Seratusan Sopir Bus ALS Ikuti Praktik Safety DrivingSeratusan Sopir Bus ALS Ikuti Praktik Safety Driving

MEDAN (Waspada.id): Seratusan sopir bus PT Antar Lintas Sumatera (ALS) mengikut teori dan praktik teknik ketrampilan mengemudi untuk kenyamanan serta keselamatan penumpang. Teori dan praktik berlangsung selama dua hari, 30 sampai 31 Juli 2026 di kantor pusat perusahaan otobus tersebut di Jl. Sisingamangaraja, Medan.
Kegiatan tersebut digelar Direktorat Jenderal Perhubungan Darat (Ditjen Hubdat), Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Republik Indonesia (RI) bersama PT Antar Lintas Sumatera (ALS) lewat acara Bimbingan Teknis (Bimtek) Safety Driving.
Untuk praktik dilakukan pada Jumat (31/7/2026) dibimbing instruktur Rudi dari Manajemen Keselamatan Ditjen Hubdat Kemenhub. Hadir disitu, Komisaris Utama PT ALS, Sahrul Nasution, Edi Chandra Daulay selalu pengurus sopir dan mekanik PT ALS, Kepala Seksi Sarana dan Angkutan Balai pengelola Transportasi Darat Klas II Sumut, Ikra Suranta bersama Kepala Seksi Lalu Lintas dan Pengawasan, Catur Putra.
"Praktik mengemudi ini menekankan soal perilaku para sopir. Kita latih perilaku para sopir mengemudikan bus ALS," cetus instruktur Rudi.
Ia menyebut, praktik perilaku sopir bus yang baik berfokus pada keselamatan berkendara (safety driving) dan pelayanan penumpang yang prima. Untuk perilaku keselamatan berkendara (Safety Driving) antara lain, mematuhi rambu: mengikuti batas kecepatan dan lampu lalu lintas.
Lalu memberi isyarat: menggunakan lampu sen saat berbelok atau mendahului, menjaga jarak: tidak menempel kendaraan lain di depannya. Kemudian hindari rem mendadak: melakukan pengereman halus demi kenyamanan. Fokus penuh: tidak bermain ponsel saat bus berjalan serta dilarang ugal-ugalan: hindari aksi mengebut demi mengejar setoran.
Para sopir dianjurkan berperilaku ramah menyapa penumpang dengan senyuman yang hangat. Memiliki sikap sabar dan tenang: emosi stabil saat jalanan macat. Sopir disarankan beristirahat cukup untuk menghindari kantuk (micro-sleep).
Sehari sebelumnya, pelatihan teori dan praktik ini dibuka secara resmi oleh Yusuf Nugroho selaku Direktur Sarana dan Keselamatan Transportasi Jalan, Ditjen Hubdat, Kemenhub RI secara daring (zoom).
Selain itu pemateri juga disampaikan Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) diwakili Jalaludin Pasha selaku Investigator Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) juga lewat zoom.

Komisaris Utama PT ALS, Sahrul Nasution (kanan) ikut menyaksikan praktik safety driving sopir ALS. Waspada.id/Surya Efendi
Hadir dalam pembukaan, Kasubdit Manajemen Keselamatan, Ellis Simbolon, Direktur Utama (Dirut) PT ALS, Chandra Lubis, Sekretaris Dinas Perhubungan Sumut, Rochani Litiloly, Ketua DPD Organda Sumut, Haposan Siallagan, perwakilan PT Jasa Raharja Sumut, perwakilan Dinas Perhubungan Kota Medan dan stakeholder terkait.
Direktur Sarana dan Keselamatan Transportasi Jalan, Yusuf Nugroho, menyebut kegiatan pelatihan ini berfokus pada bimbingan teknis keselamatan mengemudi atau safety driving.
‘’Pembinaan ini untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia khususnya para pengemudi angkutan orang, baik pelayanan angkutan dalam trayek maupun tidak dalam trayek,’’ ucapnya.
Ia menyebut, kegiatan ini juga bagian rekomendasi dari pemeriksaan audit dan monitoring PT ALS pasca insiden tabrakan bus ALS di Sumsel.
Melalui kegiatan ini, dia berharap pengemudi ALS dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman yang lebih baik mengenai penerapan pelayanan atau service of excellence, meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan pemahaman.
"Mulai dari pengecekan kendaraan sebelum beroperasi, indikator apa saja yang perlu di cek, klasifikasi dan identifikasi risiko kecelakaan selama dalam perjalanan, kecakapan dan keterampilan mengemudi, serta mengetahui apa yang harus dilakukan saat menghadapi situasi darurat," jelasnya.
Disisi lain dia juga meminta manajemen PT ALS untuk dapat mengatur dengan baik terkait pola jam kerja pengemudi sesuai aturan yang berlaku.
Kata dia memang, secara umum kata ada banyak faktor utama kecelakaan, mulai dari pengemudi kurang menguasai teknis teknologi kendaraan khususnya sistem pengereman hingga kurangnya penguasaan terhadap rute jalan yang dilalui.
"Namun penyebab selanjutnya adalah faktor kelelahan yang dialami para pengemudi (defensive driving), oleh karena itu, pengaturan jam kerja pengemudi harus dijalankan sebaik mungkin, sehingga pada akhirnya potensi resiko terjadinya kecelakaan jalan dapat kita minimalisir dan bahkan dihindari," tandasnya.
Sementara itu, Kasubdit Manajemen Keselamatan Ditjen Hubdat Kemenhub, Ellis Simbolon, mengatakan kegiatan pelatihan ini dasari dari hasil investigasi kecelakaan bus ALS di Sumsel. Mereka melihat ALS kurang memberikan pelatihan safety driving kepada para sopirnya.
"Kami temukan mengenali memang disini faktor pengemudinya sepertinya kurang mendapatkan pelatihan, ya, atau peningkatan kapasitas makanya kegiatan ini adalah pilot project, ya, artinya ini bisa ditiru oleh perusahaan lain bagaimana artinya untuk peningkatan keselamatan," ujarnya.
Sedangkan Direktur PT ALS, Chandra Lubis dalam kesempatan itu mengatakan bahwa pelatihan ini pastinya menjadi dorongan pihaknya untuk kedepannya bisa melayani pengguna ALS menjadi lebih baik lagi.
"Memang si driver itu seperti yang dibilang Ibu Ellis tadi itu perlu mereka itu mengetahui kondisi mereka bila ada kelelahan atau saat kapan mereka harus istirahat, saat kapan mereka harus bisa mengemudi kembali, itu harus mereka jaga," katanya.
Chandra juga mengatakan sebelumnya pihaknya juga kerap membuat pelatihan dengan pihak kepolisian dan Jasa Raharja. Namun intensitasnya tidak begitu banyak hanya 2 kali dalam setahun. Dengan kegiatan ini, Chandra berharap pengetahuan para sopir dan manajemen ALS mengenai keselamatan kerja semakin lebih baik.

Instruktur Rudi memberi pengarahan kepada para sopir bus ALS.Waspada.id/Surya Efendi
"Ini adalah salah satu program dari Kementerian Perhubungan yang memang kami selalu diedukasi ya bahasanya agar lebih menjaga dan lebih baik untuk bagaimana mengutamakan keselamatan paling tinggi," ucapnya.
Dalam kesempatan itu, Chandra mengapresiasi Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, Kementerian Perhubungan Republik Indonesia yang menggagas pelatihan ini bersama ALS.
‘’Safety Driving sangat bermanfaat, khususnya bagi para sopir kami. Sesuai motto ALS: ‘’Naik Sebagai Penumpang, Turun Jadi Saudara”, harus dipahami dengan baik, sebab semboyan kami itu menyangkut kehangatan, keakraban, dan rasa persaudaraan yang tinggi antara bus ALS dengan para penumpangnya,’’ demikian Chandra.(id96)































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda