Sertifikat Aneuk Mulieng, Amanah di Tangan Kadisdikbud Pidie


Tugu Aneuk Mulieng tidak sekadar berdiri di tengah Kota Sigli. Ia seperti halaman terbuka yang terus berkisah tentang melinjo, emping, ketekunan, dan tradisi yang diwariskan dari tangan ke tangan.
Kisah itu menemukan penanda baru ketika Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Pidie, Dr. Ismed, S.Pd., M.Pd., menerima sertifikat Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTBI) Keureupuk Mulieng, Kamis, 9 Juli 2026.
Selembar sertifikat mungkin tipis seperti kepingan emping. Namun, maknanya jauh lebih tebal. Ia bukan sekadar pengakuan, melainkan amanah agar warisan yang tumbuh dari kehidupan masyarakat Pidie tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Di Simpang Empat Sigli, Tugu Aneuk Mulieng menjulang sebagai ikon daerah. Kehadirannya membawa ingatan kepada melinjo, bahan utama Keureupuk Mulieng yang telah lama lekat dengan kehidupan masyarakat Pidie.
Dalam dokumen WBTBI, melinjo disebut tumbuh luas di Pidie dan hampir seluruh kecamatan memiliki masyarakat yang memproduksi Keureupuk Mulieng. Salah satu kawasan yang dikenal sebagai daerah produksi adalah Mukim Beureueh, Kecamatan Mutiara.
Tradisi mengolah melinjo menjadi emping berkembang sejak sekitar pertengahan 1960-an. Awalnya, biji melinjo lebih banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga.
Seiring perubahan kehidupan ekonomi, biji melinjo kemudian diolah menjadi emping untuk dijual.
Pembuatan Keureupuk Mulieng menyimpan keterampilan tradisional yang khas. Melinjo matang dikupas, disangrai menggunakan wajan atau neuleuk bersama pasir, kemudian bijinya dikeluarkan setelah kulitnya mudah dipecahkan.
Biji tersebut diletakkan di atas telanan, lalu dipukul dengan palu hingga pipih. Emping kemudian dipindahkan ke bleut atau (nampan-red ) untuk dijemur.

Tugu Aneuk Mulieng, ikon Pidie yang merekam jejak budaya dan melinjo. Waspada.id/Muhammd Riza
Keureupuk Mulieng tercatat dalam formulir WBTBI pada domain kemahiran kerajinan tradisional, termasuk makanan dan minuman tradisional. Dokumen tersebut juga mencatat pelaku budaya serta maestro yang menjaga keterampilan pembuatan emping melinjo di Pidie.
Karena itu, sertifikat yang diterima Dr. Ismed memiliki makna lebih jauh daripada selembar dokumen administratif. Ia seperti titipan sejarah.
Sebagai Plt. Kadisdikbud Pidie, Dr. Ismed berada di ruang strategis untuk memastikan warisan tersebut tidak berhenti pada pengakuan formal. Pendidikan dan kebudayaan memiliki tugas memperkenalkan nilai, sejarah, dan keterampilan budaya kepada generasi muda.
Anak-anak Pidie tidak cukup hanya mengenal Tugu Aneuk Mulieng sebagai ikon kota. Mereka perlu mengetahui mengapa tugu itu berdiri, mengapa melinjo menjadi bagian dari cerita Pidie, dan mengapa Keureupuk Mulieng harus dijaga.
Namun tantangan terbesar pelestarian budaya bukan hanya mempertahankan bentuk. Yang lebih penting adalah mempertahankan pengetahuan.
Budaya hidup ketika dipraktikkan, diceritakan, dan dicintai. Sebab, ketika para maestro berhenti bekerja, generasi berikutnya harus sudah memiliki tangan yang siap meneruskan keterampilan.
Aneuk Mulieng mungkin hanya sebuah nama. Keureupuk Mulieng mungkin hanya sekeping emping. Sertifikat WBTBI mungkin hanya selembar dokumen.
Namun, ketika ketiganya dipertemukan, muncul pesan besar tentang Pidie, identitas daerah tidak selalu dibangun dari sesuatu yang megah.
Kadang ia lahir dari biji kecil, ditempa oleh tangan sederhana, kemudian diwariskan menjadi kebanggaan bersama.
Tugu boleh menjadi ikon. Sertifikat boleh menjadi pengakuan. Tetapi amanah terbesar adalah memastikan budaya tetap hidup setelah generasi hari ini berganti.
Yang kecil jangan diremehkan. Yang lama jangan dilupakan. Dan yang diwariskan jangan dibiarkan hilang. Seperti kepingan emping yang lahir dari biji melinjo, Pidie mengajarkan bahwa sesuatu yang sederhana, bila dirawat dengan cinta, dapat menjelma menjadi marwah sebuah daerah. WASPADA.id
Muhammad Riza












Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda