Breaking News
Memuat breaking news...

Sayuti Merangkul, Nasir Melanjutkan, Saman Menawarkan

Redaksi
Redaksi
Selasa, 27 Oktober 2026 - 1.20 PM WIB
Sayuti Merangkul, Nasir Melanjutkan, Saman Menawarkan
Tiga calon Ketua PWI Aceh periode 2026–2031. Sayuti Achmad, Nasir Nurdin dan Muhammad Saman. Waspada.id/Ist
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

PWI Aceh ibarat sebuah rumah besar yang tiangnya ditopang oleh solidaritas, dindingnya diperkuat profesionalisme, dan atapnya menaungi seluruh wartawan.

Kini, tiga nama, Sayuti Achmad, Nasir Nurdin, dan Muhammad Saman, berada dalam kontestasi untuk memimpin rumah tersebut. Pertanyaannya bukan semata-mata siapa yang akan memegang kunci, melainkan siapa yang mampu menjaga agar setiap penghuninya merasa dilindungi, dihargai, dan memiliki tempat yang sama.

Kontestasi pemilihan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh periode 2026–2031 menjadi momentum menentukan arah organisasi, memperkuat perlindungan profesi, dan memastikan kesejahteraan wartawan di tengah perubahan industri pers.

Ketiganya hadir dengan latar belakang, pengalaman, dan pendekatan yang berbeda. Sayuti Achmad membawa harapan melalui semangat merangkul anggota, Nasir Nurdin memiliki pengalaman sebagai petahana, sementara Muhammad Saman menawarkan agenda pembenahan organisasi dan transformasi digital.

Namun, ukuran kepemimpinan pada akhirnya bukan hanya pengalaman atau banyaknya dukungan, melainkan kemampuan menjawab kebutuhan anggota.

Sayuti Achmad dan Seni Merangkul

Dalam organisasi profesi, kepedulian merupakan fondasi penting bagi kepemimpinan. Wartawan tidak hanya membutuhkan pemimpin yang mampu berbicara di forum resmi, tetapi juga sosok yang bersedia mendengar keluhan, memahami persoalan di lapangan, dan memperjuangkan kepentingan anggota.

Di sinilah pendekatan Sayuti Achmad dapat menemukan relevansinya. Semangat merangkul perlu diterjemahkan menjadi ruang komunikasi yang terbuka, perhatian terhadap persoalan wartawan di daerah, serta keberanian memperjuangkan kepentingan anggota tanpa membedakan kedekatan maupun pilihan organisasi.

Ibarat pohon yang tumbuh besar, pemimpin tidak cukup hanya menjulang tinggi. Ia harus menyediakan keteduhan bagi siapa pun yang berada di bawahnya. Kepemimpinan yang merangkul berarti memastikan setiap anggota merasa didengar, dihargai, dan memiliki tempat dalam rumah besar PWI Aceh.

Namun, kedekatan personal saja tidak cukup. Sayuti perlu menunjukkan bahwa semangat merangkul dapat diwujudkan melalui program, sistem kerja, dan kebijakan organisasi yang terukur.

Membela Wartawan

Perlindungan wartawan merupakan salah satu ukuran penting keberhasilan PWI. Dalam menjalankan tugas jurnalistik, wartawan dapat menghadapi intimidasi, ancaman, kekerasan, hingga persoalan hukum akibat pemberitaan.

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, khususnya Pasal 8, menyatakan bahwa wartawan mendapat perlindungan hukum dalam melaksanakan profesinya.

Ketentuan ini semestinya menjadi pijakan bagi PWI untuk memperkuat advokasi dan pendampingan terhadap anggota yang menghadapi persoalan ketika menjalankan tugas jurnalistik.

PWI Aceh membutuhkan mekanisme pengaduan yang jelas, akses konsultasi hukum, pendampingan ketika terjadi kekerasan atau intimidasi, serta koordinasi dengan lembaga terkait.

Pembelaan terhadap wartawan juga harus berjalan seiring dengan penegakan kode etik, verifikasi fakta, dan tanggung jawab profesional.

Bagi Sayuti, komitmen membela wartawan akan memiliki arti lebih besar apabila diterjemahkan menjadi sistem perlindungan yang bisa diakses anggota hingga ke kabupaten dan kota. Sebab, perlindungan profesi tidak boleh berhenti sebagai janji dalam forum konferensi.

Nasir Nurdin: Modal Petahana

Nasir Nurdin membawa pengalaman panjang dalam dunia jurnalistik dan organisasi PWI. Berdasarkan riwayat hidup yang tersedia, ia telah menjadi anggota PWI sejak 1996.

Ia pernah menjabat Wakil Ketua Bidang Pembelaan Wartawan PWI Aceh periode 2010–2015, kemudian Sekretaris Dewan Kehormatan Provinsi PWI Aceh periode 2015–2021, sebelum memimpin PWI Aceh pada periode 2021–2026.

Pengalamannya sebagai wartawan Harian Serambi Indonesia sejak 1993 turut menjadi bagian dari perjalanan profesionalnya. Ia juga memiliki pengalaman dalam berbagai kegiatan jurnalistik dan organisasi kemasyarakatan.

Pengalaman tersebut merupakan modal yang tidak dapat diabaikan. Sebagai petahana, Nasir memiliki kesempatan menjelaskan capaian kepemimpinannya, program yang telah berjalan, serta persoalan yang belum terselesaikan.

Di sisi lain, pengalaman masa lalu perlu diukur melalui hasil yang dirasakan anggota. Keberlanjutan organisasi memang penting, tetapi keberlanjutan tidak seharusnya menutup ruang evaluasi. Organisasi yang sehat adalah organisasi yang berani menghargai capaian sekaligus memperbaiki kekurangan.

Saman: Pengalaman Organisasi dan Agenda Pembaruan

Muhammad Saman juga bukan sosok baru dalam lingkungan PWI Aceh. Berdasarkan profil yang diberitakan InfoAceh.net, ia pernah menjabat Wakil Sekretaris PWI Aceh periode 2010–2015 dan 2015–2020. Ia kemudian pernah ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas Sekretaris PWI Aceh dan dipercaya menjadi Wakil Ketua Bidang Kesejahteraan PWI Aceh periode 2021–2026.

Di bidang jurnalistik, Saman pernah bekerja sebagai wartawan Harian Analisa. Ia juga memimpin redaksi Infoaceh.net dan Harian Aceh, serta tercatat memiliki kompetensi Wartawan Utama dari Dewan Pers sejak 2015.

Latar belakang tersebut menjadi modal Saman dalam menawarkan agenda pembenahan organisasi. Program yang dipaparkan mencakup penguatan tata kelola, solidaritas dan perlindungan wartawan, pemerataan pembinaan PWI di kabupaten dan kota, serta peningkatan kapasitas dan kompetensi anggota.

Saman juga menaruh perhatian pada penguatan kelembagaan di daerah agar akses terhadap pendidikan jurnalistik, kegiatan organisasi, dan program peningkatan kompetensi tidak hanya terpusat di tingkat provinsi.

Di tengah perubahan teknologi dan pola konsumsi informasi, ia memasukkan transformasi digital, penguasaan teknologi jurnalistik, serta peningkatan kualitas media dan wartawan sebagai agenda penting. PWI, dalam gagasan tersebut, diharapkan menjadi organisasi yang adaptif dan berdaya saing tanpa meninggalkan prinsip akurasi, independensi, verifikasi, dan tanggung jawab kepada masyarakat.

Agenda itu patut menjadi bahan pertimbangan anggota. Namun, seperti halnya calon lain, gagasan Saman juga perlu diuji melalui kejelasan tahapan pelaksanaan, target yang terukur, dan mekanisme pertanggungjawaban kepada anggota.

Kontestasi Bukan Sekadar Perebutan Kursi

Sayuti, Nasir, dan Saman memiliki modal serta pendekatan yang berbeda. Sayuti dapat menonjolkan semangat merangkul dan membangun komunikasi dengan anggota. Nasir membawa pengalaman sebagai petahana dan rekam jejak panjang di PWI.

Sementara itu, Saman menawarkan agenda pembenahan tata kelola, pemerataan program, kesejahteraan, dan transformasi digital.

Perbedaan tersebut semestinya memperkaya perdebatan gagasan, bukan berubah menjadi sekat yang memecah persaudaraan sesama wartawan.

Anggota PWI perlu menilai lebih jauh, siapa yang mampu memperkuat perlindungan profesi? Siapa yang memiliki program nyata bagi kesejahteraan dan peningkatan kompetensi? Siapa yang bersedia membuka ruang evaluasi, membangun tata kelola transparan, dan memastikan suara wartawan di daerah tidak tenggelam oleh kepentingan di tingkat provinsi?

Pertanyaan-pertanyaan itu penting agar pemilihan tidak berhenti pada popularitas, kedekatan, atau besarnya dukungan. Kepemimpinan organisasi profesi harus diuji melalui kesanggupan bekerja, keberanian mengambil tanggung jawab, dan konsistensi memenuhi janji.

Merangkul Hati, Menjaga Marwah

PWI Aceh adalah rumah bersama yang dibangun dari kerja, keberanian, dan pengabdian para wartawan. Karena itu, siapa pun yang terpilih harus mampu menjaga rumah tersebut tetap kokoh, bukan hanya bagi kelompok pendukungnya, melainkan bagi seluruh anggota.

Sayuti memiliki ruang untuk membuktikan bahwa merangkul bukan sekadar ungkapan, melainkan cara membangun organisasi yang lebih terbuka dan peduli. Nasir memiliki kesempatan mempertanggungjawabkan pengalaman kepemimpinannya. Saman pun memiliki ruang untuk menunjukkan bahwa agenda pembaruan dapat diwujudkan menjadi perubahan nyata.

Pada akhirnya, anggota tidak hanya membutuhkan pemimpin yang pandai menyusun kata-kata, tetapi sosok yang mampu mengubah gagasan menjadi kerja dan janji menjadi bukti.

Ibarat sungai yang mengalir menuju laut, perbedaan jalan tidak semestinya menghalangi tujuan bersama. Justru dari perbedaan itulah PWI Aceh seharusnya menemukan kekuatan untuk tumbuh lebih matang, mandiri, dan bermartabat.

Sebab, pemimpin yang besar bukanlah semata-mata dia yang berhasil mengumpulkan banyak pendukung, melainkan dia yang mampu membuat seluruh anggota merasa dihargai. Merangkul hati adalah seni kepemimpinan; menjaga marwah wartawan adalah tanggung jawab moral. WASPADA.id

Muhammad Riza

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Berita Terkait

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement