Breaking News
Memuat breaking news...

Sepakbola Aceh Kini Kalah Segalanya

Redaksi
Redaksi
Minggu, 26 Juli 2026 - 4.33 PM WIB
Sepakbola Aceh Kini Kalah Segalanya
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

SUDAH satu dekade Aceh memasuki masa kelam di dunia sepak bola. Tak ada lagi yang bisa dibanggakan. Bibit muda bertalenta nyaris tak muncul, apalagi pemain yang mampu menembus tim nasional. Klub profesional pun tak lagi kompetitif, terlebih bersaing di level elite atau Super League.

Gelombang naturalisasi memang membuat pemain dari berbagai daerah semakin sulit menembus Timnas Indonesia. Namun, Aceh lebih memprihatinkan. Jika daerah lain hanya menjadi tamu di depan pintu Timnas, Aceh bahkan seperti penonton di pinggir lapangan. Kalau pun ada yang menjadi anak gawang, mungkin itu sedikit memberi nilai.

Setidaknya ada kisah seperti Phil Foden di Manchester City yang memulai langkah sebagai anak gawang sebelum menjadi pemain Timnas Inggris. Sementara itu, absennya pemain Aceh di berbagai level tim nasional menjadi bukti bahwa kita kini kalah dalam segala hal. Jangankan lolos seleksi, dilirik saja tidak.

Aceh bukan satu-satunya daerah yang mengalami kondisi ini. Tanah Papua, yang dulu dikenal sebagai gudang talenta, juga mengalami nasib serupa. Namun, mereka masih bisa bernapas lega karena tetap memiliki pemain yang dilirik manajemen Timnas, bahkan ada yang masuk bangku cadangan di era naturalisasi.

Tulisan ini bukan didasari ego kedaerahan. Dalam sepak bola, dukungan tidak semata lahir dari warna bendera, melainkan karena kedekatan emosional dengan daerah asal. Dalam istilah global, hal itu dikenal sebagai cultural affinity.

Karena itu, Aceh tidak bisa serta-merta menyalahkan manajemen Timnas. Sejak era Ismed Sofyan, Aceh praktis tak lagi memiliki wakil tetap di tim nasional. Di kelompok umur, Timnas U-19 hanya pernah memiliki "Trio Di"—Zulfiandi, Hendra Sandi, dan Miftahul Hamdi—di bawah racikan Indra Sjafri pada 2016.

Setelah itu, nyaris tak ada lagi. Hanya Rahmat Syawal yang sempat masuk line-up Timnas U-20. Sejak saat itu, jalan menuju Timnas bagi pemain Aceh seolah berkabut gelap.

Tak ada klub yang mampu mengantarkan pemain Aceh menembus tim nasional dalam satu dekade terakhir. Padahal, setiap pemain yang berhasil memperkuat Timnas semestinya menjadi kebanggaan Aceh.

Namun, persoalannya bukan hanya di pemain. Motivasi klub pun berubah. Karena era juga sudah berganti. Klub tak lagi berfungsi sebagai mesin pencetak pemain. Ditambahkan, kehidupan klub diberbagai kompetisi tak baik.

Buktinya, di level kompetisi nasional, kondisi klub-klub Aceh terlihat memprihatinkan. Di Championship (Liga 2), hanya Persiraja yang bertahan. Di Super League (Liga 1), Aceh tak memiliki wakil sama sekali. Begitu pula di Liga 3, tak ada satu pun klub Aceh yang berlaga.

Namun, kita sedikit bisa bernafas lega. Pasalnya, ada beberapa pemain Aceh yang berkiprah di level klub. Baik Liga 1 maupun 2 dan 3. Meski jika semuanya dikumpulkan tidak sampai satu kesebelasan. Tapi, itu jauh lebih baik, daripada tak ada.

Hanya saja, mereka yang beredar di klub-klub tersebut, nama-nama itu saja. Cuma berganti-ganti klub setiap musim. Seperti TM Ichsan dan M Fahri (Bhayangkara FC). Fairushy, Ramadan, M Reza (Adhyaksa), Fitra Ridwan, Miftahul Hamdi (PSIS Semarang).

Kemudian, Rizki Yusuf (Persis Solo). Nama-nama lain seperti Miswar Saputra (Eks Madura United), Rahmad Syawal dan beberapa nama lain yang mungkin sedang proses negosiasi kontrak dengan klub barunya.

Tentu saja nama-nama tersebut di luar yang bermain di Persiraja. Tapi kita ingin bilang, sejauh ini tidak ada wajah baru dari Aceh yang muncul dan berkibar.

Lalu, di Liga 4 musim ini, Aceh diwakili dua klub, yakni PSAP Sigli dan Alfarlaky FC Aceh Timur. Keduanya gugur di babak penyisihan. Gagal bersaing dengan tim-tim dari provinsi lain.

Tahun-tahun sebelumnya, kompetisi level ini di Zona Aceh biasa diikuti sekitar 27 klub. Kini sebagian besar memilih tiarap. Bahkan ada tim yang dulu cukup getol bertarung, kini malah membubarkan diri. Tanya kenapa?

Masalah utamanya klasik: tak ada uang untuk menghidupkan tim. Belum lagi setiap berkompetisi, mereka juga harus ikut "mendanai" kegiatan dengan membayar biaya pendaftaran. Selazimnya, ada keringan dari Asprov PSSI Aceh sebagai operator Liga 4 zona Aceh.

Kondisi pelatih pun tak jauh berbeda. Sangat sedikit pelatih Aceh yang berkiprah di level nasional, apalagi menjadi pelatih tim nasional. Atau paling tidak menjadi asisten pelatih.

Selain Fakhri Husaini dan Iwan Setiawan, hampir tak terdengar lagi kiprah pelatih Aceh yang bertahan di klub-klub luar daerah. Belakangan muncul nama Muhammad Azhar, pelatih tim Porwil Aceh dan mantan asisten pelatih tim PON Aceh di Papua.

Sejak tahun lalu, ia bergabung dengan Unaaha FC, klub asal Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara. Mantan kapten PSBL Langsa sukses mencetak sejarag dengan membawa Laskar Anoa ke babak delapan besar Liga 4 Nasional.

Sayangnya, menjelang akhir-akhir kompetisi, mereka gagal promosi ke Liga 3. Meski gagal, Unaaha FC tetap telah mencatat sejarah besar. Mereka menjadi juara Liga 4 tingkat provinsi sebelum menembus babak empat besar nasional.

Sebuah pencapaian luar biasa, terlebih ketika banyak tim dari Sumatera justru gagal bicara hingga ke perempatfinal musim ini. Di luar nama Azhar, ada Akhyar.

Beberapa tahun sebelumnya, nama Akhyar Ilyas yang sempat menjadi asisten pelatih Borneo FC. Teranyar, ia bergabung dengan PSPS Riau. Sementara pelatih Aceh lain yang memiliki lisensi tinggi justru tenggelam tanpa kabar.

Kelamnya sepak bola Aceh juga terlihat dari sektor perwasitan. Akhirnya, nasib mereka pun setali tiga uang. Tak banyak wasit maupun asisten wasit asal Aceh yang mendapat kesempatan memimpin pertandingan Liga 1, Liga 2, bahkan Liga 3.

Jumlah mereka yang bertugas di Liga 1 maupun Liga 2 bisa dihitung dengan jari. Padahal, setiap tahun PSSI Aceh rutin menggelar pelatihan. Baik pelatih maupun wasit. Lalu ke mana mereka?

Apakah setelah mengikuti pelatihan, sebagian besar akhirnya kembali memimpin turnamen tarkam? Atau lisensi mereka sekadar penghias bank data dan menjadi penghias ruang tamu? Entahlah! *Munawardi

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement