Soetjipto ''GARENG'' Soentoro Kapten PSMS Medan Di AFC Champions Cup 1970Soetjipto ''GARENG'' Soentoro Kapten PSMS Medan Di AFC Champions Cup 1970

Oleh: Indra Efendi Rangkuti
Soetjipto Soentoro alias Gareng kelahiran Bandung 16 Juni 1941 adalah salah satu legenda Timnas Indonesia pada era awal 60-an hingga awal 70-an. Bicara tentang sepak bola Indonesia tidak lengkap tanpa membahas sosok Kapten Legendaris Timnas ini. Sosoknya yang piawai dalam mengatur irama permainan dan tajam dalam mencetak gol membuat dirinya menjadi sosok yang disegani baik di Indonesia maupun di Asia dan Internasional.
Bicara tentang Tjipto alias Gareng selama ini memang diidentikkan dengan Persija karena di klub inilah Tjipto alias Gareng memulai karirnya sebagai pesepak bola dan menutup karirnya sebagai pesepak bola. Dan bersama Persija pula Tjipto meraih kesuksesan dengan membawa Persija berjaya. Bicara Persija tak akan lengkap tanpa menyebut Soetjipto Soentoro.
Namun Tjipto alias Gareng juga pernah memperkuat PSMS Medan dan bersama PSMS pula Tjipto menorehkan “tinta emas” dalam karirnya dengan kesuksesan membawa PSMS merajai sepak bola Indonesia dan membawa PSMS berjaya di Asia.

PSMS MEDAN 1969 (Ki-Ka) : Iswadi Idris, Abdul Kadir, Achmadsyah "Ipong" Silalahi, Anwar Ujang, Sunarto, Sarman Panggabean, Jacob Sihasale, Yuswardi, M.Basri, Yudo Hadianto dan Soetjipto Soentoro (Cpt)
Sebelum bergabung dalam klub, saat berumur belasan tahun Soetjipto bermain sepak bola di jalanan di daerah Kebayoran Baru, Jakarta, pada tahun 1954. Selanjutnya, ia menjelma menjadi salah satu pemain hebat sepanjang sejarah sepak bola Indonesia hingga level Asia dan Internasional.
Peruntungannya berubah sejak bergabung dengan IPPI Kebayoran. Namanya mulai dikenal publik ketika membela Setia Jakarta (klub internal Persija). Di usianya yang baru 16 tahun Soetjipto sudah memperkuat Persija. Gareng pun menjadi sebutan Soetjipto lantaran tubuhnya yang tak terlalu tinggi itu.
Pelatih timnas junior kala itu Djamiat Dalhar, mengetahui potensi yang dimiliki Soetjipto dan menariknya ke timnas junior. Pada AFC Youth Championship 1960, Soetjipto Soentoro mencetak lima gol untuk mengantarkan Indonesia lolos ke Semifinal. Pada pertandingan pertama melawan Singapura Tjipto sukses mencetak 2 gol dan membawa Timnas menang 9-3 atas Singapura. Penampilannya yang gemilang di turnamen ini membuatnya menerima panggilan timnas senior yang waktu itu dilatih oleh Tony Pogacknick.
Kemampuan menjaga bola dari serangan lawan, tendangannya yang keras dan terarah dari berbagai sudut, serta kemampuan mengecoh pemain lawan menjadi contoh kelebihan Soetjipto. Tjipto menyandang ban kapten timnas selama beberapa tahun. Dan Soetjipto Soentoro menjadi aktor penting yang sukses membawa Persija Juara Kejurnas PSSI 1964 mengungguli PSM, Persib, PSMS dan Persebaya.
Seperti dikutip dalam buku Sepakbola Indonesia Alat Perjuangan Bangsa, saat timnas melakukan lawatan ke beberapa negara di Eropa medio 1965, sosok Soetjipto cukup memukau publik di sana dengan mencetak gol-gol spektakuler, terutama ketika melawan Feyenoord dan Werder Bremen.
Ketika melawan Bremen Tjipto berhasil mencetak hattrick dan penampilannya mengundang decak kagum walau akhirnya Timnas kalah 5-6 dalam duel di Bremen tersebut. Penampilan gemilangnya ini membuat Manajer Werder Bremen menawari Tjipto untuk memperkuat Bremen namun ditolak oleh Tjipto karena tidak disetujui oleh Presiden Soekarno.
Ketika memimpin rekan – rekannya di Timnas pada Kings Cup 1968 di Bangkok, ia berhasil membawa timnya menjadi juara untuk pertama kalinya. Timnas Indonesia menjadi tim yang tak terkalahkan dalam turnamen ini.
Dalam partai alokasi grup menang dengan Malaysia 1-0. Indonesia tergabung di grup 2 bersama dengan Burma dan Singapura. Ia mencetak 2 gol dalam pertandingan melawan Burma sebelum Indonesia menambah keunggulan melalui sundulan Jacob Sihasale.
Dalam pertandingan kedua melawan Singapura, ia menyumbangkan 1 gol yang berakhir dengan skor 7-1 bagi kemenangan Indonesia. Di partai Semifinal, Indonesia berhasil menang telak atas musuh bebuyutannya Malaysia 6-1. Indonesia sempat tertinggal terlebih dahulu sebelum ia mencetak gol penyeimbang sekaligus mencetak dua gol pada pertandingan itu.

Kapten PSMS Medan Soetjipto Soentoro berduel dengan pemain Persija Renny Salaki di Kejurnas/Divisi Utama Perserikatan PSSI 1969
Akhirnya Indonesia melaju ke babak final dan ketika itu Indonesia sanggup mengalahkan Burma 1-0 walaupun Burma lebih mendominasi pertandingan. Satu-satunya gol dalam pertandingan itu dicetak oleh sang Kapten Timnas Soetjipto Soentoro sekaligus memastikan Indonesia menjadi Juara Kings Cup 1968 pada Final yang berlangsung pada 2 Desember 1968.
Seusai Kings Cup 1968 Soetjipto Soentoro bersama Iswadi Idris, Mulyadi, Judo Hadianto dan Sinyo Aliandoe direkrut dari Persija oleh Pardedetex, merupakan klub profesional pertama di Indonesia. Selain bintang-bintang Persija tersebut turut pula dikontrak bintang Persebaya yaitu Abdul Kadir dan Jacob Sihasale, bintang Persika Karawang Anwar Ujang, bintang PSM M.Basri dan bintang Persib Max Timisela serta bintang PSMS Medan Sarman Panggabean, Sunarto dan Azis Siregar.
Pardedetex banyak melakukan tur ke luar negeri dengan hasil yang gemilang. Untuk tur luar negeri ini Pardedetex juga mengontrak secara khusus bintang Persija Surya Lesmana dan bintang Persebaya Waskito.
Namun Pardedetex tidak bisa ikut Kejurnas PSSI sehingga waktu itu Pardedetex bergabung di kompetisi Klas Utama PSMS. Akhirnya pada waktu itu seluruh skuad Pardedetex memperkuat PSMS di Kejurnas PSSI 1969 kecuali Surya Lesmana yang kembali ke Persija, Waskito yang kembali ke Persebaya dan Dede Rusli yang kembali ke Persib.
Pada 1969 Soetjipto Soentoro sebagai kapten tim berperan besar membawa PSMS Medan Juara Kejurnas/Divisi Utama Perserikatan PSSI untuk kedua kalinya setelah sebelumnya Juara pada 1967. Perpaduan bintang – bintang Pardedetex dengan anak asli Medan non Pardedetex seperti Ronny Pasla, Achmadsyah “Ipong” Silalahi, Yuswardi, Tumsila, Zulham Yahya, Syamsuddin, Nobon dll membuat PSMS menjadi kekuatan superior di Kejurnas PSSI 1969 ini.
Pada putaran Final yang diikuti 7 klub terbaik Indonesia yaitu PSMS, Persija, PSM, Persebaya, PSKB Binjai, Persib dan Persipura ini, PSMS sukses menjadi yang terbaik dengan meraih 4 kemenangan dan 2 kali draw dengan memasukkan 29 gol dan hanya kemasukan 2 gol. Kondisi ini membuat PSMS menjadi miniatur Timnas Indonesia. Bahkan dalam beberapa ajang resmi timnas waktu itu, 90% pemain timnas adalah adalah pemain PSMS Medan.
Pada PON VII tahun 1969 yang berlangsung di Surabaya pada 26 Agustus – 6 September 1969, Tjipto bersama rekan – rekannya di PSMS yang memperkuat Tim PON Sumut sukses membawa tim sepak bola Sumatera Utara meraih medali Emas PON 1969 setelah di Final yang sempat diwarnai kericuhaan antarpemain ini, Sumut menaklukkan DKI Jakarta 2-1.
Seperti halnya di PSMS, Tjipto juga menjadi Kapten Tim di Tim PON Sumut ini. Soetjipto Soentoro sendiri sukses menjadi top skor dengan 16 gol dan ini memecahkan rekor 15 gol yang sebelumnya dicatat oleh seniornya di PSMS dan Tim PON Sumut pada PON 1953, Yusuf Siregar. Ini adalah Medali Emas ketiga bagi Sumut setalah sebelumnya sukses meraih Medali Emas di PON 1953 dan 1957.
Pada 1969 ini pula Soetjipto bersama 15 rekannya dari PSMS memperkuat Timnas Indonesia di Merdeka Tournament yang berlangsung di Malaysia. Hanya Surya Lesmana dan Budi Santoso yang waktu bukan pemain PSMS.

Soetjipto Soentoro bersama rekan - rekannya di PSMS Anwar Ujang, M.Basri dan Sarman Panggabean pada Kejurnas PSSI 1969 (Dok.Kel.Soetjipto Soentoro)
Di Final yang berlangsung pada 9 November 1969 di stadion Merdeka Malaysia,Timnas Indonesia berhadapan dengan tuan rumah Malaysia.
Timnas Indonesia sukses menjadi Juara setelah di Final menaklukkan Malaysia 3-2. Gol Indonesia dicetak oleh Iswadi Idris, Soetjipto Soentoro dan Jacob Sihasale. Kemenangan ini sendiri cukup berarti bagi Indonesia mengingat rivalitas berat yang terjadi diantara kedua tim dalam berbagai turnamen.
Sebagai penghargaan atas prestasi yang diukirnya bersama PSMS dan Tim PON Sumut pada tahun 1969, Wali Kota Medan H. Sjoerkani memberi penghargaan “Warga Utama Kota Medan” kepada Soetjipto Soentoro dan rekan – rekannya.
Pada 1970 Soetjipto memimpin rekan - rekannya membawa PSMS Medan sebagai klub Indonesia pertama yang tampil di AFC Champions Cup (waktu itu bernama Asian Champion Club Tournament) yang berlangsung di Teheran dan lolos sampai Semi Final. Di Semifinal ini PSMS takluk 0-2 dari tuan rumah Taj Teheran yang pada akhirnya tampil menjadi Juara. Di AFC Champions Cup 1970 ini PSMS akhirnya menduduki peringkat IV setelah dalam perebutan tempat ketiga kalah 0-1 dari Homenetmen (Lebanon).
Ini merupakan Sejarah Emas bagi PSMS dan persepakbolaan Indonesia. Apalagi dalam penyisihan grup PSMS sukses menaklukkan West Bengal (India) 1-0 dan Royal Thai Police (Thailand) 4-0.
Selain sebagai kapten tim PSMS, di AFC Champions Cup 1970 ini Soetjipto Soentoro turut menyumbangkan 2 gol untuk PSMS Medan. Satu gol dicetaknya ketika PSMS menaklukkan Royal Thai Police 4-0 dan satu gol lagi ketika PSMS takluk 1-3 dari Hapoel Tel Aviv

PSMS DI AFC CHAMPIONS CUP 1970 TEHERAN: (Berdiri Ki-Ka) Sinyo Aliandoe, Anwar Ujang, Yuswardi, Mulyadi, M.Basri, Jacob Sihasale dan Soetjipto Soentoro (cpt). (Jongkok Ki-Ka) Iswadi Idris, Yudo Hadianto, Sunarto dan Abdul Kadir
Tentang kiprahnya di PSMS yang sukses ini dalam sebuah wawancara pada tahun 1991 menjelaskan bahwa dirinya bersama rekan – rekannya yang berasal dari luar Medan dan Sumut memakai prinsip “Di Mana Bumi Dipijak Di Situ Langit Dijunjung” dalam bermain. Artinya ketika di PSMS maka hati, jiwa dan loyalitas mereka murni untuk PSMS walau harus berhadapan dengan klub asal mereka sebelumnya.
Seperti ketika melawan Persija, walau mereka di PSMS mereka tidak segan – segan bermain keras. Bahkan ketika memperkuat Tim PON Sumut melawan DKI Jakarta di PON 1969, Tjipto, Iswadi, Yudo Hadianto, Sinjo Aliandoe terlibat baku hantam dengan rekan – rekan mereka di Persija yang membela Tim PON DKI Jakarta.
Bahkan Tjipto merasa bangga mampu memimpin rekan - rekannya di PSMS Medan meraih hasil gemilang di AFC Champions Cup 1970 dan mampu bersaing dengan klub - klub elit Asia masa itu.
Seusai AFC Champions Cup 1970 ini Tjipto dan rekan – rekannya di Timnas kembali ke klub asal mereka sebelum pindah ke PSMS. Hanya Anwar Ujang yang waktu itu bertahan di PSMS.
Seusai Asian Games 1970 Tjipto menyatakan mundur dari Timnas karena merasa bertanggung jawab atas kegagalan membawa Timnas meraih Medali Emas di Asian Games 1970. Mundurnya Tjipto ini sangat disayangkan oleh para pecinta sepak bola Indonesia apalagi saat itu dirinya berada pada masa kejayaannya sebagai pesepak bola.
Tahun 1971 Soetjipto memutuskan gantung sepatu sebagai pesepak bola seusai membela Persija di Kejurnas PSSI. Setelah belajar ilmu kepelatihan di Jerman Barat, Soetjipto beralih profesi menjadi pelatih. Tercatat Buana Putra Galatama, Persiba Balikpapan, PSP Padang dan Persiraja Banda Aceh pernah dilatihnya.
Soetjipto Soentoro sebagai pelatih pernah membawa timnas junior ke Piala Dunia U-20 di Tokyo pada tahun 1979. Dan hingga kini, inilah satu – satunya keikutsertaan Indonesia di Piala Dunia U-20. Dan pada Piala Dunia U-20 ini Indonesia sempat menjajal Argentina yang waktu itu diperkuat Diego Maradona dan Timnas kalah 0-5 dalam duel tersebut.
Pada tanggal 12 November 1994 Soetjipto Soentoro dipanggil Allah SWT dalam usia 53 tahun di Jakarta. Harian Waspada Medan, Minggu, 13 November 1994 membuat berita meninggalnya Soetjipto dengan judul sebagai headline di halaman olahraga dengan kalimat "Meninggalnya Soetjipto Soentoro Sang Bintang PSMS dan Pardedetex" walaupun dalam berbagai media dirinya hanya disebut sebagai legenda Persija dan Timnas.
Tjipto memang Legenda dan Ikon Persija karena 90% karirnya dijalani bersama Persija dengan raihan prestasi yang hebat. Namun walau hanya sekitar satu setengah tahun di PSMS, Tjipto akan tetap dikenang sebagai salah satu Legenda PSMS berkat torehan prestasinya yang sukses bersama PSMS.
Sungguh sebuah kebanggaan Indonesia pernah memiliki superstar seperti Soetjipto Soentoro. Namanya akan tetap harum sebagai Pesepakbola Legendaris Persija, PSMS dan Timnas.
Dan 16 Juni 2026 ini, tepat 85 tahun hari kelahiran Soetjipto Soentoro.
Kenangan kejayaannya bersama PSMS Medan akan tetap hidup di dalam sejarah sepak bola Medan, Sumut dan Indonesia. WASPADA.id
Penulis adalah pemerhati olahraga































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda