Sensus Ekonomi Dinilai Jadi Kunci Pengembangan Industri Hilir di AcehSensus Ekonomi Dinilai Jadi Kunci Pengembangan Industri Hilir di Aceh

BANDA ACEH (Waspada.id): Guru Besar Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Syiah Kuala (USK), Prof. Dr. Aliasuddin, S.E., M.Si., menilai Sensus Ekonomi 2026 menjadi instrumen penting dalam mendorong pengembangan industri hilir di Aceh. Menurutnya, data yang akurat akan membantu pemerintah memetakan potensi ekonomi daerah sekaligus menyusun kebijakan pembangunan yang lebih tepat sasaran.
Hal itu disampaikan Aliasuddin dalam workshop yang diselenggarakan Badan Pusat Statistik (BPS) bersama wartawan untuk membahas pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026.
Ia mengatakan, Indonesia, termasuk Aceh, hingga kini belum mampu membangun klaster industri yang terintegrasi meski memiliki sumber daya alam yang melimpah. Kondisi tersebut membuat banyak komoditas masih dijual dalam bentuk bahan mentah sehingga nilai tambah yang diperoleh daerah relatif kecil.
"Kalau ditanya apakah industri kita sudah berkembang, jawabannya masih belum optimal. Salah satu penyebabnya adalah kita belum mampu membangun klaster industri yang terintegrasi," kata Aliasuddin.
Menurutnya, hasil Sensus Ekonomi akan memberikan gambaran mengenai struktur perekonomian, sektor usaha yang memiliki potensi tumbuh, serta arah perkembangan ekonomi di masa mendatang. Informasi tersebut juga dapat dimanfaatkan pemerintah dalam merancang kebijakan pembangunan maupun oleh generasi muda untuk mempersiapkan diri menghadapi kebutuhan dunia kerja.
"Melalui sensus ini kita bisa mengetahui pola perkembangan ekonomi, sektor mana yang akan tumbuh, serta arah pergerakan ekonomi ke depan," ujarnya.
Aliasuddin mencontohkan komoditas kakao yang selama ini sebagian besar masih dipasarkan sebagai bahan baku. Padahal, apabila didukung data produksi yang akurat, pemerintah dapat mendorong pembangunan industri pengolahan sehingga menghasilkan produk bernilai tambah lebih tinggi.
Hal serupa juga berlaku pada sektor gas alam. Menurutnya, gas seharusnya tidak hanya dijual sebagai bahan mentah ke luar daerah, tetapi diolah menjadi bahan baku industri petrokimia, plastik, pupuk, hingga berbagai produk turunannya.
"Jika diolah di daerah sendiri, gas dapat menjadi bahan baku industri petrokimia, pabrik plastik, pabrik pupuk, dan ratusan produk turunan lainnya. Dengan begitu akan tercipta banyak industri baru dan lapangan kerja bagi masyarakat," katanya.
Ia menegaskan pengembangan industri besar bukan berarti mengesampingkan peran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Namun, pertumbuhan ekonomi dinilai akan berjalan lebih cepat apabila UMKM didukung oleh industri skala besar yang mampu menciptakan rantai nilai dan ekosistem usaha yang kuat.
Selain itu, struktur industri yang terbangun dengan baik juga diyakini akan meningkatkan daya tarik investasi di Aceh. Karena itu, ia mengajak mahasiswa dan generasi muda mulai mempersiapkan kompetensi sesuai kebutuhan sektor-sektor ekonomi yang diproyeksikan berkembang berdasarkan hasil Sensus Ekonomi.
Aliasuddin juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia agar mampu bersaing di pasar kerja global dan tidak hanya bergantung pada peluang kerja di negara tetangga.
Di sisi lain, ia mengharapkan media turut berperan mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya hilirisasi sumber daya alam sebagai upaya meningkatkan nilai tambah dan memperkuat perekonomian daerah.
"Media memiliki peran penting untuk menyampaikan kepada masyarakat bahwa sumber daya alam tidak cukup hanya diekspor sebagai bahan mentah, tetapi harus diolah agar memberikan nilai tambah bagi daerah," pungkasnya. (Hulwa)































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda