Breaking News
Memuat breaking news...

Satgas PRR, Imran: Dari Pasai Lahir Lambang Garuda dan Bahasa Indonesia

Redaksi
Redaksi
Selasa, 8 September 2026 - 3.36 PM WIB
Satgas PRR, Imran: Dari Pasai Lahir Lambang Garuda dan Bahasa Indonesia
Dr. Drs. Imran, M.Si., M.A.Cd., perwakilan Tim Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana dari Kementerian Dalam Negeri. Waspada.id/Ist
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

“Jika Garuda adalah tubuh bangsa, maka Pasai adalah rahim yang melahirkannya.”

Di bawah langit Lhoksukon yang temaram, Senin malam (7/9/2026), gema sejarah berbaur dengan doa dan harapan. Aceh Utara merayakan milad ke-800 tahun—usia sebuah zaman yang disebut purbakala, telah melintasi perjalanan panjang sebuah tanah yang pernah menjadi mercusuar peradaban: Samudera Pasai.

Dalam perayaan itu, hadir Dr. Drs. Imran, M.Si., M.A.Cd., perwakilan Tim Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana dari Kementerian Dalam Negeri. Atas nama Menteri Dalam Negeri, ia menyampaikan sambutan penuh makna: sebuah pesan tentang kebangkitan, tentang bagaimana luka bencana harus segera dijahit dengan semangat baru.

Para tamu undangan duduk di tribun utama mendengarkan sambutan yang disampaikan Dr. Drs. Imran, M.Si., M.A.Cd., perwakilan Tim Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana dari Kementerian Dalam Negeri. Waspada.id/Maimun Asnawi

Dari Pasai ke Garuda

Imran mengingatkan hadirin bahwa Samudera Pasai bukan sekadar catatan sejarah, melainkan akar dari identitas bangsa.

“Coba lihat bendera Samudera Pasai. Di sana sudah tergambar lambang Garuda. Dari sinilah lahir kerajaan-kerajaan di Nusantara, dari Kerajaan Cirebon hingga Banten. Dari sini pula Fatahillah membangun Jayakarta,” ujarnya, yang disambut gemuruh tepuk tangan para hadirin.

Di hadapan ribuan masyarakat dan tamu undangan pada malam itu, Imran kembali menyebutkan, Pasai bukan hanya pelabuhan lada dan sutra, tetapi juga rahim yang melahirkan simbol negara. Garuda yang kini mengepak di bendera Merah Putih, pernah bersemayam di panji-panji kerajaan ini.

Bahasa Melayu Pasai, Cikal Bahasa Indonesia

Lebih jauh, Imran menegaskan bahwa dari Pasai pula lahir bahasa yang menyatukan kepulauan: Melayu Pasai. Bahasa ini menjadi lingua franca perdagangan dan dakwah, yang kelak menyumbang besar bagi lahirnya bahasa Indonesia.

“Dari sini lahir ulama-ulama besar yang membangun Aceh sampai hari ini,” katanya, meneguhkan bahwa warisan Pasai bukan hanya fisik, tetapi juga intelektual.

Sambutan yang disampaikan Imran bukan sekadar nostalgia. Putra asli Aceh ini menekankan bahwa Aceh Utara memiliki modal luar biasa: pantai yang panjang, daratan subur, gunung yang kokoh, dan tambang yang melimpah.

“Semoga Pemerintah Aceh Utara bisa memanfaatkan ini untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat,” harapnya.

Ia mengingatkan bahwa kebangkitan bukan sekadar slogan, melainkan kerja nyata. Dari energi, pangan, hingga logistik, Aceh Utara punya peluang untuk menjadi pusat baru Nusantara.

Bandar Samudera, Asal Kata Sumatera

Dalam penutupnya, Imran mengisahkan legenda: dari Bandar Syumudrah lahir kata Sumatera. Sebuah kebanggaan yang seharusnya menjadi bahan bakar motivasi.

“Semoga peringatan 800 tahun Samudera Pasai membangkitkan semangat kita semua untuk membangun Aceh Utara dan Aceh yang lebih baik lagi,” tutupnya, menjelang tengah malam, dengan doa agar keberkahan Allah SWT menyertai perjalanan panjang ini.

Milad ke-800 Samudera Pasai bukan sekadar pesta budaya. Ia adalah panggilan sejarah. Dari tanah ini lahir lambang Garuda, bahasa Indonesia, dan semangat kebangsaan.

Kini, tantangannya adalah bagaimana Aceh Utara menjahit kembali kejayaan itu dengan keberanian politik, visi besar, dan kerja nyata. Sejarah telah memberi modal. Yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk menjemputnya.

(Maimun Asnawi, S.HI., M.Kom.I/WASPADA.id)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement