Breaking News
Memuat breaking news...

Seribu Langkah di Musda Golkar Pidie

Redaksi
Redaksi
Minggu, 30 Agustus 2026 - 6.24 AM WIB
Seribu Langkah di Musda Golkar Pidie
Muhammad Riza T. Saifullah TS, S.E., kembali dipercaya memimpin DPD II Partai Golkar Pidie dalam Musda XI. Sabtu (29/8) Waspada. Id/ Muhammad Riza.
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Ada hari ketika politik tidak perlu banyak kata untuk menunjukkan wajahnya.

Cukup sebuah gedung yang penuh. Cukup tepuk tangan yang bergemuruh. Cukup orang-orang yang datang dari berbagai penjuru, duduk dalam satu ruang, menyaksikan sebuah organisasi membuka lembaran baru.

Sabtu (29/8/2026), Gedung Meusapat Ureung Pidie menjadi saksi.

Musyawarah Daerah (Musda) XI DPD II Partai Golkar Kabupaten Pidie berlangsung spektakuler, tetapi tetap khidmat. Ratusan tamu dan undangan memenuhi gedung. Kader, peserta Musda, tokoh masyarakat, pimpinan partai politik dan tamu kehormatan larut dalam suasana persaudaraan.

Di tengah riuh itu, ada pemandangan politik yang menarik.

Tiga pimpinan daerah hadir dalam satu forum: Bupati Pidie H. Sarjani Abdullah, S.H., M.H., Wakil Bupati Pidie Alzaizi Umar, serta Ketua DPRK Pidie Anwar Sastra Putra, S.H.

Tiga simpul kekuasaan daerah bertemu di rumah sebuah partai politik.

Bukan untuk mempertontonkan perbedaan, melainkan memperlihatkan bahwa politik, pada titik tertentu, membutuhkan ruang untuk duduk bersama.

Kehadiran Bupati Pidie H. Sarjani Abdullah, S.H., M.H., Wakil Bupati Pidie Alzaizi Umar dan Ketua DPRK Pidie Anwar Sastra Putra, S.H., memberi warna tersendiri pada pembukaan Musda XI.

Alzaizi Umar mendampingi Bupati Pidie. Anwar Sastra Putra hadir dari lembaga legislatif.

Tiga nama itu berada dalam satu ruang ketika keluarga besar Golkar Pidie sedang menentukan arah perjalanan organisasinya.

Pemandangan itu seperti sebuah lukisan politik: pemerintah, legislatif dan partai berdiri pada posisi masing-masing, tetapi bertemu pada satu kepentingan yang sama, Pidie.

Bupati Pidie H. Sarjani Abdullah, S.H., M.H. kemudian menyampaikan pesan yang lebih jauh daripada sekadar ucapan selamat atas pelaksanaan Musda.

Menurutnya, Musda tidak semestinya hanya menjadi agenda rutin memilih atau menetapkan pengurus baru.

“Musyawarah bukan hanya kegiatan rutin untuk pengurus baru, tetapi juga untuk menyusun program daerah demi kesejahteraan daerah,” ujar H. Sarjani Abdullah, S.H., M.H.

Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan pekerjaan besar.

Sebab setelah kursi kepengurusan ditetapkan, masyarakat tetap menunggu.

Jalan tetap harus dibangun. Ekonomi harus bergerak. Lapangan pekerjaan harus dibuka. Dan kesejahteraan tidak bisa selesai hanya dengan tepuk tangan.

H. Sarjani Abdullah, S.H., M.H. mengatakan komunikasi antara Pemerintah Kabupaten Pidie dan Partai Golkar selama beberapa tahun terakhir berjalan baik. Bahkan komunikasi tersebut dinilainya memudahkan kerja sama, terutama dalam pembahasan anggaran dan kepentingan pembangunan.

“Dalam beberapa tahun ini kami merasa lebih mudah bekerja, terutama soal anggaran. Komunikasinya baik dan patut dijunjung tinggi. Kita berharap ke depan lebih baik lagi,” katanya.

Di tengah keterbatasan anggaran daerah, sinergi menjadi kebutuhan, bukan pilihan.

Karena itu, H. Sarjani Abdullah, S.H., M.H. menegaskan siapa pun yang mendapatkan amanah dalam Musda, Pemerintah Pidie siap bekerja sama demi kepentingan masyarakat.

Politik boleh memiliki jalan berbeda.

Tetapi pembangunan harus menuju tujuan yang sama.

Dalam catatan panitia, Musda XI diikuti 87 peserta dari unsur Pimpinan Kecamatan, organisasi kemasyarakatan pendiri dan yang didirikan Partai Golkar serta peserta peninjau.

Namun suasana Musda terasa jauh lebih besar daripada sekadar angka peserta resmi.

T. Saifullah TS, S.E. mengungkapkan bahwa dirinya semula mengundang sekitar 300-an orang. Namun yang hadir, menurutnya, lebih dari 1.000 orang.

“Saya undang 300 orang, tapi yang datang lebih dari 1.000 orang. Saya anggap ini sukses dan saya bahagia,” ujar T. Saifullah.

Di sini angka berubah menjadi simbol.Tiga ratus adalah perkiraan.

Seribu lebih adalah kenyataan yang datang mengetuk pintu.

Orang-orang hadir. Mereka memenuhi ruangan. Mereka menyaksikan. Dan mereka menjadi bagian dari sebuah momentum politik di Pidie.

T. Saifullah mengaku bahagia sekaligus terharu.

“Saya bahagia dengan pembukaan Musda XI. Saya wajib melaksanakan Musda dengan sukses, dan saya berhasil,” katanya.

Barangkali rasa bahagia itu bukan hanya karena acara berjalan lancar.

Ada rasa lega setelah sebuah amanah ditunaikan.

Ketika Pilihan Berbeda

Namun setiap musyawarah selalu memiliki cerita lain di balik tepuk tangan.

Tidak semua orang datang dengan pilihan yang sama.

Ada peserta yang mendukung T. Saifullah. Ada pula yang memilih nama lain.

Itu bukan dosa politik.

Perbedaan pilihan adalah bagian dari demokrasi.

Yang menjadi penting justru apa yang terjadi setelah keputusan diambil.

Sebab dalam sebuah rumah besar, tidak semua penghuninya harus menyukai warna dinding yang sama.

Ada yang menyukai pintu menghadap timur. Ada yang merasa jendela sebelah barat lebih baik dibuka.

Perbedaan seperti itu adalah hal biasa.Begitulah politik.Ia tidak pernah lahir dari keseragaman.

Namun ada satu hal yang semestinya tidak boleh dilupakan: ketika musyawarah telah selesai, rumah itu tetap rumah bersama.Mungkin ada yang kecewa.

Mungkin ada yang merasa pilihannya tidak menjadi kenyataan.

Mungkin ada yang sejak awal berharap nama lain berdiri di pucuk pimpinan. Semua itu bagian dari dinamika demokrasi.

Tetapi politik yang dewasa tidak berhenti pada pertanyaan, siapa yang kita dukung?

Politik yang dewasa justru bertanya, setelah pilihan kita tidak menjadi keputusan, apa yang akan kita lakukan untuk menjaga organisasi?

Di sinilah kedewasaan politik diuji.

Berbeda pilihan adalah hak. Menghormati keputusan organisasi adalah kewajiban.

Ranting dan Akar

Ibarat sebuah pohon, tidak semua ranting tumbuh mengarah ke matahari yang sama.

Ada ranting yang menghadap timur. Ada yang condong ke barat. Ada yang tumbuh miring karena diterpa angin.

Tetapi semua ranting tetap hidup dari akar yang sama.

Jika satu ranting merasa dirinya paling penting lalu mencoba memutus akar, sesungguhnya ia tidak sedang menghukum pohon.

Ia sedang menghukum dirinya sendiri.

Begitu pula organisasi.

Pengurus Kecamatan boleh memiliki pilihan politik yang berbeda. Itu bagian dari demokrasi internal. Namun setelah keputusan Musda diambil, jangan sampai perbedaan pilihan berubah menjadi keinginan melihat organisasi kehilangan kekuatannya.

Sebab dalam politik, seseorang boleh kalah dalam pilihan, tetapi tidak boleh kalah dalam kedewasaan.

Jangan karena tidak mendapatkan kursi yang diinginkan, lalu lupa bahwa masih duduk di kapal yang sama.

Bayangkan sebuah kapal yang sedang berlayar.

Tidak semua awak harus mengayuh dengan tenaga dan irama yang sama. Tetapi semuanya harus memahami ke mana kapal itu diarahkan.

Jika sebagian memilih mendayung ke kanan, sebagian ke kiri, sementara yang lain sengaja melubangi lambung kapal karena kecewa kepada nakhoda, maka kapal itu tidak akan sampai ke pelabuhan.

Dan ketika kapal tenggelam, tidak ada seorang pun yang akan bertanya siapa dahulu mendukung siapa.

Semua akan ikut basah.

Itulah pelajaran sederhana dalam politik.

Jangan karena tidak mendapatkan kursi yang diinginkan, lalu lupa bahwa kita masih berada di kapal yang sama.

Kini T. Saifullah Ts kembali dipercaya memimpin DPD II Partai Golkar Pidie.

Maka setelah Musda selesai, tidak semestinya ada lagi kelompok yang merasa harus terus memperpanjang perbedaan.Yang kalah dalam pilihan tetap keluarga.Yang menang dalam musyawarah juga tetap saudara.

Sebab organisasi tidak akan besar jika kemenangan hanya menghasilkan kesombongan dan kekalahan melahirkan dendam.

Kemenangan yang Sebenarnya

Kemenangan T. Saifullah TS, SE, dalam Musda bukanlah alasan untuk menepuk dada.

Sebaliknya, kemenangan itu harus menjadi alasan untuk membuka pintu lebih lebar kepada semua pihak.

Kader yang berbeda pilihan tidak harus dijadikan lawan.Mereka justru harus dirangkul kembali.

Sebab kemenangan terbesar seorang pemimpin bukan ketika semua orang memujinya.

Kemenangan terbesar adalah ketika orang-orang yang dahulu berbeda pilihan bersedia kembali berjalan bersamanya. Itulah kepemimpinan. Merangkul ketika bisa membalas. Memaafkan ketika bisa mengingat. Membuka ruang ketika bisa menutup pintu.

Dan menjadikan perbedaan sebagai tenaga untuk memperbesar organisasi.

Kawan, Musda XI telah selesai. Gedung Meusapat Ureung Pidie mungkin kembali sunyi setelah dipenuhi tepuk tangan. Spanduk akan diturunkan. Kursi akan dikembalikan. Tamu akan pulang.Tetapi amanah tidak ikut pulang. Ia tetap berada di pundak T. Saifullah.

Kembali dipercaya memimpin berarti kembali mendapatkan pekerjaan besar: menjaga persaudaraan, memperkuat konsolidasi, merawat komunikasi politik dan memastikan partai tetap dekat dengan masyarakat.

Sebab lebih dari 1.000 orang yang hadir adalah sebuah cerita.Tetapi apa yang dilakukan setelah mereka pulang adalah cerita yang jauh lebih penting.Musda boleh spektakuler.

Tiga pimpinan daerah boleh hadir dalam satu forum. Tepuk tangan boleh bergemuruh. Namun ukuran keberhasilan organisasi tidak berhenti pada meriahnya pembukaan. Ia akan diuji oleh hari-hari setelah Musda.

Seribu Langkah Menuju Muara

Mungkin itulah mengapa Musda XI layak disebut sebagai seribu langkah.

Lebih dari 1.000 orang datang menyaksikan sebuah momentum politik.Tetapi angka itu bukan sekadar jumlah. Ia adalah simbol. Seribu orang berarti seribu harapan. Seribu kehadiran berarti seribu kemungkinan. Dan seribu kemungkinan membutuhkan arah.

Air sungai boleh berbelok ketika bertemu batu.Ia boleh mencari celah ketika jalan tertutup. Tetapi air tidak pernah lupa menuju muara. Begitu pula kader Golkar.

Perbedaan pilihan boleh terjadi. Kekecewaan boleh dirasakan.Tetapi muara perjuangan harus tetap sama: membesarkan organisasi dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Jangan terlalu lama berhenti pada batu bernama kekecewaan. Jangan menjadikan perbedaan pilihan sebagai alasan untuk menghentikan aliran perjuangan.

Pada akhirnya, Musda XI Golkar Pidie bukan sekadar cerita tentang siapa yang terpilih.

Ia adalah cerita tentang bagaimana sebuah organisasi menghadapi perbedaan.

Tentang bagaimana orang yang berbeda pilihan belajar menerima keputusan.

Tentang bagaimana seorang pemimpin menggunakan kemenangan untuk merangkul, bukan memisahkan.

Dan tentang bagaimana kader mengubah rasa memiliki menjadi kerja nyata.

H. Sarjani Abdullah, S.H., M.H. mengingatkan bahwa Musda harus melahirkan program untuk kesejahteraan daerah.

Syarifuddin mengingatkan pentingnya soliditas.T. Saifullah mengajak kader menjaga kekompakan. Ketiga pesan itu sesungguhnya bermuara pada satu hal: politik harus kembali kepada kepentingan rakyat.

Sebab rakyat tidak hidup di dalam gedung Musda.Rakyat hidup di gampong-gampong, di sawah, di pasar, di warung kopi, di tempat usaha dan di rumah-rumah sederhana.

Di sanalah politik akhirnya diuji.Musda XI telah menutup satu halaman.T. Saifullah kembali dipercaya memimpin.Tiga pimpinan daerah hadir. Lebih dari 1.000 orang disebut datang.Tepuk tangan telah bergemuruh.

Kini semuanya tinggal sejarah.Yang belum menjadi sejarah adalah langkah berikutnya.Seribu langkah itu harus diarahkan.Bukan untuk membesarkan ego seseorang.Bukan untuk memperpanjang pertarungan.

Bukan pula untuk menghitung siapa yang dahulu berada di barisan mana.Melainkan untuk membangun rumah besar yang lebih kokoh.

Sebab berbeda pilihan adalah hak politik; tetapi setelah keputusan lahir, menjaga rumah bersama adalah kewajiban moral.

Dan pohon yang besar tidak tumbang karena satu ranting berbeda arah.Ia tumbang ketika ranting-rantingnya sendiri lupa bahwa mereka berasal dari akar yang sama.

Maka setelah Musda XI, mari berhenti menghitung siapa menang dan siapa kalah.

Mari mulai menghitung siapa yang mau bekerja.Sebab pada akhirnya, sejarah tidak terlalu lama mengingat siapa yang paling keras bertepuk tangan.Sejarah lebih lama mengingat siapa yang tetap bekerja ketika tepuk tangan telah reda.

Musda telah selesai.Seribu langkah baru saja dimulai. Dan langkah itu harus berujung pada satu muara, Golkar yang solid, Pidie yang lebih baik, dan rakyat yang lebih sejahtera. WASPADA.id

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement