Breaking News
Memuat breaking news...

Sofyan Tan Dorong Hidroponik Jadi Solusi Ketahanan Pangan Dan Pemberdayaan Disabilitas

Redaksi
Redaksi
Sabtu, 12 September 2026 - 6.05 PM WIB
Sofyan Tan Dorong Hidroponik Jadi Solusi Ketahanan Pangan Dan Pemberdayaan Disabilitas
Anggota DPR RI Komisi X dr Sofyan Tan menghadiri kegiatan Bimbingan Teknis Budidaya Tanaman Berbasis Hidroponik di Kota Medan, Sabtu (12/9).
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN (Waspada.id): : Keterbatasan lahan di perkotaan bukan alasan untuk berhenti bertani. Budidaya hidroponik dinilai dapat menjadi solusi pertanian perkotaan sekaligus mendukung ketahanan pangan, membuka peluang ekonomi dan memberdayakan kelompok masyarakat, termasuk penyandang disabilitas.

Hal itu disampaikan Anggota DPR RI Komisi X dr Sofyan Tan dalam kegiatan Bimbingan Teknis Budidaya Tanaman Berbasis Hidroponik di Kota Medan yang digelar bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Sabtu (12/9).

Sofyan Tan mengatakan, hidroponik memiliki sejumlah keunggulan karena tidak membutuhkan lahan luas. Sistem tersebut dapat diterapkan di berbagai tempat dengan penyediaan air dan nutrisi yang sesuai kebutuhan tanaman.

“Tidak butuh lahan yang besar. Produksinya juga lebih cepat dan seragam,” kata Sofyan.

Menurutnya, hidroponik menjadi menarik dikembangkan di perkotaan karena masyarakat dapat memanfaatkan ruang terbatas untuk menghasilkan pangan. Dengan demikian, kebutuhan rumah tangga tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan dan harga pangan di pasar.

Sofyan mencontohkan pengalamannya melihat masyarakat di sejumlah negara yang memanfaatkan lahan di sekitar rumah untuk menanam kebutuhan pangan sendiri. Menurutnya, pola tersebut dapat dikembangkan di Indonesia untuk memperkuat kemandirian pangan keluarga.

“Kalau kita menanam untuk kebutuhan sendiri, kita tidak terlalu khawatir ketika harga pangan di pasar naik,” ujarnya.

Lebih jauh, Sofyan ingin pengembangan hidroponik tidak sekadar menghasilkan tanaman, tetapi juga menjadi sarana pemberdayaan masyarakat.Ia bahkan memiliki gagasan memadukan budidaya hidroponik dengan pemberdayaan penyandang disabilitas.

Menurutnya, keterbatasan fisik bukan

berarti seseorang tidak mampu produktif dan memiliki kemandirian.

“Saya ingin menggabungkan pemberdayaan disabilitas dengan tanaman hidroponik. Saya ingin membuktikan bahwa disabilitas bukan sesuatu yang kalah atau tidak berguna. Justru mereka memiliki keistimewaan,” katanya.

Sementara peneliti BRIN, Prof. Aris Pramudia, menjelaskan, hidroponik pada dasarnya merupakan konsep budidaya yang memungkinkan tanaman tumbuh tanpa tanah dengan menyediakan air dan nutrisi yang dibutuhkan tanaman.

Ia menerangkan, tanaman membutuhkan karbon dioksida, air, nutrisi dan cahaya matahari untuk menjalankan proses fotosintesis. Tanah tidak hanya berfungsi sebagai sumber nutrisi, tetapi juga menjadi media agar tanaman dapat berdiri.

“Kalau air dan nutrisi untuk tanaman bisa disediakan manusia, tentu tanaman tidak membutuhkan lagi tanah. Itulah konsep budidaya tanaman yang kita kenal dengan hidroponik,” jelasnya.

Menurut peneliti BRIN yang memiliki keahlian di bidang ilmu tanah, agrometeorologi dan hidrologi itu, konsep tersebut sangat relevan dengan pertanian perkotaan atau urban farming. Pertanian perkotaan, katanya, dibutuhkan karena jumlah penduduk terus bertambah sementara lahan pertanian semakin terbatas. Karena itu diperlukan teknologi budidaya yang mampu menghasilkan produksi tinggi dengan penggunaan lahan dan air yang efisien.

“Di kota dibutuhkan teknik yang produksinya tinggi, hemat air, praktis, efisien secara waktu, kualitasnya bagus, sehat dan tidak terlalu tergantung musim,” ujarnya.

Aris menyebut urban farming memiliki manfaat ekonomi dan sosial. Selain memperpendek rantai pasok pangan dan mengurangi risiko kerawanan pangan di perkotaan, kegiatan tersebut dapat menjadi sumber pendapatan serta memanfaatkan lahan yang tidak produktif.

Dari sisi sosial, aktivitas bercocok tanam juga dapat menjadi kegiatan positif yang mendukung kesehatan fisik dan mental, sekaligus membuka peluang pekerjaan di luar sektor formal. Sedangkan dari aspek lingkungan, pertanian perkotaan dinilai dapat membantu mengurangi degradasi tanah, menghemat penggunaan sumber daya dan mendukung upaya adaptasi serta mitigasi perubahan iklim.

Namun, Aris mengingatkan pertanian di perkotaan memiliki tantangan tersendiri. Keterbatasan ruang membuat teknologi budidaya harus semakin efisien. Penggunaan pestisida juga perlu diperhatikan agar hasil pertanian tetap aman dan lingkungan perkotaan tidak tercemar.

Karena itu, ia mendorong masyarakat tidak hanya memahami hidroponik sebagai teknik menanam tanpa tanah, tetapi melihatnya sebagai bagian dari sistem pertanian perkotaan yang dapat menghasilkan pangan, meningkatkan ekonomi dan menjaga lingkungan.(wsp.id)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement