Breaking News
Memuat breaking news...

SBM Langka, Harga Pakan Melambung: Peternak Ayam Mulai Terjepit

Redaksi
Redaksi
Sabtu, 29 Agustus 2026 - 9.43 AM WIB
SBM Langka, Harga Pakan Melambung: Peternak Ayam Mulai Terjepit
Seng Guan.Waspada.id/dok
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN (Waspada.id): Peternak ayam petelur di sejumlah wilayah Sumatera Utara mulai menghadapi tekanan baru. Harga soybean meal (SBM) atau bungkil kedelai, salah satu bahan penting sumber protein dalam pakan ternak, melonjak tajam sekaligus semakin sulit diperoleh.

Harga SBM yang sebelumnya berada di kisaran Rp7.000 per kilogram kini menembus Rp10.250 hingga Rp11.500 per kilogram. Kenaikan tersebut ikut mengerek biaya produksi peternakan karena SBM menjadi salah satu komponen utama dalam formulasi pakan.

Keluhan itu disampaikan Seng Guan, pelaku usaha ayam petelur di Pantai Labu, Deliserdang, yang juga Ketua Forda UKM Deliserdang.

Menurut Seng Guan, kelangkaan SBM mulai terasa dalam sekitar sebulan terakhir. Padahal sebelumnya bahan baku tersebut relatif mudah diperoleh dari perusahaan swasta dengan harga sekitar Rp7.000-Rp8.000 per kilogram.

“SBM ini salah satu bahan yang dicampurkan dengan pakan lainnya. Sekarang harganya sampai Rp11.500 per kilogram. Sebelumnya masih kisaran Rp7.000. Sekarang barangnya juga sudah mulai susah didapat,” ujar Seng Guan, Jumat (28/8/2026).

Ia mengaitkan perubahan kondisi tersebut dengan kebijakan pemerintah yang mengalihkan pengelolaan impor SBM atau bungkil kedelai melalui badan usaha milik negara (BUMN).

“Sekarang semua melalui BUMN. Setelah itu barangnya jadi langka dan harganya mahal,” katanya.

Kelangkaan bahan baku tersebut membuat peternak harus mencari alternatif untuk memenuhi kebutuhan pakan. Salah satu pilihan yang digunakan adalah konsentrat yang diproduksi perusahaan pakan ternak.

Seng Guan mengatakan, kondisi itu berpotensi menambah beban peternak jika berlangsung dalam jangka panjang. Pasalnya, kenaikan harga bahan baku berimbas langsung terhadap biaya produksi dan harga pakan.

“Efeknya bisa mempersulit usaha peternakan. Biayanya jadi tinggi, biaya produksi makin tinggi. Harga pakan juga sekarang jadi lebih mahal,” ujarnya.

Menurut dia, tekanan terhadap peternak sebenarnya bukan baru terjadi. Harga pakan telah beberapa kali mengalami kenaikan. Bahkan sepanjang Juli 2026, kenaikan terjadi dua kali.

“Sejak SBM langka dan mahal, pabrik pakan juga menaikkan harga. Di bulan Juli saja naik dua kali,” katanya.

Karena itu, Seng Guan berharap pemerintah turun tangan memastikan pasokan SBM kembali tersedia dengan harga yang lebih terjangkau. Bagi peternak, normalisasi harga bahan baku menjadi penting agar usaha tetap dapat bertahan.

“Maunya seperti dulu saja. Jangan sampai harganya tinggi begini,” katanya.

Kelangkaan Terjadi Sejak April-Mei

Keluhan serupa disampaikan Hantek, peternak ayam petelur lainnya. Ia mengatakan kesulitan memperoleh SBM sebenarnya sudah mulai dirasakan sejak April atau Mei 2026 dan semakin terasa memasuki Agustus.

“Ampun. Kalau SBM ini sekarang kita susah dapatnya. Ini sudah mulai bulan April atau Mei. Sekarang sudah bulan Agustus, makin terasa susahnya,” ujar Hantek.

Selain pasokan yang tersendat, harga SBM juga terus meningkat. Hantek mengatakan dirinya sebelumnya biasa membeli SBM sekitar Rp7.000 per kilogram. Kini harganya telah mencapai Rp10.250 per kilogram.

“Dulu Rp6.000 pernah, Rp7.000 juga pernah. Paling mahal dulu sekitar Rp8.000 dan itu pun pernah sekali. Biasanya rata-rata Rp7.000,” katanya.

Kenaikan tersebut menjadi persoalan serius karena SBM merupakan salah satu komponen penting dalam pakan ternak. Penggunaannya dapat mencapai sekitar 25-30 persen, bergantung pada kebutuhan masing-masing kandang.

Hantek menghitung, kenaikan dari Rp7.000 menjadi Rp10.250 per kilogram berarti tambahan biaya Rp3.250 untuk setiap kilogram SBM. Jika kebutuhan mencapai 300 kilogram, tambahan pengeluaran bisa mendekati Rp1 juta.

“Kalau dari Rp7.000 ke Rp10.250 saja sudah naik Rp3.250. Kalau pemakaian 300 kilogram, tambahan biayanya sudah hampir Rp1 juta. Pemakaiannya juga nomor dua setelah jagung,” ujarnya.

Persoalannya, kata dia, kini bukan semata harga yang tinggi. Barangnya pun tidak selalu tersedia.

Hantek mengaku sempat melakukan pemesanan, tetapi mendapat informasi bahwa stok belum tersedia. Ia memperkirakan pasokan baru mulai tersedia pada awal September.

“Semalam saya mau pesan, katanya belum ada barang. Mungkin awal bulan sembilan baru mulai ada,” katanya.

Dalam kondisi pasokan yang terbatas, peternak kembali mengandalkan konsentrat produksi pabrik pakan. Namun, penggunaan konsentrat juga menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi peternak karena mereka tidak mengetahui secara detail komposisi campurannya.

“Kita cari konsentrat dari pabrik. Terpaksa pakai itu, tapi kita kan tidak tahu campurannya seperti apa. Itu juga bisa berpengaruh terhadap kualitas telur,” ujarnya.

Hantek menegaskan, SBM merupakan salah satu sumber protein utama dalam formulasi pakan ternak. Karena itu, kelangkaan dan kenaikan harganya tidak bisa dipandang sebagai persoalan kecil.

Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk menjamin ketersediaan sekaligus menjaga harga SBM agar kembali pada tingkat yang lebih wajar.

“Yang kita harapkan pemerintah bisa campur tangan untuk menormalkan harga SBM ini, agar harganya tidak terlalu mahal,” katanya.(id03)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement