STB Laguboti Gelar Seminar Nasional dan Bedah Buku Ratapan di Ujung Jalan

TOBA (Waspada.id): Sekolah Tinggi Bibelvrouw (STB) HKBP Laguboti menggelar seminar nasional sekaligus bedah buku Ratapan di Ujung Jalan karya Eykel Tarigan, Sabtu (3/10/2026).
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 150 mahasiswa bersama para dosen STB Laguboti dan digelar secara luring serta daring.
Seminar menghadirkan sejumlah pembicara, yakni aktivis, jurnalis dan sastrawan Indonesia Ayu Utami sebagai penanggap pertama, Kepala STB HKBP Laguboti Pdt. Maruhum Simangunsong, M.Th. sebagai penanggap kedua, serta Dosen Ilmu Agama dan Sejarah STB HKBP Laguboti Pdt. Jimmy Marshal Tambunan, M.Th. sebagai penanggap ketiga. Diskusi dimoderatori Ita Siregar yang sekaligus mewakili penerbit Lingkup.
Pdt. Maruhum Simangunsong mengatakan, seminar dan bedah buku tersebut diharapkan dapat mendorong lahirnya penulis-penulis baru, khususnya dari kalangan mahasiswa.
“Saya berharap dari peserta seminar ini melahirkan penulis-penulis baru,” ujar Maruhum.
Menurutnya, buku Ratapan di Ujung Jalan memberikan perspektif berbeda dalam melihat sosok Yudas. Selama ini, Yudas umumnya dikenal dalam literatur keagamaan sebagai figur pengkhianat.
Namun, melalui buku tersebut, Eykel mencoba menggali sisi kemanusiaan dan pergumulan batin Yudas secara lebih mendalam.

Kepala STB HKBP Laguboti Pdt. Maruhum Simangunsong, M.Th. menyerahkan sertifikat kepada penulis buku Ratapan di Ujung Jalan, Eykel Tarigan usai berlangsungnya seminar nasional dan bedah buku di STB Laguboti, Sabtu (3/10/2026). Waspada.id/Ramsiana Gultom
“Secara umum memandang Yudas itu sebagai figur yang seperti label, sebagai pengkhianat. Hanya di seputar situ saja yang kita temukan selama ini,” katanya.
Maruhum menilai, pendekatan yang digunakan Eykel dapat memperkaya perspektif pembaca, termasuk mahasiswa teologi.
“Belum ada penulis yang mengupas tuntas tentang jati diri dari Yudas itu sendiri, bagaimana kita berempati melihat secara mendalam apa yang dirasakan oleh Yudas,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi Eykel yang masih berstatus mahasiswa namun telah mampu menghasilkan karya yang mengangkat sebuah tema dari perspektif berbeda.
“Saya sangat kagum dengan beliau, dengan tulisannya, karena beliau masih status mahasiswa sudah bisa melahirkan penulisan yang demikian mendalam” katanya.
Maruhum berharap keberadaan buku tersebut dapat mendorong mahasiswa untuk semakin berani menggali kembali berbagai kisah atau teks Alkitab melalui perspektif yang lebih luas.
Menurutnya, penggalian tersebut dapat dilakukan untuk mendapatkan pemahaman baru yang relevan dengan perkembangan pendidikan dan perspektif masa kini.
Sementara itu, Eykel Tarigan mengaku sempat terkejut ketika bukunya berkembang hingga dibedah dalam forum akademik di STB Laguboti.
Ia mengatakan, pada awalnya dirinya hanya berharap bukunya dapat diterbitkan. Namun, setelah melalui sejumlah diskusi kecil, karya tersebut akhirnya mendapat ruang untuk didiskusikan lebih luas.
“Kalau yang pertama, yang pasti terkejut. Karena kalau ditanya awal-awalnya itu hanya berharap cukup terbit saja. Tapi kalau kita lihat berkembang dari diskusi-diskusi kecil kemudian akhirnya bisa sampai ke tengah-tengah STB, sesuatu pengalaman yang baru,” ujar Eykel.
Sebagai penulis muda, Eykel mengatakan dirinya tidak akan berhenti menulis. Ia ingin terus mengangkat perspektif atau sisi kehidupan yang selama ini jarang diperhatikan.
“Sama seperti Yudas ini, kita akan mencoba mengambil pandangan-pandangan yang bisa dikatakan tidak pernah ataupun jarang diperhatikan oleh orang,” katanya.
Eykel mengatakan, melalui tulisan, dirinya ingin mengajak pembaca untuk memahami pergumulan manusia secara lebih utuh, termasuk sosok yang selama ini kerap hanya dilihat melalui satu label.
Ia berharap Ratapan di Ujung Jalan dapat membuat pembaca melihat kompleksitas sosok Yudas, bukan hanya sebagai tokoh yang identik dengan pengkhianatan.
“Harapannya semoga semakin banyak yang bisa melihat bagaimana kompleksitas dari Yudas ini sendiri, bukan sebagai tokoh yang hanya selesai dalam kata ‘pengkhianat’, tapi kita bisa melihat bagaimana Yudas ini pun sebenarnya manusia,” ujarnya.
Seminar nasional dan bedah buku tersebut menjadi ruang dialog bagi mahasiswa dan akademisi untuk mendiskusikan karya sastra yang bersinggungan dengan persoalan teologi, sejarah, kemanusiaan, serta cara memandang sebuah tokoh dari perspektif yang berbeda. (id52)


















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda