Sepuluh Aturan Emas Penggunaan AI bagi Wartawan

BANDA ACEH (Waspada.id): Kehadiran Artificial Intelligence (AI) telah mengubah cara kerja berbagai profesi, termasuk dunia jurnalistik. Mulai dari membantu riset, merangkum dokumen, menyusun pertanyaan wawancara, hingga membuat ilustrasi visual, teknologi ini menawarkan kemudahan yang sebelumnya sulit dibayangkan.
Namun di balik berbagai manfaat tersebut, muncul tantangan baru yang tidak kalah besar. Kesalahan penggunaan AI berpotensi melahirkan informasi yang menyesatkan, pelanggaran etika, hingga merusak kepercayaan publik terhadap media.
Praktisi media nasional, Merdi Sofansyah mengingatkan bahwa AI seharusnya dipandang sebagai alat bantu, bukan pengganti tanggung jawab jurnalistik. Pesan itu disampaikannya dalam pelatihan Journalism Fellowship on CSR (JFC) Batch III Tahun 2026 yang berlangsung secara daring, Rabu (17/6/2026).
Dengan pengalaman hampir 30 tahun di dunia penyiaran dan pengembangan media digital, Merdi menegaskan bahwa kecerdasan buatan memang mampu mempercepat pekerjaan wartawan. Namun pada saat yang sama, integritas dan verifikasi tetap menjadi fondasi utama yang tidak dapat digantikan oleh mesin.
Menurutnya, ada sepuluh aturan emas yang perlu menjadi pegangan wartawan saat memanfaatkan AI dalam proses kerja jurnalistik.
1. Jangan Pernah Percaya Output AI Sebelum Diverifikasi
AI mampu menghasilkan jawaban yang terlihat meyakinkan. Namun tidak semua informasi yang diberikan dapat dipastikan kebenarannya. Karena itu, setiap data, angka, nama, lokasi, maupun kutipan yang muncul dari AI harus diverifikasi kembali melalui dokumen resmi, wawancara, atau sumber terpercaya lainnya.
"Output AI adalah bahan mentah, bukan kebenaran final," tegas Merdi.
2. Jangan Biarkan AI Mengarang Fakta
Salah satu risiko terbesar penggunaan AI adalah munculnya halusinasi, yaitu kondisi ketika sistem menghasilkan informasi yang sebenarnya tidak pernah ada.
Wartawan tidak boleh menjadikan informasi dari AI sebagai fakta tanpa pemeriksaan lebih lanjut. Apalagi jika informasi tersebut menyangkut data korban, tuduhan, angka statistik, atau peristiwa tertentu yang dapat berdampak pada banyak pihak.
3. Jangan Memasukkan Data Pribadi ke Platform AI Publik
Data pribadi anak-anak, korban, narasumber, maupun dokumen sensitif sebaiknya tidak dimasukkan ke dalam platform AI yang bersifat publik.
Selain berpotensi menimbulkan masalah privasi, data tersebut dapat tersimpan dalam sistem yang berada di luar kendali pengguna.
Prinsip perlindungan data tetap harus menjadi prioritas utama dalam praktik jurnalistik.
4. Jangan Memanipulasi Foto Jurnalistik
Teknologi AI kini mampu menambah, menghapus, atau mengubah objek dalam sebuah foto hanya dalam hitungan detik.
Namun dalam konteks jurnalistik, tindakan tersebut merupakan pelanggaran serius karena mengubah fakta visual yang menjadi bagian dari realitas peristiwa. Foto jurnalistik harus tetap merepresentasikan kondisi yang sebenarnya terjadi.
5. Jangan Menyamarkan Konten AI Sebagai Liputan Lapangan
Publik berhak mengetahui jika suatu ilustrasi, suara, video, atau elemen tertentu dibuat menggunakan bantuan AI. Transparansi menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan audiens terhadap media. Jika AI digunakan secara signifikan dalam produksi konten, media perlu memberikan penjelasan atau atribusi yang memadai.
6. Jangan Jadikan AI Sebagai Narasumber
AI dapat membantu mengolah informasi, tetapi bukan sumber informasi yang dapat dimintai pertanggungjawaban.
Dalam jurnalistik, sumber tetap harus berasal dari manusia, dokumen resmi, data yang dapat diverifikasi, atau hasil observasi langsung. AI hanya berfungsi sebagai alat bantu analisis, bukan pihak yang dapat dikutip sebagai sumber berita.
7. Jangan Menghilangkan Peran Editor
Meskipun AI mampu menyusun tulisan dengan cepat, fungsi editor tetap tidak tergantikan. Editor bertugas memastikan akurasi, keberimbangan, konteks, serta kepatuhan terhadap kode etik jurnalistik. Tanpa proses penyuntingan manusia, risiko kesalahan informasi akan semakin besar.
8. Jangan Mengorbankan Keberimbangan Demi Kecepatan
AI memungkinkan proses produksi berita berlangsung lebih cepat daripada sebelumnya. Namun kecepatan tidak boleh mengorbankan prinsip cover both sides, verifikasi, maupun akurasi informasi.
Wartawan tetap harus memastikan semua pihak yang berkepentingan memperoleh kesempatan untuk memberikan penjelasan.
9. Gunakan Disclosure Jika Porsi AI Signifikan
Apabila AI digunakan dalam pembuatan ilustrasi, penerjemahan suara, pembuatan avatar digital, atau proses produksi lain yang cukup dominan, maka publik perlu diberi informasi mengenai hal tersebut.
Langkah ini penting untuk menjaga transparansi sekaligus menghindari kesalahpahaman di tengah masyarakat.
10. Simpan Jejak Kerja dan Catatan Verifikasi
Wartawan perlu menyimpan dokumen sumber, hasil wawancara, catatan verifikasi, hingga proses penggunaan AI selama produksi berita. Dokumentasi tersebut akan menjadi bukti penting apabila di kemudian hari muncul sengketa, koreksi, atau pertanyaan mengenai proses jurnalistik yang dilakukan.
Manusia Tetap Menjadi Pengambil Keputusan Akhir
Merdi memperkenalkan konsep "Human in Command", yaitu manusia sebagai pemegang kendali penuh dalam proses jurnalistik. AI boleh membantu membaca dokumen, menyusun pertanyaan, membuat ringkasan, bahkan membantu penulisan awal. Namun keputusan akhir mengenai apa yang layak dipublikasikan tetap berada di tangan wartawan dan editor.
Merdi memperkenalkan konsep Human in Command, yakni manusia sebagai pemegang kendali penuh dalam setiap proses jurnalistik. AI boleh membantu membaca dokumen, menyusun pertanyaan, membuat ringkasan, bahkan membantu penulisan awal. Namun keputusan akhir mengenai apa yang layak dipublikasikan tetap berada di tangan wartawan dan editor.
Menurutnya, masa depan jurnalistik bukanlah pertarungan antara manusia melawan mesin. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan integritas yang menjadi ruh profesi wartawan.
"Jangan percaya output AI sebelum diverifikasi. Fakta tetap harus datang dari dokumen, wawancara, observasi, serta verifikasi manusia," tegas Merdi.
Ia menambahkan bahwa kehadiran AI seharusnya memberi ruang bagi wartawan untuk lebih fokus pada pekerjaan yang tidak dapat dilakukan mesin.
"Dengan AI, kita punya waktu lebih untuk melakukan hal yang tidak bisa dilakukan oleh mesin. Kita turun ke lapangan, mendapatkan kutipan langsung dari narasumber, melakukan verifikasi, dan menjaga akal sehat publik," ujarnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa teknologi hanyalah alat bantu. Di tengah kemampuan AI yang semakin canggih, publik tetap membutuhkan jurnalis yang mampu menjaga akurasi, keberimbangan, dan etika. Sebab pada akhirnya, teknologi dapat mempercepat pekerjaan, tetapi tanggung jawab terhadap kebenaran tetap berada di tangan manusia. (Hulwa)



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda