Serangan ke Iran Berbalik Tekan Ekonomi AS, Minyak dan Yield Treasury Melonjak

WASHINGTON (Waspada.id): Konflik Amerika Serikat (AS) dengan Iran mulai memberikan tekanan terhadap perekonomian AS. Lonjakan harga energi, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah, serta pelemahan pasar saham menjadi sejumlah dampak yang semakin diperhatikan investor di tengah ketidakpastian perang dan belum jelasnya pembukaan kembali Selat Hormuz.
Pasar keuangan AS kembali tertekan pada Selasa (29/9/2026). S&P 500 turun 0,2%, Dow Jones Industrial Average melemah 0,3%, sedangkan Nasdaq Composite terkoreksi 0,1%. Pada saat yang sama, yield Treasury 10 tahun sempat menyentuh 5,28%, level tertinggi sejak 2002.
Kenaikan yield tersebut menjadi perhatian karena dapat meningkatkan biaya pembiayaan bagi pemerintah, perusahaan, maupun rumah tangga. Tekanan inflasi akibat harga energi yang tinggi juga membuat pasar mencermati kemungkinan kebijakan suku bunga AS yang lebih ketat.
Minyak Jadi Sumber Tekanan Baru
Harga minyak menjadi salah satu saluran utama dampak konflik AS-Iran terhadap perekonomian AS dan global.
Ketidakpastian mengenai negosiasi AS-Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz membuat harga minyak bergerak volatil. Brent bahkan sempat menembus US$100 per barel sebelum akhirnya ditutup di US$96,16 per barel pada Selasa. Harga tersebut masih jauh lebih tinggi dibandingkan sekitar US$72 per barel sebelum konflik dimulai pada akhir Februari.
Selat Hormuz menjadi sangat penting bagi pasar energi dunia karena merupakan jalur utama pengiriman minyak dari kawasan Timur Tengah.
Upaya mediasi untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali jalur tersebut masih berlangsung. Namun, ketidakpastian meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menolak tawaran Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.
Yield Treasury Tembus Level Tertinggi dalam Dua Dekade
Tekanan terhadap pasar obligasi AS juga semakin besar. Yield Treasury 10 tahun mencapai 5,28% sebelum kemudian berakhir di sekitar 5,25%. Sementara itu, yield Treasury 30 tahun sempat mencapai sekitar 5,62%, level tertinggi sejak 2002.
Kenaikan yield dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk kekhawatiran terhadap inflasi, tingginya kebutuhan pembiayaan pemerintah AS, serta kenaikan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah.
Bagi perekonomian AS, yield yang lebih tinggi berarti biaya pinjaman yang semakin mahal. Kondisi tersebut dapat menekan konsumsi dan investasi sekaligus memberikan tekanan terhadap valuasi saham.
Wall Street Ikut Tertekan
Kondisi tersebut tercermin dari pergerakan bursa saham AS. Pada perdagangan Selasa, S&P 500 turun 0,2% menjadi 7.670,84, Dow Jones melemah 0,3% menjadi 51.349,92, sedangkan Nasdaq turun 0,1% menjadi 26.797,54.
Tekanan terhadap pasar saham terjadi ketika investor menghadapi kombinasi kenaikan yield obligasi, harga energi yang tinggi, serta ketidakpastian mengenai arah kebijakan moneter AS.
Harga minyak yang tinggi juga berpotensi kembali memberikan tekanan terhadap inflasi. Data terbaru menunjukkan inflasi AS masih berada di atas target 2% Federal Reserve, sementara pasar menunggu data inflasi dan tenaga kerja yang akan menjadi pertimbangan penting dalam menentukan arah suku bunga berikutnya.
Dampaknya Menjalar ke Pasar Global
Tekanan tersebut tidak berhenti di AS. Kenaikan yield Treasury dan harga minyak turut memberikan tekanan terhadap pasar negara berkembang.
Di Indonesia, rupiah bahkan sempat menembus level Rp18.000 per dolar AS pada Selasa, untuk pertama kalinya sejak awal Agustus. Reuters mencatat tekanan tersebut terjadi ketika yield Treasury 10 tahun melonjak di atas 5,27% dan harga minyak meningkat.
Dengan demikian, konflik AS-Iran tidak hanya menjadi persoalan geopolitik. Pergerakan harga minyak, obligasi, saham, dan mata uang menunjukkan bagaimana gangguan di Timur Tengah dapat menjalar ke pasar keuangan global.
Bagi AS sendiri, tekanan tersebut menjadi tantangan tambahan karena kenaikan harga energi berpotensi memperkuat inflasi pada saat investor juga menghadapi kenaikan biaya pembiayaan pemerintah dan ketidakpastian arah suku bunga. (Rep)















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda