Saat RSUD TAS dan Dinkes Pidie Meracik Keteladanan

Aroma rempah Kuah Beulangong memenuhi udara. Di satu sisi, seorang direktur rumah sakit menikmati hidangan sederhana bersama sejawat. Di sisi lain, seorang kepala dinas kesehatan masih sibuk mengaduk kawah besar agar masakan matang sempurna.
Pemandangan antara Direktur RSUD Tgk. Abdullah Syafi'i (TAS) Beureunuen, dr. Kamaruzzaman, M.Kes, dan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pidie, dr. Muhammad Dwi Wijaya, dalam Family Gathering Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Pidie itu seolah mengajarkan bahwa kemuliaan seorang pemimpin bukan diukur dari seberapa banyak ia dilayani, melainkan dari seberapa tulus ia ikut melayani.
Di tengah derasnya arus informasi dan tingginya harapan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan, publik tidak lagi hanya menilai seorang pemimpin dari banyaknya program yang diluncurkan atau kebijakan yang ditandatangani. Ada nilai yang jauh lebih abadi, yakni keteladanan yang lahir dari tindakan-tindakan sederhana.
Nilai itu tampak dalam Family Gathering IDI Cabang Pidie yang digelar dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah. Di tengah suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan, sekat-sekat jabatan seakan luluh. Para dokter, keluarga besar IDI, dan para pemimpin sektor kesehatan duduk dalam satu lingkaran kebersamaan.
Di tengah suasana itu, Direktur RSUD Tgk. Abdullah Syafi'i (TAS) Beureunuen, dr. Kamaruzzaman, M.Kes, tampak menikmati nasi Kuah Beulangong bersama para sejawat. Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pidie, dr. Muhammad Dwi Wijaya, tetap berada di depan belanga besar, mengaduk masakan khas Aceh itu hingga siap disajikan kepada seluruh peserta.
Pemandangan itu mungkin sederhana, tetapi menyimpan makna yang mendalam. Tanpa pidato dan tanpa seremoni, keduanya memperlihatkan bahwa kepemimpinan sejati tidak dibangun oleh jarak, melainkan oleh kedekatan; tidak ditinggikan oleh jabatan, melainkan dimuliakan oleh keteladanan.
Di balik kesederhanaan yang diperlihatkan pada hari itu, keduanya merupakan figur yang memikul tanggung jawab besar dalam pembangunan kesehatan Kabupaten Pidie. dr. Kamaruzzaman, M.Kes dipercaya memimpin RSUD Tgk. Abdullah Syafi'i (TAS) Beureunuen sebagai rumah sakit rujukan milik Pemerintah Kabupaten Pidie.
Di bawah kepemimpinannya, berbagai upaya peningkatan mutu pelayanan, penguatan disiplin aparatur, dan inovasi layanan terus dilakukan demi menghadirkan pelayanan kesehatan yang semakin profesional dan humanis.
Sementara dr. Muhammad Dwi Wijaya mengemban amanah sebagai Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pidie. Bersama jajarannya, ia mengoordinasikan berbagai program kesehatan masyarakat, pembinaan puskesmas, penguatan pelayanan primer, serta berbagai langkah strategis untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Dua institusi yang mereka pimpin memiliki tugas berbeda, tetapi bertemu pada satu tujuan yang sama, menghadirkan pelayanan kesehatan terbaik bagi masyarakat Pidie.
Tidak mengherankan apabila kedua sosok ini juga kerap menjadi rujukan media dalam berbagai isu kesehatan daerah. Saat masyarakat membutuhkan penjelasan mengenai pelayanan rumah sakit, program kesehatan, maupun kebijakan pemerintah di bidang kesehatan, nama mereka hampir selalu hadir sebagai narasumber. Namun, sorotan media dan besarnya tanggung jawab itu tidak mengubah sikap mereka untuk tetap membumi.
Dalam Family Gathering IDI beberapa waktu lalu, tidak tampak jarak antara pejabat dan anggota organisasi. Yang terlihat hanyalah dua dokter yang menikmati kebersamaan bersama rekan-rekan sejawat. Kesederhanaan seperti inilah yang sesungguhnya menjadi bahasa paling jujur dalam kepemimpinan.
Dalam budaya Aceh, Kuah Beulangong bukan sekadar hidangan tradisional. Ia adalah lambang gotong royong. Memasaknya membutuhkan banyak tangan, kesabaran, dan keikhlasan. Ada yang memotong daging, menghaluskan bumbu, menjaga api, hingga bergantian mengaduk kuah agar cita rasanya sempurna.
Tidak ada satu orang pun yang dapat menyelesaikannya sendiri.
Bukankah pelayanan kesehatan juga dibangun dengan cara yang sama?
Rumah sakit tidak akan mampu memberikan pelayanan terbaik hanya karena seorang direktur yang hebat. Dinas kesehatan tidak akan berhasil mewujudkan programnya hanya karena seorang kepala dinas yang cakap.
Pelayanan yang bermutu lahir dari kerja kolektif dokter, perawat, bidan, apoteker, analis laboratorium, tenaga administrasi, hingga petugas pendukung yang saling melengkapi.
Di sinilah makna kekompakan menemukan tempatnya.
Family Gathering IDI Cabang Pidie bukan sekadar agenda silaturahmi. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang untuk merawat persaudaraan, memperkuat komunikasi, dan menumbuhkan rasa saling percaya di antara para dokter.
Sebab, pelayanan kesehatan yang baik tidak hanya dibangun oleh kecerdasan, tetapi juga oleh hubungan antarmanusia yang sehat.
Momentum Tahun Baru Islam pun memberi pesan yang lebih luas. Hijrah bukan sekadar berpindah dari satu tahun ke tahun berikutnya, tetapi berpindah menuju pribadi yang lebih baik, organisasi yang lebih kuat, dan pelayanan yang lebih bermartabat.
Semangat hijrah mengajarkan pentingnya memperbarui niat, memperkuat integritas, dan mengedepankan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi.
Masyarakat tentu berharap kebersamaan yang terlihat dalam acara tersebut tidak berhenti sebagai dokumentasi yang indah.
Nilai-nilai yang lahir dari momen itu semestinya terus hidup dalam setiap ruang pelayanan, setiap ruang koordinasi, dan setiap keputusan yang menyentuh kehidupan masyarakat.
Sebab, pelayanan kesehatan yang berkualitas bukan hanya ditentukan oleh kecanggihan alat medis atau megahnya bangunan rumah sakit. Pelayanan terbaik lahir dari manusia-manusia yang saling percaya, saling menghormati, dan bekerja dengan hati.
Lihatlah monitor jantung di ruang perawatan. Garis yang terus bergerak adalah tanda kehidupan, sedangkan garis yang datar justru pertanda berakhirnya harapan. Begitu pula sebuah organisasi.
Selama masih ada komunikasi, kebersamaan, dan semangat saling menguatkan, denyut pengabdian akan terus hidup.
Dan selama para pemimpinnya tetap membumi, kepercayaan akan terus bersemi; selama keteladanannya tetap menyala, pengabdian akan selalu menemukan maknanya.
Barangkali, itulah makna yang paling berharga dari semangkuk Kuah Beulangong pada hari itu. Di balik kepulan asap dan harum rempah, tersaji pelajaran bahwa jabatan hanyalah amanah yang singgah sementara, sedangkan keteladanan adalah warisan yang akan tinggal lebih lama.
Sebab pada akhirnya, masyarakat tidak hanya mengingat siapa yang memimpin, tetapi juga bagaimana seorang pemimpin memperlakukan sesamanya.
Muhammad Riza



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda