Breaking News
Memuat breaking news...

Stem Cell dan Harapan Baru bagi Pengobatan Penyakit Degeneratif

Redaksi
Redaksi
Senin, 15 Juni 2026 - 7.33 AM WIB
Stem Cell dan Harapan Baru bagi Pengobatan Penyakit Degeneratif
Founder Klinik dr. Yanti Stem Cell, dr. Yanti Khusmiran.
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Meningkatnya kasus penyakit degeneratif seperti diabetes, stroke, penyakit jantung, gangguan saraf, hingga penurunan fungsi organ akibat proses penuaan mendorong dunia medis terus mencari pendekatan terapi yang lebih efektif. Di tengah perkembangan teknologi kesehatan, terapi stem cell mulai dipandang sebagai salah satu harapan baru karena menawarkan pendekatan yang berbeda dibandingkan pengobatan konvensional.

Stem cell atau sel punca adalah sel awal yang belum terspesialisasi dan memiliki kemampuan unik untuk memperbarui diri (self-regenerate) dan berdiferensiasi (berubah) menjadi berbagai jenis sel spesifik di dalam tubuh, seperti sel saraf, sel otot, atau sel darah. Sumber utama sel punca untuk kebutuhan medis umumnya berasal dari manusia, seperti sumsum tulang, jaringan lemak atau darah tali pusat (plasenta).

Selama ini, sebagian besar pengobatan penyakit degeneratif berfokus pada pengendalian gejala dan memperlambat perkembangan penyakit. Terapi stem cell hadir dengan konsep yang lebih mendasar, yakni membantu proses regenerasi sel dan jaringan yang mengalami kerusakan sehingga fungsi organ dapat diperbaiki.

Founder Klinik dr. Yanti Stem Cell, dr. Yanti Khusmiran, menjelaskan bahwa tubuh manusia pada dasarnya tersusun dari sel yang membentuk jaringan dan organ. Ketika sel mengalami kerusakan dan tidak lagi bekerja secara optimal, fungsi organ pun akan menurun dan memicu munculnya berbagai penyakit kronis maupun degeneratif.

"Yang kami obati bukan gejalanya, tetapi organ yang mengalami kerusakan. Karena pada dasarnya tubuh manusia terdiri dari sel. Sel membentuk jaringan, jaringan membentuk organ, dan organ yang bekerja bersama-sama menciptakan kehidupan yang sehat," ujarnya saat memperingati dua tahun berdirinya Klinik dr. Yanti Stem Cell Mangkuluhur di Jakarta, Minggu (14/6/2026).

Menurutnya, pendekatan regeneratif inilah yang menjadi alasan terapi stem cell semakin mendapat perhatian. Harapannya bukan sekadar mengurangi keluhan pasien, tetapi membantu memperbaiki fungsi organ yang terganggu akibat kerusakan sel.

Salah satu penyakit yang banyak ditangani melalui pendekatan ini adalah diabetes tipe 2.

Penyakit tersebut tidak hanya berkaitan dengan tingginya kadar gula darah, tetapi juga dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah yang berujung pada gangguan berbagai organ penting seperti jantung, ginjal, otak, mata, dan pankreas.

Dalam kasus diabetes tipe 2, terapi diarahkan untuk membantu memperbaiki fungsi pankreas sebagai organ penghasil insulin. Jika fungsi pankreas dapat ditingkatkan, maka kemampuan tubuh dalam mengatur kadar gula darah juga diharapkan menjadi lebih baik.

Selain diabetes, terapi stem cell juga banyak dikembangkan untuk pasien pascastroke, penyakit jantung, gangguan saraf, penyakit autoimun, serta berbagai kondisi yang berkaitan dengan proses degeneratif.

Perkembangan ini memberikan harapan baru bagi pasien yang selama ini menghadapi keterbatasan pilihan terapi. Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa terapi stem cell bukanlah solusi instan. Hasil terapi dapat berbeda pada setiap pasien, tergantung tingkat kerusakan organ, kondisi kesehatan secara keseluruhan, serta respons tubuh terhadap pengobatan.

"Pada beberapa kasus, perbaikan dapat terlihat dalam beberapa bulan, sementara pada kasus yang lebih kompleks proses pemulihan bisa berlangsung lebih lama," ujarnya.

Keberhasilan terapi juga sangat dipengaruhi oleh perubahan gaya hidup. Pola makan sehat, aktivitas fisik yang cukup, serta kepatuhan menjalani pengobatan dan pemantauan medis tetap menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan organ dan mencegah kerusakan lebih lanjut.

Yanti menambahkan, layanan terapi stem cell dari Indonesia mulai mendapat perhatian di tingkat internasional seiring berkembangnya jaringan dan layanan kesehatan regeneratif yang dibangun beberapa tahun belakangan ini.

Ia mengatakan, klinik yang dipimpinnya terus memperkuat kualitas pelayanan, penelitian, dan pengembangan terapi stem cell, sekaligus memperluas jangkauan internasional melalui cabang di Dubai, Uni Emirat Arab, dan rencana pembukaan cabang baru di Cancun, Meksiko, pada Juli 2026.

Menurut Yanti, keberadaan cabang di luar negeri menjadi bagian dari upaya memperkenalkan layanan terapi regeneratif yang dikembangkan di Indonesia kepada masyarakat internasional. Selain itu, langkah tersebut juga diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia dalam pengembangan layanan kesehatan berbasis teknologi medis modern.

"Kami ingin menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat sekaligus membawa layanan kesehatan Indonesia semakin dikenal di tingkat internasional," ujarnya.

Klinik dr. Yanti Stem Cell Mangkuluhur merupakan mitra usaha Global Stem Cell Group yang berbasis di Amerika Serikat serta anggota International Society for Stem Cell Application (ISSCA). Melalui kerja sama tersebut, klinik terus mengembangkan standar pelayanan, kompetensi tenaga medis, serta kualitas terapi yang diberikan kepada pasien.

Dalam rangka meningkatkan mutu layanan, klinik juga memperkuat kegiatan penelitian dan pengembangan (research and development) yang difokuskan pada peningkatan kualitas terapi stem cell dan pemanfaatannya dalam mendukung kesehatan serta kebugaran pasien.

Yanti menjelaskan bahwa pasien yang datang ke kliniknya berasal dari berbagai kelompok usia dan latar belakang kondisi kesehatan. Mulai dari anak-anak dengan gangguan perkembangan saraf hingga pasien lanjut usia yang mengalami berbagai penyakit degeneratif.(id11)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement