Sosialisasi Wasbang dan Ideologi Pancasila, Anggota DPRD Medan Afif Abdillah: Pakai AI, Etika Jangan Mati


MEDAN (Waspada.id): Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuka peluang bagi generasi muda untuk belajar dan berkarya. Namun, kemudahan teknologi harus diimbangi etika, kejujuran, serta kemampuan berpikir kritis agar tidak menggerus nilai-nilai Pancasila.
Hal tersebut dikatakan Anggota DPRD Kota Medan, Afif Abdillah, SE dalam kegiatan Penyebarluasan Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan, di Aula MUI Kota Medan, Jalan Nusantara No.3 Kel. Kota Matsum III, Kec. Medan Kota, Sabtu (24/10).
Ketua Fraksi Nasdem DPRD Kota Medan ini, mengajak masyarakat terkhusus generasi muda memanfaatkan AI sebagai alat bantu, bukan menggantikan proses berpikir dan kemampuan diri. Menurutnya, teknologi dapat membantu menyelesaikan tugas dan pekerjaan, tetapi penggunanya tetap harus memahami hasil yang diperoleh serta bertanggung jawab atas penggunaannya.
Ia menyoroti kebiasaan menggunakan AI untuk mengerjakan tugas akademik tanpa mengolah dan memahami kembali hasilnya. Padahal, kejujuran dan kemauan memperbaiki diri merupakan bagian penting dalam membangun karakter generasi muda.
Afif juga mendorong peserta memiliki cita-cita yang jelas dan melakukan riset mengenai profesi yang ingin ditekuni, termasuk kompetensi serta peluang kerjanya. Di tengah perkembangan teknologi, generasi muda dituntut terus belajar dan meningkatkan kemampuan agar mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
Dilanjutkan Ketua DPD Partai Nasdem Kota Medan ini, nilai kejujuran, kemanusiaan, dan tanggung jawab perlu menjadi landasan dalam memanfaatkan teknologi maupun menyebarkan informasi. Kemajuan teknologi, harus berjalan seiring dengan penguatan karakter. AI boleh semakin pintar, tetapi etika, kejujuran, dan nilai-nilai Pancasila tidak boleh ditinggalkan.
Acara juga dirangkai dengan kegiatan Muzakarah Komisi Informasi, Komunikasi, dan Digitalisasi (Infokomdigi) MUI Kota Medan, dengan tema “AI Makin Pintar, Kita Jadi Apa?”. Hadir sebagai narasumber Ketua Umum MUI Kota Medan; Dr. Hasan Matsum, M.Ag., yang menegaskan bahwa AI harus dipahami sebagai alat bantu yang hasilnya tetap perlu diperiksa dan dianalisis.
Hasan menjelaskan, AI bekerja melalui algoritma dengan mengolah data berdasarkan probabilitas untuk menghasilkan keluaran. Namun, teknologi tersebut tidak memiliki kecerdasan emosional dan spiritual sebagaimana manusia.
“Karena itu, pengguna tidak boleh langsung menerima informasi yang dihasilkan AI sebagai kebenaran. Terlebih dalam persoalan agama, kesalahan informasi dapat menyesatkan apabila disebarkan tanpa pemeriksaan,” ucapnya.
Ia mencontohkan, AI dapat keliru mencantumkan sumber hadis, termasuk nama perawi atau kitab hadis. Informasi yang terlihat meyakinkan belum tentu benar, sehingga perlu diverifikasi melalui sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Etika dan keilmuan dalam menggunakan teknologi sangat diperlukan. Karena kemampuan meneliti, memeriksa kebenaran, dan mempertimbangkan kepatutan informasi harus tetap menjadi tanggung jawab manusia,” tuturnya. (id142)
Berita Terkait

































































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda