Safrizal dan Ayahwa: Pertemuan yang Mengubah TakdirSafrizal dan Ayahwa: Pertemuan yang Mengubah Takdir

SELASA (25/8/2026) pukul 12:30, Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil (Ayahwa), bersama rombongan melangkah pelan keluar dari Masjid Bujang Salim, Krueng Geukueh, Kecamatan Dewantara.
Tidak jauh dari pintu gerbang masjid, dia dicegat oleh seorang pria bertongkat, yang belakangan diketahui bernama Safrizal, 33, warga Keude Krueng Geukueh. Kondisi pria ini sedang tidak baik-baik saja, kaki kanannya telah diamputasi akibat kecelakaan lalu lintas dengan mobil dum truk. Saat peristiwa itu terjadi, Safrizal tercatat sebagai salah seorang siswa SMA kecamatan itu.
Kecelakaan tersebut, kata Safrizal kepada Ayahwa, telah meninggalkan cacat yang kemudian mengubah seluruh jalan hidupnya. “Pak bupati, saya butuh bantuan kaki palsu,” kata Safrizal memohon kepada orang nomor satu di Bumi Malikussaleh itu.
Setelah mendengar permohonan tersebut, tanpa bayak cerita, tanpa birokrasi berbelit, Ayahwa segera meminta Camat Dewantara, Munawir, untuk mengambil Safrizal. Instruksinya jelas: segera proses bantuan kaki palsu dan becak motor melalui Dinas Sosial Aceh Utara.
“Mana Pak Camat.” tanya Ayahwa. Saat itu, Camat Dewantara, Munawir, sedang sibuk mengurus kegiatan maulid di masjid tersebut. Karena itu, Plt. Asisten III Setdakab Aceh Utara, Fauzi, menyahuti. “Biar saya saja yang mencatat Pak Bupati, nanti catatan ini saya serahkan kepada camat.” Lalu Ayahwa mengatakan, “Tolong proses secepatnya ke Dinas Sosial.”
Melihat respon yang begitu cepat, Safrizal mengaku kepada Waspada.id, momen itu bukan sekadar bantuan fisik. Ia merasakan kehangatan seorang pemimpin yang hadir dengan hati. “Ayahwa sangat layak menjadi pemimpin. Saya terharu,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Kaki palsu bukan hanya alat untuk berjalan, melainkan simbol kembalinya martabat. Becak motor bukan sekadar kendaraan, melainkan pintu menuju kemandirian ekonomi. Di balik benda-benda itu, ada pesan kemanusiaan: bahwa seorang pemimpin sejati hadir untuk mengangkat rakyat dari keterpurukan, bukan sekadar menandatangani berkas.
Kisah Safrizal adalah cermin kecil dari harapan besar. Dari luka yang memaksa seorang remaja kehilangan kaki, hingga senyum bahagia saat menerima bantuan yang mengubah hidup. Ayahwa menyalakan lentera itu: bahwa kepemimpinan bukan hanya soal jabatan, melainkan keberanian untuk melihat rakyat dengan mata hati. Bagi Sagrizal, petemuannya dengan Ayahwa di Masjid Bujang Salim adalah pertemuan yang mengubah takdir.
Maimun Asnawi, S.HI.,M.Kom.I



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda