Breaking News
Memuat breaking news...

SPPG Aglomerasi Dinilai Solusi Perkuat MBG Pidie

Redaksi
Redaksi
Sabtu, 12 September 2026 - 5.52 AM WIB
SPPG Aglomerasi Dinilai Solusi Perkuat MBG Pidie
Muhammad Junaifi
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

SIGLI (Waspada.id): Ketua Kadin Pidie sekaligus Anggota Gabungan Pengusaha Makanan Bergizi Indonesia (GAPEMBI) Provinsi Aceh, Muhammad Junaidi, SP, menilai penguatan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), termasuk pengembangan SPPG Aglomerasi, menjadi langkah strategis untuk menjaga kualitas pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Pidie.

Menurut Muhammad, MBG tidak sekadar membagikan makanan kepada anak sekolah, tetapi menyangkut tanggung jawab negara memastikan makanan yang diterima bergizi, aman, tepat waktu dan tepat sasaran.

“Kita sangat mendukung program prioritas Bapak Presiden Prabowo, yaitu MBG. Ini program besar untuk meningkatkan gizi anak-anak bangsa. Karena itu, sistem yang sudah dibangun harus terus diperkuat, baik kualitas makanan, keamanan pangan, pelayanan maupun manajemennya,” kata Muhammad.

Ia mengatakan, pelaksanaan program berskala besar seperti MBG tentu masih memiliki kekurangan. Namun, kekurangan tersebut semestinya menjadi dasar evaluasi dan pembenahan, bukan alasan untuk melemahkan sistem yang telah dibangun.

Dalam konteks Pidie, Muhammad menilai pengembangan SPPG Aglomerasi harus disesuaikan dengan kondisi wilayah, sebaran sekolah, jumlah penerima manfaat, kemampuan fasilitas serta waktu tempuh distribusi.

“Jangan mengejar jumlah dengan mengorbankan mutu,” tegasnya.

Muhammad menjelaskan, SPPG Aglomerasi bukan sekadar dapur yang memasak makanan dalam jumlah besar. Di dalamnya terdapat rangkaian sistem mulai pengadaan bahan pangan, pengolahan, pengemasan, distribusi hingga pengawasan.

Karena itu, perencanaan SPPG harus dilakukan secara terukur agar peningkatan kapasitas produksi tidak mengorbankan standar gizi dan keamanan pangan.

Sekolah Tetap Penting

Terkait wacana pelibatan kantin sekolah dalam penyediaan makanan MBG, Junaidi menilai sekolah tetap memiliki peran penting, terutama dalam pengawasan makanan yang diterima siswa.

Namun, ia mengingatkan agar kantin sekolah tidak serta-merta dibebani seluruh fungsi penyediaan MBG.

“Sekolah memiliki fungsi utama pendidikan dan pembelajaran. Sementara penyediaan makanan dalam jumlah besar membutuhkan standar produksi, sanitasi, keamanan pangan, tenaga kerja dan manajemen distribusi,” ujarnya.

Menurut dia, pola yang lebih tepat adalah membagi fungsi secara jelas. SPPG memastikan makanan diproduksi dan didistribusikan sesuai standar, sedangkan sekolah memastikan makanan diterima, diperiksa dan dikonsumsi siswa dalam kondisi aman.

Dengan demikian, kata Muhammad, SPPG dan sekolah tidak perlu dipertentangkan karena keduanya dapat saling memperkuat dalam pelaksanaan MBG.

Gerakkan Ekonomi Pidie
Muhammad juga melihat MBG memiliki potensi besar menjadi penggerak ekonomi daerah.

Kebutuhan bahan pangan seperti beras, telur, ikan, daging, sayuran dan buah-buahan, menurutnya, dapat membuka ruang bagi petani, peternak, nelayan, pedagang dan UMKM Pidie untuk masuk dalam rantai pasok program tersebut.

“SPPG bukan hanya dapur yang menghasilkan makanan. SPPG juga dapat menjadi simpul yang menghubungkan program pemerintah dengan ekonomi masyarakat,” katanya.

Namun, keterlibatan pelaku usaha lokal harus tetap memenuhi standar kualitas, keamanan pangan, kontinuitas pasokan dan tata kelola yang transparan.

Ia menegaskan, dukungan terhadap SPPG bukan berarti membela kelemahan yang ada. Sebaliknya, penguatan SPPG harus berjalan beriringan dengan pengawasan yang ketat.

“Tidak boleh ada kompromi terhadap keamanan pangan. Tidak boleh ada toleransi terhadap penyimpangan. Kepentingan anak-anak penerima manfaat harus menjadi yang utama,” tegasnya.

Muhammad berharap evaluasi MBG menjadi momentum memperkuat kolaborasi antara SPPG, sekolah, pemerintah, pelaku usaha dan masyarakat.

Menurutnya, MBG bukan sekadar program untuk memenuhi kebutuhan makan anak hari ini, tetapi investasi jangka panjang bagi kualitas generasi masa depan.

“Jika terdapat kekurangan, mari kita perbaiki. Jika terdapat kelemahan, mari kita perkuat. Tetapi jangan karena kekurangan tersebut kemudian sistem yang sudah dibangun justru dilemahkan,” pungkasnya.(id69)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement