Satu IFP untuk Banyak Kelas, Revitalisasi Benahi Ruang Belajar dan Toilet SDN 6 Meureudu


MEUREUDU (Waspada.id): Banjir yang merendam SD Negeri 6 Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, pada akhir November 2025 menjadi bagian dari perjalanan sekolah dalam memulihkan fasilitas pendidikan.
Pada 2026, sekolah ini menerima bantuan revitalisasi dari pemerintah untuk membenahi ruang belajar dan toilet. Di saat yang sama, pemanfaatan teknologi digital mulai mendukung proses pembelajaran, membawa harapan bagi siswa untuk belajar dalam lingkungan yang lebih nyaman.
Bagi siswa, ruang kelas bukan sekadar tempat menerima pelajaran. Di sanalah mereka membaca, menulis, berdiskusi, dan membangun cita-cita. Fasilitas yang layak turut mendukung kenyamanan mereka selama mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Kepala SDN 6 Meureudu, Masyitah, menyambut baik bantuan revitalisasi dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Ia berharap perbaikan sarana dan prasarana dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman dan kondusif.

“Kami merasa sangat bersyukur, senang, dan bangga karena sekolah mendapatkan bantuan revitalisasi dari pemerintah. Dengan bantuan ini, kami dapat meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pendidikan agar peserta didik belajar dengan lebih aman, nyaman, dan kondusif,” ujar Masyitah, Selasa (27/10/2026).
Anggaran revitalisasi yang diterima sekolah berada di kisaran Rp500 juta lebih. Menurut Masyitah, dana tersebut belum mencukupi seluruh kebutuhan perbaikan. Pihak sekolah pun telah melaporkan kondisi tersebut agar kebutuhan yang belum tertangani dapat menjadi perhatian.
Satu Layar untuk Banyak Kelas
Selain membenahi fasilitas fisik, SDN 6 Meureudu mulai memanfaatkan teknologi digital melalui satu unit Papan Interaktif Digital (PID) atau Interactive Flat Panel (IFP).
Perangkat ini membantu guru menyampaikan materi menggunakan tampilan visual dan media digital, sehingga pembelajaran dapat berlangsung lebih variatif. Bagi siswa, teknologi tersebut menghadirkan cara belajar yang berbeda dari metode konvensional.
Masyitah mengatakan, IFP digunakan secara bergiliran dan paling banyak dimanfaatkan oleh siswa kelas IV, V, dan VI. Pengaturan jadwal diperlukan agar perangkat tersebut dapat digunakan sesuai kebutuhan pembelajaran masing-masing kelas.

Kehadiran IFP menjadi langkah awal bagi sekolah untuk mengembangkan pembelajaran berbasis teknologi. Pemanfaatannya diharapkan dapat terus ditingkatkan sehingga semakin mendukung kegiatan belajar mengajar.
Revitalisasi dan digitalisasi pembelajaran pun menjadi dua upaya yang saling melengkapi. Perbaikan ruang belajar dan toilet mendukung kenyamanan siswa, sedangkan teknologi membuka peluang bagi guru untuk menerapkan metode pembelajaran yang lebih beragam.
Menata Harapan Pascabanjir
Perjalanan SDN 6 Meureudu sejak banjir pada akhir 2025 hingga menerima bantuan revitalisasi pada 2026 memperlihatkan pentingnya pemulihan fasilitas pendidikan secara berkelanjutan.
Pembenahan ruang belajar dan toilet menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan sekolah yang lebih layak. Sementara itu, pemanfaatan IFP memberi kesempatan bagi guru dan siswa untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi dalam pembelajaran.
Ke depan, sekolah berharap dukungan pemerintah dapat berlanjut agar kebutuhan fasilitas yang belum terpenuhi dapat ditangani secara bertahap.
Pada akhirnya, keberhasilan pemulihan sekolah bukan hanya tentang bangunan yang diperbaiki atau perangkat digital yang tersedia. Lebih dari itu, perubahan harus dirasakan oleh siswa melalui lingkungan belajar yang nyaman, fasilitas yang memadai, dan proses pembelajaran yang membantu mereka tumbuh serta meraih cita-cita. (Nas)
Berita Terkait









































































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda