Breaking News
Memuat breaking news...

Smart Money Akumulasi Saham Komoditas, IPOT Rekomendasikan Saham-Saham Uptrend Ini

Redaksi
Redaksi
Senin, 31 Agustus 2026 - 9.49 AM WIB
Smart Money Akumulasi Saham Komoditas, IPOT Rekomendasikan Saham-Saham Uptrend Ini
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

JAKARTA (Waspada.id): Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat 4,52% sepanjang Agustus 2026 dan ditutup di level 6.518 pada akhir perdagangan Jumat, 28 Agustus 2026 melanjutkan tren recovery setelah sebelumnya terkoreksi hingga level 5.317 pada Juni 2026.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Hari Rachmansyah menegaskan, penguatan dua bulan berturut-turut tersebut menunjukkan kembali terbentuknya buying bias dan semakin solidnya momentum pemulihan indeks.

Dari sisi domestik, terang Hari, kepastian proses suksesi Gubernur Bank Indonesia turut mengurangi salah satu sumber ketidakpastian pasar, setelah Destry Damayanti memperoleh persetujuan Komisi XI DPR dan penetapan melalui rapat paripurna dijadwalkan pada 1 September.

Sementara itu, Bank Indonesia kembali mempertahankan BI-Rate di 5,75% untuk ketiga kalinya berturut-turut dengan fokus menjaga stabilitas Rupiah di tengah volatilitas global dan ketidakpastian geopolitik.

Dari sisi global, imbuhnya, sentimen pasar masih dipengaruhi oleh arah kebijakan The Fed. Pidato Kevin Warsh di Jackson Hole menunjukkan nada yang cenderung hawkish dengan inflasi PCE masih berada di 3,7% YoY, jauh di atas target The Fed sebesar 2%. Kondisi tersebut meningkatkan risiko higher for longer dan berpotensi memberikan tekanan terhadap aliran dana ke pasar negara berkembang.

"Di sisi lain, aksi unjuk rasa domestik yang sempat memicu koreksi IHSG sebesar 1,48% pada 26 Agustus berhasil diredam oleh rebound 1,81% pada 27 Agustus mengindikasikan bahwa political risk mulai lebih banyak diantisipasi pasar," tandasnya.

Sentimen Global dan Domestik Pekan Ini

Memasuki September 2026, perhatian investor global akan tertuju pada sejumlah data ekonomi Amerika Serikat yang berpotensi menentukan arah kebijakan The Fed. Investor akan mencermati S&P Global Manufacturing PMI, ADP Nonfarm Employment Change, ISM Manufacturing PMI, JOLTS Job Openings, Initial Jobless Claims, S&P Global Services PMI, ISM Non-Manufacturing PMI, Average Hourly Earnings, Nonfarm Payrolls, dan Unemployment Rate.

"Data tersebut akan menjadi indikator penting untuk menilai kekuatan ekonomi AS sekaligus menentukan ekspektasi pasar terhadap keputusan suku bunga The Fed pada September," jelasnya.

Dari sisi inflasi, nada hawkish Kevin Warsh di Jackson Hole menjadi perhatian karena tekanan harga masih relatif tinggi. PCE sebesar 3,7% YoY dan annualized 6-month sebesar 4,1% masih berada jauh di atas target 2%, sehingga membuka peluang bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan yang lebih ketat apabila inflasi belum menunjukkan perlambatan berarti.

"Kondisi tersebut berpotensi menopang dolar AS dan yield obligasi, sekaligus menekan aliran dana ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia."

Sementara itu, pasar komoditas masih menjadi faktor penting bagi pasar global. Harga emas berada di US$4.454/oz dan tetap mencatat penguatan sekitar 9,54% secara bulanan meskipun terkoreksi akibat sentimen hawkish The Fed.

Harga batubara berada di US$139,75/ton didukung permintaan energi global dan kekhawatiran pasokan. Sebaliknya, harga minyak WTI turun 1,21% MoM menjadi US$83,44/barel seiring membaiknya arus distribusi melalui Selat Hormuz, sementara harga nikel masih menghadapi tekanan akibat surplus refined nickel dan permintaan China yang belum kuat.

Selanjutnya dari sentimen domestik, market akan dipengaruhi oleh perkembangan kebijakan Bank Indonesia, stabilitas rupiah, arus dana asing, serta data ekonomi makro. Investor akan mencermati inflasi, core inflation, ekspor-impor, dan neraca perdagangan Indonesia yang dijadwalkan dirilis pada 4 September.

"Data tersebut akan memberikan gambaran mengenai kondisi konsumsi, tekanan harga, serta stabilitas sektor eksternal dan berpotensi mempengaruhi ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter Bank Indonesia," ujarnya.

Selain itu, proses suksesi Gubernur BI yang memasuki tahap akhir berpotensi mengurangi ketidakpastian terkait kesinambungan kebijakan moneter.

BI juga mempertahankan BI-Rate di 5,75% untuk ketiga kalinya berturut-turut, menegaskan prioritas terhadap stabilitas Rupiah. Di sisi korporasi, kinerja laporan keuangan 1H26 masih memberikan dukungan fundamental bagi pasar, terutama pada sektor perkebunan, minyak & gas, serta ritel dan konsumsi, sehingga peluang selective stock picking tetap terbuka pada emiten dengan pertumbuhan laba dan prospek bisnis yang resilient.

Dari sisi aliran modal, investor perlu mencermati implementasi rebalancing MSCI yang efektif 1 September serta semi-annual review FTSE Russell pada 21 September.

Meskipun sebagian ekspektasi perubahan konstituen dan foreign flow telah priced-in sepanjang Agustus, actual implementation flow tetap berpotensi meningkatkan volatilitas di sekitar tanggal efektif rebalancing.

Prediksi IHSG dan Rekomendasi IPOT Pekan Ini

Secara fundamental, prospek IHSG memasuki September masih relatif konstruktif didukung oleh pemulihan ekonomi domestik, kepastian proses suksesi Gubernur BI, stabilitas kebijakan moneter, serta fundamental emiten yang masih resilient.

"IHSG juga telah mencatat back-to-back rally dengan penguatan 4,52% MoM sepanjang Agustus, memperkuat struktur uptrend jangka panjang. Namun, investor tetap perlu mewaspadai risiko dari kebijakan The Fed yang lebih hawkish, potensi tekanan foreign flow, rebalancing indeks global, serta seasonality September yang secara historis cenderung lebih rentan terhadap koreksi."

Dari sisi teknikal, IHSG saat ini berada dalam fase recovery dan telah menembus resistance 6.454, yang kini berpotensi menjadi support jangka pendek. Resistance berikutnya berada di 6.537, bertepatan dengan Fibonacci retracement 0,5.

Apabila IHSG mampu menembus dan bertahan di atas level tersebut, peluang penguatan menuju 6.822 sebagai Fibonacci retracement 0,618 semakin terbuka. Sebaliknya, apabila indeks gagal mempertahankan support 6.454, IHSG berpotensi kembali menguji 6.243, yang merupakan area EMA50 sekaligus support kunci berikutnya.

Secara keseluruhan, outlook IHSG untuk September berada pada Neutral to Bullish, dengan struktur teknikal yang tetap konstruktif selama support 6.454 terjaga. Namun, kombinasi seasonality September, ketidakpastian arah kebijakan The Fed, serta potensi volatilitas akibat rebalancing MSCI dan FTSE membuat investor tetap perlu mengantisipasi profit taking jangka pendek.

Strategi yang dapat dipertimbangkan adalah akumulasi bertahap pada saham-saham dengan fundamental dan earnings growth yang solid, sembari menunggu konfirmasi breakout IHSG di atas area 6.537–6.551. Jika breakout tersebut terkonfirmasi, peluang melanjutkan recovery menuju 6.822 akan semakin terbuka," sarannya.

Merespons dinamika market ini IPOT yang didukung infrastruktur institusi, dana kelolaan Rp312 Triliun dan The First Full Scale AI Powered Trading Decision Engine dengan fitur-fitur berteknologi AI untuk membantu pengguna muda menganalisis pasar, memberikan rekomendasi portofolio yang relevan, hingga membantu mengambil keputusan investasi secara lebih presisi, cepat, dan terukur merekomendasikan saham-saham berikut ini untuk trading pekan ini.

1. Buy AADI (Current Price: 10,225, Entry: 10,225, Target Price: 10,525 (2.93%), Stop Loss: 10,050 (-1.71%), Risk to Reward Ratio 1:1.7). Emiten AADI (PT Adaro Andalan Indonesia Tbk) menarik untuk buy karena bergerak uptrend dan smart money di IPOT memperlihatkan akumulasi 112.1 Bio dalam sepekan.

2. Buy ITMG (Current Price: 25,650, Entry: 25,650, Target Price: 26,425 (3.02%), Stop Loss: 25,375 (-1.07%) dan Risk to Reward Ratio 1:2.8). Harga emiten ITMG (PT Indo Tambangraya Megah Tbk) bergerak di atas EMA5 hingga EMA50 dan smart money masih terus melakukan akumulasi positif sehingga layak buy pekan ini.
3. Buy TKIM (Current Price: 8,050, Entry: 8,050, Target Price: 8,300 (3.11%), Stop Loss: 7,900 (-1.86%) dan Risk to Reward Ratio 1:1.7). Emiten TKIM (PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk) secara tren jangka bergerak uptrend dan dalam sepekan terakhir asing mulai melakukan akumulasi sehingga layak buy untuk trading pekan ini.

4. Buy Obligasi PBS038 dan PBS030. Instrumen pendapatan tetap juga menarik untuk diperhatikan pekan ini. Bagi investor yang ingin memperoleh imbal hasil maksimal, seri PBS038 dengan YTM 7.09% dapat menjadi pilihan utama karena menawarkan return kompetitif dengan tenor panjang. Sementara itu, untuk investor yang lebih mengutamakan fleksibilitas dengan tenor jangka pendek, seri PBS030 dengan YTM 6.50% tetap memberikan peluang menarik. (id09)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement