Breaking News
Memuat breaking news...

Sofyan Tan Salurkan Bantuan untuk SLB A Karya Murni

Redaksi
Redaksi
Jumat, 28 Agustus 2026 - 8.51 PM WIB
Sofyan Tan Salurkan Bantuan untuk SLB A Karya Murni
Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, dr. Sofyan Tan, mengunjungi SLB A Karya Murni, Jumat (28/8). Waspada.id/ist
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN (Waspada.id): Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, dr. Sofyan Tan, memberikan perhatian terhadap kebutuhan siswa dan guru SLB A Karya Murni, Jalan Karya Wisata, Medan Johor. Selain memastikan siswa mendapatkan bantuan Program Indonesia Pintar (PIP), Sofyan juga memberikan insentif kepada 16 guru dan berencana membantu pengadaan lima kipas angin.

Hal itu disampaikan Sofyan saat mengunjungi SLB A Karya Murni, Jumat (28/8). Kedatangannya disambut nyanyian para siswa yang berlangsung penuh semangat.

Sofyan mengatakan, bantuan PIP bagi siswa SLB A Karya Murni telah disalurkan selama bertahun-tahun. Menurutnya, sejak awal ia telah meminta agar SLB yang berada di sekitar wilayahnya dan membutuhkan bantuan pendidikan dapat memperoleh beasiswa PIP.

“Saya sejak awal sudah instruksikan SLB-SLB yang ada di dekat kami yang membutuhkan bantuan, dicarikan dan diberikan beasiswa PIP,” kata Sofyan.

Dari kunjungan tersebut, Sofyan mengetahui operasional sekolah masih banyak mengandalkan donasi serta dukungan orang tua siswa yang mampu. Kondisi itu mendorongnya memberikan bantuan secara pribadi.

Ia memberikan insentif kepada 16 guru masing-masing Rp500 ribu dengan total Rp8 juta. Sofyan juga berencana menggunakan sebagian gajinya untuk membeli lima kipas angin bagi kebutuhan sekolah.

“Angka lima mengingatkan pada Pancasila. Sedangkan angka delapan dipilih sebagai simbol garis yang tidak terputus. Mudah-mudahan hubungan antara kita semuanya tidak terputus,” ujarnya.

Kepala Sekolah SLB A Karya Murni, Suster Petriani br Saragih, mengatakan para guru terus berupaya membekali siswa berkebutuhan khusus agar mampu hidup mandiri. Pembelajaran tidak hanya mencakup membaca dan menulis, tetapi juga berjalan mengenali lingkungan, menggunakan laptop, memasak hingga bermain musik.

“Supaya mereka nanti ada tempatnya untuk masa depan,” katanya.

Suster Petriani juga menceritakan sejumlah pengalaman yang menggambarkan perjuangan para siswa. Salah seorang anak tunanetra pernah bertanya apakah boleh meminjam mata Suster untuk mengetahui warna pakaian yang dikenakannya.

Ada pula Jojo, siswa tunanetra sekaligus autis, yang belum memahami bahwa ibunya telah meninggal dan masih kerap meminta menelepon mamanya.

Menurut Sofyan, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya perhatian dan dukungan terhadap pendidikan anak berkebutuhan khusus. Ia mengapresiasi para guru yang dinilai bekerja bukan sekadar menjalankan profesi, tetapi dengan panggilan hati.

“Cahaya itu ada di dalam hati, bukan di mata. Ada orang yang matanya terang, tapi hatinya tidak bercahaya,” kata Sofyan.

Ia berharap dukungan terhadap SLB dan anak-anak berkebutuhan khusus terus diperkuat sehingga mereka memperoleh kesempatan pendidikan dan masa depan yang layak.(id144)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement