Seumadam, Pintu Gerbang Aceh Tamiang Berdenyut 24 JamSeumadam, Pintu Gerbang Aceh Tamiang Berdenyut 24 Jam

Arus kendaraan tak pernah benar-benar berhenti di Seumadam.
Di jalur nasional Medan–Banda Aceh itu, kendaraan dari arah Sumatera Utara memasuki wilayah Aceh, sementara dari arah sebaliknya kendaraan terus melaju menuju Langkat.
Di antara deru mesin, aktivitas pedagang, pembeli, dan para pelintas jalan, Seumadam seperti memiliki denyut kehidupan sendiri.
Seumadam merupakan sebuah kampung di Kecamatan Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang. Letaknya strategis karena berbatasan langsung dengan Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.
Posisi itu menjadikannya bukan sekadar sebuah kawasan permukiman, melainkan juga salah satu wajah pertama Aceh yang dilihat para pendatang dari arah Sumatera Utara.
Pada masa kolonial Belanda, Seumadam dikenal sebagai kawasan perkebunan bernama Seumadam Cultuur Mij.
Sejarah itu kemudian berlekatan dengan perkembangan masyarakat. Berbagai fasilitas pendidikan serta keagamaan, termasuk Dayah Perbatasan Manarul Islam keberadaannya mewarnai daerah itu.
Ketika Aceh Tamiang resmi dimekarkan dari kabupaten induknya, Aceh Timur, pada 2 Juli 2002, kawasan Seumadam perlahan ikut tumbuh mengikuti perkembangan daerah baru tersebut. Kini, wajah Seumadam jauh berbeda.
Dari Kios Jajanan hingga Warung Kopi
Di sekitar pintu gerbang perbatasan, deretan kios permanen tumbuh menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat.
Jajanan khas Aceh, makanan ringan, minuman, hingga berbagai kebutuhan perjalanan tersedia di kawasan tersebut.
Menariknya, bukan hanya masyarakat Aceh Tamiang yang berbelanja. Warga dari wilayah Langkat yang berbatasan langsung dengan Aceh juga kerap menyeberang untuk menikmati kuliner dan membeli berbagai dagangan yang tersedia.
Seumadam pun menjadi ruang pertemuan dua wilayah.
Batas administratif boleh berbeda, tetapi aktivitas ekonomi membuat masyarakat di kedua sisi perbatasan saling terhubung.
Suasana serupa terlihat di pertigaan Jalan Seumadam menuju kawasan Pulau Tiga dan Tenggulun. Lokasinya berada tepat di jalur nasional Medan–Banda Aceh, sehingga hampir sepanjang hari kawasan itu dipadati pedagang, pembeli, kendaraan pribadi, hingga kendaraan angkutan jarak jauh.
Mini market berdiri berdampingan dengan kios-kios masyarakat. Aktivitas jual beli berlangsung dari pagi hingga malam, bahkan sebagian kawasan tetap hidup hingga dini hari. Seolah-olah, roda ekonomi Seumadam tidak mengenal kata berhenti.
Kehadiran Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) semakin melengkapi denyut aktivitas kawasan tersebut.
Areal parkir yang luas membuat SPBU bukan hanya menjadi tempat mengisi bahan bakar. Bagi pengguna kendaraan yang menempuh perjalanan jauh dari Banda Aceh menuju Sumatera Utara maupun sebaliknya, kawasan ini berubah menjadi tempat persinggahan.
Sebuah warung kopi dengan bangunan yang cukup representatif berdiri di kawasan SPBU. Di sana, para pelintas dapat melepas penat, menikmati kopi, makanan dan minuman sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
Ada satu pemandangan lain yang tidak kalah menarik.
Di atas jalan nasional, membentang konstruksi baja yang menyerupai jembatan layang. Di sanalah jalur rel kereta api melintas.
Meski hingga kini belum difungsikan oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI). Keberadaan infrastruktur tersebut menjadi bagian dari lanskap Seumadam sekaligus menyimpan potensi besar bagi perkembangan kawasan pada masa mendatang.
Bagi sebuah kawasan yang berada di pintu masuk Aceh, Seumadam sebenarnya memiliki modal yang lengkap. Diantaranya posisi geografis strategis, aktivitas ekonomi masyarakat berdenyut, jalur nasional membentang panjang, fasilitas perdagangan ramai, ada SPBU, serta berbagai infrastruktur pendukung lainnya ada dikawasan terssbut.
Namun, di balik geliat ekonomi itu, ada pekerjaan rumah yang tidak bisa diabaikan.
Ketika Denyut Ekonomi Berhadapan dengan Kemacetan
Semakin ramai sebuah kawasan, semakin besar pula kebutuhan terhadap penataan.
Di Seumadam, persoalan itu mulai terlihat jelas. Badan jalan di sekitar pertigaan semakin terasa sempit akibat rapatnya bangunan pertokoan dan kios.
Kendaraan yang keluar-masuk SPBU juga kerap menambah kepadatan arus lalu lintas.
Kondisi semakin rumit ketika pembeli berhenti atau memarkir kendaraan di badan jalan untuk berbelanja di kios-kios jajanan.
Kios kuliner khas Aceh memang memiliki daya tarik tersendiri. Keberadaannya merupakan bagian dari denyut ekonomi masyarakat yang harus dipertahankan.
Tetapi mempertahankan bukan berarti membiarkan kawasan tumbuh tanpa penataan.
Bangunan kios perlu ditata ulang. Bila memungkinkan, ditarik mundur dari bahu jalan. Ruang parkir yang memadai juga perlu disediakan agar aktivitas ekonomi tidak mengganggu keselamatan dan kelancaran pengguna jalan.
Dengan begitu, pedagang tetap mendapatkan tempat untuk mencari nafkah, sementara pengguna jalan memperoleh ruang yang aman dan nyaman.
Membuat Pintu Gerbang yang Lebih Berkesan
Seumadam semestinya tidak hanya dipandang sebagai kawasan perlintasan. Ia bisa menjadi etalase Aceh Tamiang.
Karena itu, wajah kawasan tersebut layak dipercantik dan ditata secara lebih serius. Penerangan jalan, rambu-rambu lalu lintas, taman jalan, hingga penataan bangunan dan area parkir dapat menjadi bagian dari pembenahan.
Jembatan rel kereta api yang melintas di atas jalan nasional juga dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari identitas visual kawasan.
Penerangan artistik atau art lighting dapat membuat struktur tersebut lebih menarik pada malam hari.
Sebuah papan ucapan selamat datang yang representatif juga dapat dipasang menghadap arah perjalanan menuju Kuala Simpang.
Tulisan “SELAMAT DATANG DI ACEH TAMIANG” bisa menjadi penanda bahwa seseorang telah memasuki wilayah Aceh.
Sebaliknya, dari arah Aceh menuju Langkat, Sumatera Utara, dapat ditampilkan ucapan “SELAMAT JALAN”.
Sederhana, tetapi memiliki makna.
Sebab, gerbang sebuah daerah bukan hanya soal batas wilayah. Ia adalah kesan pertama bagi orang yang datang dan kesan terakhir bagi mereka yang pergi.
Seumadam dan Wajah Aceh Tamiang
Pelebaran jalan di kawasan Bukit Seumadam nantinya juga perlu diikuti dengan penataan kawasan perdagangan dan pasar.
Jangan sampai pembangunan jalan hanya memperlebar ruang kendaraan, sementara persoalan parkir, kios, pedagang kaki lima, dan arus keluar-masuk kendaraan tetap dibiarkan.
Penataan harus dilakukan secara menyeluruh. Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang bersama pemangku kepentingan terkait dapat menjadikan Seumadam sebagai salah satu kawasan prioritas penataan wajah daerah.
Bukan untuk menghilangkan aktivitas ekonomi masyarakat, melainkan untuk membuatnya lebih tertib, aman dan memiliki nilai estetika.
Sebab, Seumadam sudah memiliki sesuatu yang tidak bisa dibangun dalam waktu singkat.
Ada pedagang yang menggantungkan penghasilan dari kios kecilnya. Ada warga yang datang membeli makanan. Ada pengemudi yang berhenti mengisi bahan bakar. Ada pelintas yang sekadar menyeruput kopi sebelum melanjutkan perjalanan.
Semua bertemu dalam satu ruang bernama Seumadam. Kini tinggal bagaimana denyut itu ditata agar tidak berubah menjadi kesemrawutan.
Sutrisno































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda