Breaking News
Memuat breaking news...

Sawit hingga Kopi Kuasai Pasar Arab Saudi, Peluang Ekspor RI Terbuka Lebar

Redaksi
Redaksi
Jumat, 7 Agustus 2026 - 8.22 AM WIB
Sawit hingga Kopi Kuasai Pasar Arab Saudi, Peluang Ekspor RI Terbuka Lebar
Foto ilustrasi
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan sejumlah komoditas unggulan Indonesia telah memiliki posisi kuat di pasar Arab Saudi. Minyak sawit menjadi produk dengan pangsa pasar terbesar, disusul kopi, rempah-rempah, produk kayu, kertas, hingga makanan olahan. Meski demikian, BPS menilai peluang peningkatan ekspor masih sangat besar karena Indonesia baru menempati peringkat ke-18 sebagai pemasok terbesar ke negara tersebut.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, minyak sawit masih menjadi komoditas andalan Indonesia di Arab Saudi dengan pangsa pasar yang jauh mengungguli negara pesaing.

"Untuk minyak sawit atau minyak nabati, Indonesia menguasai pangsa pasar sekitar 38 persen yang jauh di atas Malaysia, Ukraina maupun Oman. Indonesia menjadi salah satu pemasok utama untuk komoditas ini," ujar Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta Pusat, Kamis (6/8).

Data BPS menunjukkan nilai ekspor minyak sawit Indonesia ke Arab Saudi mencapai US$706,47 juta dengan pangsa pasar 38,29 persen. Artinya, lebih dari sepertiga kebutuhan impor minyak sawit Arab Saudi dipenuhi oleh Indonesia.

Selain sawit, Indonesia juga memiliki posisi yang cukup kuat untuk berbagai komoditas lain. Produk kayu dan turunannya mencatat nilai ekspor US$146,86 juta dengan pangsa pasar 8,08 persen. Selanjutnya kopi, teh, dan rempah-rempah mencapai US$122,13 juta dengan pangsa pasar 6,61 persen, sedangkan kertas dan produk turunannya membukukan ekspor sebesar US$103,61 juta dengan pangsa 5,92 persen.

Komoditas lain yang juga menunjukkan kinerja positif adalah olahan daging, ikan, krustasea, dan moluska dengan nilai ekspor US$78,35 juta dan pangsa pasar 19,60 persen. Kemudian biji dan buah mengandung minyak senilai US$66,88 juta dengan pangsa 7,27 persen, serta alas kaki sebesar US$59,28 juta dengan pangsa pasar 5,30 persen.

Meski telah memiliki posisi yang cukup baik, Amalia menegaskan masih banyak ruang bagi Indonesia untuk memperluas pangsa pasar di Arab Saudi.

"Untuk komoditas seperti kayu, kopi, kertas, olahan pangan, biji mengandung minyak, dan alas kaki, Indonesia memang telah memiliki pangsa pasar yang baik, tetapi masih banyak potensi pasar yang harus dikembangkan. Dengan mengetahui peta kompetitor seperti ini, kita bisa menyusun strategi penetrasi pasar yang lebih tepat," ujarnya.

Target Masuk 10 Besar Pemasok Arab Saudi

BPS mencatat nilai ekspor Indonesia ke Arab Saudi pada 2025 mencapai US$3,43 miliar. Nilai tersebut meningkat sekitar enam kali lipat dibandingkan dua dekade sebelumnya dan berhasil mengangkat posisi Indonesia dari peringkat ke-24 pada 2005 menjadi peringkat ke-18 sebagai pemasok terbesar.

"Dalam 20 tahun peringkat ini bisa kita naikkan. Pada tahun 2005 Indonesia berada di peringkat ke-24, sedangkan pada tahun 2025 posisi Indonesia sudah meningkat menjadi pemasok terbesar ke-18 untuk pasar Arab Saudi. Tapi belum menjadi 10 besar. Mudah-mudahan ke depan peringkat Indonesia bisa terus naik secara bertahap sampai masuk 10 besar," ujar Winny.

Menurut Amalia, keberhasilan China dan India memperbesar pangsa pasar di Arab Saudi dapat menjadi referensi bagi Indonesia, terutama dalam memanfaatkan besarnya kebutuhan pasar yang berkaitan dengan penyelenggaraan ibadah haji dan umrah.

"Pengalaman China dan India ini bisa menjadi pembelajaran berharga bagi Indonesia. Potensi pasar haji dan umrah sangat besar dan peluang ini bisa kita raih ke depan," ujar Winny.

Saat ini China masih menjadi pemasok terbesar bagi Arab Saudi, diikuti Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, dan India. Sementara Indonesia masih menghadapi persaingan ketat di sejumlah komoditas. Untuk produk kayu, pesaing utama berasal dari China, Thailand, dan Finlandia. Pada komoditas kopi, teh, dan rempah-rempah, Indonesia bersaing dengan Etiopia, India, dan Guatemala.

Di sektor alas kaki, pangsa pasar Indonesia masih sebesar 5,30 persen, jauh di bawah China yang menguasai 52,33 persen, Vietnam 15,93 persen, dan Italia 11,56 persen. Sementara pada produk olahan daging, ikan, krustasea, dan moluska, Indonesia menguasai 19,60 persen pangsa pasar, berada di bawah Thailand yang mencapai 27,79 persen.

BPS menilai pemetaan kekuatan produk dan posisi kompetitor tersebut menjadi dasar penting untuk menyusun strategi ekspor yang lebih agresif. Selain komoditas pangan, peluang juga terbuka bagi produk perlengkapan ibadah, pakaian, alas kaki, hingga berbagai produk oleh-oleh yang berkaitan dengan kebutuhan jamaah haji dan umrah. (cnni)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement