfaatkan antara lain tenaga surya untuk penerangan, pembangkit listrik tenaga mikrohidro dari aliran sungai, biogas yang bersumber dari limbah pertanian dan peternakan, serta kincir angin di kawasan pesisir. Pemanfaatan sumber energi itu dapat menjadi alternatif bagi petani untuk mendukung kegiatan produksi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan energi konvensional.
“Pemanfaatan listrik di sektor pertanian tidak hanya berkaitan dengan penerangan, tetapi juga membuka peluang penerapan teknologi yang lebih luas untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas usaha tani,” tutur Prof Rauf.
PLN Perkuat Peran
Direktur Utama PT PLN, Suroso Isnandar, menegaskan peran PLN dalam mendorong kemandirian bangsa dan pemerataan pembangunan melalui penyediaan energi yang berkeadilan.
Menurutnya, PLN siap mendukung kebijakan pemerintah untuk memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional. Salah satu program prioritas yang harus dilaksanakan adalah pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp).
“Arahan Bapak Presiden Prabowo Subianto mengenai ketahanan energi dan percepatan energi bersih, transisi energi adalah tanggung jawab kita. Program 100 gigawatt peak (GWp) pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) harus kita laksanakan,” terang Suroso.
Untuk mewujudkan kedaulatan dan swasembada energi hijau, PLN akan menerjemahkan arahan pemerintah melalui Danantara Indonesia dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) ke dalam program yang terencana, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Seluruh pekerjaan yang ada di Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) harus kita tuntaskan. Bersama dengan Kementerian ESDM dan Danantara Indonesia, PLN harus menerjemahkan arah tersebut ke dalam perencanaan, investasi, dan pelaksanaan yang dapat dipertanggungjawabkan,” tambah Suroso.
Selain mendorong transisi energi, PLN menekankan pentingnya menjaga keandalan pasokan listrik. Gangguan listrik dapat menghambat berbagai aktivitas masyarakat, mulai dari kegiatan usaha pedagang dan pelayanan rumah sakit hingga proses belajar serta produksi industri. Karena itu, pemulihan pasokan menjadi bagian penting dari pelayanan kepada pelanggan.
“Ketika keluhan atau gangguan datang, harus segera ditangani, meskipun kita sangat paham tantangan di lapangan sungguh berat. Ada petugas yang harus menyebrang untuk mencapai lokasi tugas, menghadapi medan sulit, cuaca buruk, keterbatasan peralatan atau perjalanan panjang ketika gangguan listrik terjadi,” jelasnya.
Suroso menegaskan, berbagai tantangan tersebut tidak boleh menghambat upaya PLN dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Pelanggan membutuhkan kepastian mengenai penanganan gangguan dan waktu penyalaan kembali listrik agar aktivitas dapat segera berjalan normal.
“Namun PLN harus langsung menjawab kegelisahan masyarakat yang bertanya kapan listrik menyala. Saya tidak ingin perjuangan ini hanya menjadi cerita di Hari Listrik Nasional, namun menjadi perubahan nyata dalam merespons kebutuhan masyarakat,” ujar Suroso.
Suroso mengatakan, listrik kini tidak hanya menjadi komoditas, tetapi juga penopang kehidupan sosial dan penggerak perekonomian. Melalui semangat PLN Empower All, perusahaan berupaya menghadirkan energi yang andal dan ramah lingkungan agar manfaatnya dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
“Hasil kerja PLN terlihat pada lampu-lampu yang terus menemani anak-anak masa depan bangsa ini belajar, usaha kecil yang terus berputar melayani pembeli, industri yang berkembang pesat, ekonomi yang tumbuh baik setiap rumah yang selalu tenang dengan listrik yang terus menyala. Di sanalah pengabdian menemukan artinya,” tutup Suroso.
Sri Wahyuni Naibaho
.
Berita Terkait











































































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda