Saluran Irigasi di Deli Serdang Selesai Lebih Cepat, Ratusan Petani Bisa Bernapas Lega


TANJUNG MORAWA (Waspada.id): Pemerintah Kabupaten Deli Serdang, menyelesaikan peningkatan saluran sekunder irigasi sawah di Desa Lengau Seprang, Kecamatan Tanjung Morawa. Proyek tersebut dianggarkan senilai Rp198.653.000 yang bersumber dari tambahan transfer ke daerah (TKD) 2026.
TKD tambahan adalah alokasi dana yang disalurkan pemerintah ke APBD. Tujuannya memperkuat fiskal daerah dalam mempercepat rehabilitasi, rekonstruksi dan pemulihan wilayah terdampak bencana, serta kebutuhan mendesak lainnya.
Progres penyelesaian pekerjaan irigasi ini cepat, rampung lebih awal dari jadwal yang ditetapkan yakni November 2026. Saluran beton setinggi 50 sentimeter, lebar 60 sentimeter, dan sepanjang 214 meter tersebut kini melayani sekitar 170 hektare lahan sawah yang dikelola 130 petani.
Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera terus mempercepat pemulihan lahan pertanian yang rusak akibat banjir dan longsor.
Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, menegaskan bahwa rehabilitasi sawah tidak hanya berfokus pada pemulihan fisik lahan. Rehabilitasi juga mencakup pada penguatan aspek legalitas melalui pemutakhiran data pertanahan.
Menurut Tito, langkah ini penting agar lahan yang kembali produktif memiliki kepastian hukum dan dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.
“Karena BPN ini di bawah Menteri ATR/BPN (Nusron Wahid), mungkin perlu ada instruksi kepada jajaran agar proaktif bekerja sama dengan pemda untuk menyelesaikan persoalan tanah, batas lahan, sekaligus membantu sertifikat yang hilang,” ujar Tito.
Pemerintah daerah diminta aktif berkoordinasi dengan kantor wilayah ATR/BPN setempat dalam pendataan ulang lahan warga. Apabila terdapat kendala, pemerintah pusat akan membantu agar proses pemulihan dapat berjalan lebih cepat dan tepat.
Peningkatan saluran irigasi di Lengau Seprang menjadi salah satu upaya untuk memperlancar aliran air, mengurangi risiko genangan, dan menjaga produktivitas pertanian. Kepala Desa Lengau Seprang, Sulaiman, menyambut gembira selesainya pembangunan tersebut.
“Dulu saat banjir akhir tahun 2025, air setinggi 70 sentimeter menggenang selama tiga hari. Padi yang sedang berbuah dan menguning banyak rusak. Kini air mengalir lancar, banjir lebih cepat surut. Petani tidak lagi cemas menanam,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Rabu (21/10/2026).

Sulaiman, Kepala Desa Lengau Seprang, saat diwawancarai di Desa Lengau Seprang, Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Rabu (21/10/2026). (Dok. Tim Media Satgas PRR).
Sulaiman menjelaskan, selain curah hujan yang tinggi, penyebab utama banjir di kawasan itu adalah saluran irigasi yang tidak berfungsi normal. Sebelum diperbaiki seperti sekarang, irigasi ini hanya berupa parit tanah sempit dan dangkal dipenuhi sampah dan sedimentasi.
“Dulu salurannya kecil dan tidak terawat, sehingga air tidak cepat mengalir ke sungai. Sekarang sudah dibeton dan diperlebar, debit air pun bisa berjalan lebih lancar menuju Sungai Batugingging,” jelasnya.
Ia berharap masyarakat ikut menjaga bangunan irigasi yang baru selesai agar tetap berfungsi maksimal. “Harapan kami, titik-titik saluran irigasi lainnya yang belum dibangun juga dapat menyusul. Semoga permohonan kami dapat didengar pemerintah,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi (SDABMBK) Kabupaten Deli Serdang, Suparno, menjelaskan proyek tersebut bertujuan memulihkan fungsi irigasi yang sempat jebol saat banjir pada akhir 2025. Dengan saluran yang lebih kokoh dan berfungsi baik ini, lahan pertanian diharapkan tetap produktif dan petani terhindar dari kerugian akibat gagal panen.
Rehabilitasi irigasi ini merupakan bagian dari upaya Satgas PRR Pascabencana Sumatera memulihkan lahan sawah yang rusak di Sumatera Utara. Hingga saat ini, 7.187 hektare dari target 7.336 hektare sawah rusak di provinsi tersebut dilaporkan telah direkonstruksi dan kembali produktif.
Dampak Ekonomi dan Strategi Pemulihan
Bencana di Sumatera berdampak pada kegiatan produksi, distribusi, dan perdagangan serta merusak aset ekonomi masyarakat dan fasilitas pendukung usaha, termasuk lahan pertanian. Kerusakan sarana produksi menyebabkan sebagian kegiatan usaha terhenti sementara, menurunkan pendapatan, dan mengganggu mata pencaharian masyarakat.
Di Sumatera Utara, besaran kerusakan dan kerugian pascabencana diperkirakan mencapai Rp20,873 triliun. Sementara itu, kebutuhan rehabilitasi berdasarkan Kajian Kebutuhan Pascabencana (Jitupasna) per 30 Januari 2026 diperkirakan sebesar Rp30,562 triliun.
Kerusakan infrastruktur ekonomi, seperti jalan penghubung kawasan produksi, pelabuhan, pasar rakyat, dan fasilitas logistik, turut mengganggu arus distribusi barang dan jasa serta meningkatkan biaya transportasi. Pada sektor pertanian, perkebunan, perikanan, industri pengolahan, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), kerusakan sarana produksi menyebabkan penurunan hasil dan kehilangan pendapatan.
Data Kerusakan dan Capaian Rehabilitasi Sawah
Berdasarkan laporan harian Satgas PRR yang dirilis Kamis (22/10/2026), kerusakan sawah akibat bencana di Sumatera pada akhir 2025 tercatat tersebar di 15 kabupaten/kota. Total luas sawah terdampak mencapai 31.128 hektare, terdiri atas 22.274 hektare rusak ringan, 4.500 hektare rusak sedang, dan 4.354 hektare rusak berat.
Khusus di Kabupaten Deli Serdang, tercatat 6.987 hektare sawah mengalami kerusakan ringan. Satgas PRR terus mendorong revitalisasi lahan sawah dan perbaikan saluran irigasi agar lahan terdampak dapat kembali produktif.
Rencana Induk (Renduk) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera, menempatkan pemulihan fungsi layanan dasar dan produktivitas ekonomi masyarakat sebagai tujuan utama. Pembangunan fisik diarahkan pada penerapan prinsip membangun kembali dengan kualitas lebih baik (Build Back Better), sehingga infrastruktur dan fasilitas publik lebih tangguh menghadapi risiko bencana di masa depan.
Di sektor pangan dan pertanian, strategi rehabilitasi mencakup perbaikan lahan sawah dan irigasi, penyediaan benih dan bibit, serta pemulihan sarana dan prasarana pertanian. Pemerintah juga melakukan rehabilitasi fasilitas pangan dan pertanian yang terdampak, memberikan dukungan pakan dan kesehatan hewan, mendampingi kelompok tani mempercepat musim tanam, melibatkan petani dalam skema padat karya, serta mendukung asuransi pertanian.
Untuk tahap rekonstruksi, strategi diarahkan pada penerapan pertanian konservasi dan cerdas iklim, diversifikasi komoditas, penataan kawasan pertanian berbasis risiko, penguatan kelembagaan ekonomi petani dan layanan penyuluhan, serta peningkatan akses pembiayaan dan pasar.
Menjaga Produktivitas dan Ketahanan Pangan
Rampungnya saluran irigasi sekunder di Lengau Seprang ini, diharapkan memberikan manfaat langsung bagi sekitar 130 petani yang mengelola 170 hektare sawah. Saluran beton yang lebih kokoh dan kapasitas aliran yang lebih baik diharapkan mempercepat pembuangan air ketika hujan deras sekaligus mendukung kelancaran pengairan lahan.
Pembangunan ini menjadi salah satu langkah pemulihan ekonomi masyarakat pascabencana. Dengan lahan yang kembali produktif dan infrastruktur irigasi yang lebih baik, petani diharapkan dapat menjalankan musim tanam dengan lebih aman serta mengurangi risiko kerugian akibat banjir. (*)
Berita Terkait































































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda