Seleksi Petugas Haji, Mengawal Amanah Sejak Dini


Layar komputer menyala. Jari-jari peserta mulai bekerja. Di hadapan mereka bukan sekadar deretan soal yang harus dijawab, melainkan sebuah tahapan menuju amanah yang jauh lebih besar: menjadi petugas yang akan mendampingi dan melayani jemaah haji Indonesia.
Sabtu (5/9/2026), suasana seleksi Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) di BKN Kantor Regional XIII Aceh berlangsung dalam kesunyian yang penuh konsentrasi.
Sebanyak 41 peserta mengikuti Computer Assisted Test (CAT) untuk menjadi calon PPIH Arab Saudi dan PPIH Kloter.
Namun, di balik ketenangan ruang ujian itu, ada mata lain yang turut mengawasi. Inspektur Wilayah III Kementerian Haji dan Umrah, H Mulyadi Nurdin, Lc, MH, CPLA, CHRIM, datang memastikan proses seleksi tidak hanya berjalan secara teknis, tetapi juga berada dalam koridor kejujuran, keadilan, dan transparansi.
H Mulyadi tidak sekadar melihat peserta menjawab soal. Ia memantau proses registrasi, pemeriksaan peserta sebelum memasuki ruang ujian, kelengkapan perangkat ujian, kesiapan aplikasi, kekuatan jaringan internet, hingga kelayakan komputer dari sisi hardware maupun software.
Sebab, dalam sebuah seleksi yang menentukan siapa yang kelak dipercaya mengemban tugas melayani tamu-tamu Allah, setiap tahapan memiliki arti.
“Sebagai Aparat Pengawas Internal, Inspektorat Jenderal melakukan pengawasan semua tahapan seleksi sesuai kewenangan, agar semua tahapan berlangsung sesuai ketentuan yang berlaku,” ujar alumni Lemhannas RI tersebut.
Ketika Kepercayaan Menjadi Taruhan
Menjadi petugas haji bukan hanya persoalan lulus seleksi.Ada tanggung jawab besar yang menunggu di balik predikat tersebut. Petugas akan berhadapan dengan jemaah yang datang dari berbagai latar belakang, usia, kemampuan fisik, dan karakter.
Karena itu, proses memilih petugas sejak dari tanah air harus diletakkan di atas prinsip yang kokoh.
Mulyadi menilai pelaksanaan CAT di Aceh berlangsung lancar sejak registrasi hingga ujian berakhir.
Pengawasan pun tidak berhenti di Aceh. Tim Inspektorat Jenderal melakukan pemantauan serupa di berbagai lokasi pelaksanaan CAT di seluruh Indonesia secara serentak.
Di depan komputer, para peserta mengadu kemampuan. Di belakang proses itu, sistem pengawasan bekerja memastikan seluruh tahapan berjalan sesuai aturan.
Selain mengawasi pelaksanaan CAT, H Mulyadi juga memantau proses verifikasi berkas pelamar di jajaran Kanwil Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Aceh.
Tidak semua pendaftar langsung sampai pada ruang ujian. Sebagian masih harus menunggu proses verifikasi administrasi.
Di sinilah kehati-hatian menjadi penting. H Mulyadi meminta verifikator bekerja teliti, adil, dan transparan. Jika ada pelamar yang dinyatakan tidak lolos administrasi, alasan yang jelas harus diberikan.
“Orang yang tidak lolos verifikasi pasti bertanya-tanya kenapa ia tidak lolos. Pihak verifikator harus mencantumkan alasan yang cukup kenapa seseorang tidak lolos. Kalau tidak, akan menjadi tanda tanya dan bisa menimbulkan kecurigaan dari peserta,” katanya.
Pesan itu sederhana, tetapi memiliki makna yang dalam. Dalam proses seleksi, bukan hanya hasil akhir yang penting. Cara sebuah keputusan dibuat juga menentukan apakah keputusan tersebut dapat diterima dengan lapang dada.
Sebab, keadilan bukan hanya tentang siapa yang dinyatakan lulus. Keadilan juga tentang memberikan kesempatan yang sama dan menjelaskan dengan terang ketika seseorang harus berhenti di sebuah tahapan.
Bagi H Mulyadi, pengawasan tidak selesai ketika peserta meninggalkan ruang CAT.
Inspektorat Jenderal Kementerian Haji dan Umrah akan mengawasi berbagai tahapan penyelenggaraan ibadah haji, mulai dari tanah air hingga Arab Saudi.
Seleksi petugas, pelunasan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH), pemeriksaan kesehatan jemaah, pengadaan vendor di dalam dan luar negeri, pemberangkatan, pelayanan di embarkasi dan debarkasi, hingga pelayanan jemaah di Arab Saudi menjadi bagian dari ruang pengawasan.
Pengawasan itu ibarat benang yang menjalin seluruh rangkaian perjalanan haji. Ia tidak selalu terlihat, tetapi harus hadir di setiap simpul agar tidak ada bagian yang terlepas dari aturan.
“Sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memberikan layanan terbaik bagi jemaah haji Indonesia, inspektorat akan melakukan tugasnya sebagai pengawas internal agar semua tahapan berjalan sesuai regulasi yang ada,” ujar H Mulyadi.
Pada akhirnya, seleksi petugas haji bukan hanya tentang siapa yang paling cepat menjawab soal di depan komputer.
Ada amanah yang jauh lebih panjang setelah layar CAT dimatikan. Ada jemaah yang kelak membutuhkan tangan untuk menuntun, telinga untuk mendengar keluhan, dan hati yang cukup lapang untuk melayani.
Karena itu, di balik sunyinya ruang ujian dan bunyi ketikan di atas keyboard, sesungguhnya sedang dipersiapkan sesuatu yang lebih besar: kepercayaan untuk melayani tamu-tamu Allah.
Dan kepercayaan, seperti amanah, tidak cukup hanya dijanjikan. Ia harus dijaga sejak langkah pertama. WASPADA.id
Muhammad Riza












Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda