Breaking News
Memuat breaking news...

SALSA Hadir di Tanjung Morawa, Jadi Wadah Menjaga Kebugaran dan Kebahagiaan Muslimah Lansia

Redaksi
Redaksi
Minggu, 9 Agustus 2026 - 10.57 AM WIB
SALSA Hadir di Tanjung Morawa, Jadi Wadah Menjaga Kebugaran dan Kebahagiaan Muslimah Lansia
Para Lansia saat mengikuti program pendampingan . Waspada.id/ist
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

DELI SERDANG (Waspada id): Menjadi lanjut usia bukan berarti berhenti aktif dan berkarya. Semangat itulah yang kini dihadirkan melalui Sekolah Lansia Salimah (SALSA) di Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang.

Program pendampingan bagi muslimah lanjut usia ini resmi diluncurkan pada Sabtu, 8 Agustus 2026, di Kantor Pimpinan Cabang Salimah Tanjung Morawa. Program tersebut digagas oleh Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (FK UMSU) bersama Pimpinan Cabang Salimah Tanjung Morawa.

SALSA hadir bukan sekadar sebagai

tempat berkumpul para lansia. Program ini dirancang menjadi wadah pendampingan yang menyentuh berbagai aspek kehidupan lansia, mulai dari aktivitas fisik, stimulasi kognitif, interaksi sosial, hingga pembinaan spiritual.

Kegiatan yang dimulai sejak pukul 08.00 WIB hingga siang hari itu diikuti sekitar 60 peserta. Terdiri atas lansia peserta SALSA, lima kader Salimah yang telah mendapatkan pelatihan, jajaran pengurus cabang, mahasiswa Fakultas Kedokteran UMSU, serta sejumlah tamu undangan.

Ketua Tim Pelaksana PKM, dr. Des Suryani, M.Biomed, mengatakan SALSA dirancang dengan pendekatan yang menyeluruh agar para lansia tetap sehat, aktif, dan memiliki kehidupan sosial serta spiritual yang baik.

“Kami ingin lansia di Tanjung Morawa tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga tetap aktif secara sosial dan tenang secara spiritual. Itu sebabnya SALSA kami rancang menyentuh empat sisi sekaligus: fisik, kognitif, sosial, dan spiritual,” ujarnya.

Dia menjelaskan, pembentukan SALSA berawal dari kondisi yang ditemukan Tim PKM di lapangan. Jumlah lansia di wilayah Cabang Salimah Tanjung Morawa cukup signifikan, namun belum seluruhnya mendapatkan pendampingan yang optimal.

Kesibukan anggota keluarga menjadi salah satu tantangan. Waktu untuk mendampingi orang tua semakin terbatas, sementara para lansia tetap membutuhkan perhatian, aktivitas, interaksi sosial, serta pemantauan kesehatan secara berkala.

Kondisi tersebut dapat membuat sebagian lansia lebih rentan mengalami kesepian, penurunan kebugaran fisik, hingga kurang terpantau kondisi kesehatannya.

Di sisi lain, Salimah memiliki kader yang cukup potensial untuk menjadi pendamping lansia di tengah masyarakat. Namun, potensi tersebut perlu diperkuat dengan pengetahuan, keterampilan, serta kurikulum pendampingan yang terarah.

Karena itu, Tim PKM FK UMSU tidak hanya meluncurkan program SALSA, tetapi juga memberikan pembekalan kepada kader agar mereka memiliki kemampuan untuk mendampingi para lansia secara lebih terstruktur.

Des Suryani juga menjelaskan SALSA mengusung pendekatan empat pilar utama, yakni fisik, kognitif, sosial, dan spiritual.

Pada aspek fisik, para peserta diarahkan untuk tetap aktif melalui kegiatan yang sesuai dengan kondisi dan kemampuan lansia. Aktivitas tersebut diharapkan dapat membantu mempertahankan kebugaran serta mendukung kemandirian dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Sementara itu, stimulasi kognitif diberikan untuk membantu menjaga kemampuan berpikir dan daya ingat. Aktivitas sosial menjadi bagian penting lainnya karena interaksi dengan sesama dapat menciptakan rasa memiliki, mengurangi kesepian, sekaligus membangun suasana kebersamaan.

Tidak kalah penting, SALSA juga memberikan ruang bagi pembinaan spiritual. Dengan demikian, pendampingan tidak hanya berorientasi pada kesehatan tubuh, tetapi juga pada ketenangan batin dan kebahagiaan para lansia.

Kehadiran SALSA diharapkan menjadi langkah awal terbentuknya komunitas lansia yang sehat, aktif, mandiri, dan bahagia di Tanjung Morawa.

Program ini sekaligus mempertemukan potensi perguruan tinggi, organisasi masyarakat, kader, mahasiswa, dan keluarga dalam menciptakan lingkungan yang lebih ramah bagi lansia.

Dengan semangat kebersamaan tersebut, masa lanjut usia diharapkan tidak dipandang sebagai fase untuk menarik diri dari kehidupan sosial, melainkan sebagai tahap kehidupan yang tetap dapat dijalani dengan sehat, produktif, bermakna, dan penuh kebahagiaan. (Id13)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement