Breaking News
Memuat breaking news...

Stok Solar IEA Digelontorkan, Harga Minyak Turun tapi Selat Hormuz Jadi Ancaman

Redaksi
Redaksi
Kamis, 8 Oktober 2026 - 8.43 AM WIB
Stok Solar IEA Digelontorkan, Harga Minyak Turun tapi Selat Hormuz Jadi Ancaman
Foto ilustrasi
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Harga minyak dunia kembali terkoreksi setelah negara-negara anggota Badan Energi Internasional (IEA) sepakat memprioritaskan pelepasan stok solar untuk meredakan ketatnya pasokan bahan bakar di pasar global.

Mengutip CNBC, Kamis (8/10/2026), harga minyak mentah Brent yang menjadi patokan global turun 38 sen menjadi US$100,20 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) turun US$1,16 menjadi US$88,28 per barel.

Penurunan harga tersebut terjadi setelah IEA memberikan sinyal bahwa stok darurat minyak, khususnya solar, siap kembali digelontorkan ke pasar jika diperlukan.

Direktur IEA Fatih Birol mengatakan, negara-negara anggota sepakat memberikan prioritas terhadap pelepasan stok solar mengingat kondisi pasar yang masih ketat.

Birol menyebut negara-negara anggota IEA sebelumnya telah menggelontorkan sekitar 325 juta barel minyak melalui rencana aksi darurat pada Maret untuk mengatasi gangguan pasokan akibat perang Iran.

Namun, masih terdapat sekitar 100 juta barel yang belum dilepas melalui skema tersebut.

IEA Masih Pegang 1,1 Miliar Barel Minyak

IEA masih memiliki amunisi besar untuk meredam gejolak pasokan minyak dunia.

Fatih Birol mengatakan, negara-negara anggota IEA saat ini masih memiliki stok darurat sekitar 1,1 miliar barel minyak, termasuk lebih dari 200 juta barel solar.

“IEA siap melepaskan lebih banyak stok ini ke pasar jika dan ketika diperlukan,” kata Birol.

Keputusan tersebut muncul setelah negara-negara G7 pada Jumat sepakat melepas stok solar di tengah tekanan dari pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Namun, hingga kini belum diketahui secara pasti berapa volume solar yang akan benar-benar dikeluarkan ke pasar.

Pelepasan stok darurat diharapkan dapat menambah pasokan fisik dan meredakan tekanan harga, terutama ketika pasar solar menghadapi kondisi yang relatif ketat.

Harga Minyak Masih Dibayangi Konflik Timur Tengah

Meski pasokan tambahan dari stok darurat IEA memberikan tekanan terhadap harga minyak, pasar belum sepenuhnya terbebas dari risiko geopolitik.

Harga minyak sempat menguat pada awal perdagangan setelah kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman melancarkan serangan baru terhadap Arab Saudi.

Serangan tersebut kembali memunculkan kekhawatiran bahwa pemulihan ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah masih rentan mengalami gangguan.

Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman mengatakan aliran minyak melalui jalur pipa East-West telah mencapai 5,8 juta barel pada Selasa pagi.

Jalur pipa East-West sebelumnya ditutup pada awal September setelah mengalami kerusakan akibat serangan drone.

Namun, risiko baru kembali muncul. Otoritas penerbangan Arab Saudi dilaporkan menyebut bandara di Jazan dan Najran menjadi sasaran dua serangan pada Selasa, di tengah meningkatnya ketegangan antara kelompok Houthi dan Arab Saudi.

Selain itu, langkah Iran meningkatkan serangan terhadap kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz kembali menjadi perhatian pelaku pasar. Jalur tersebut merupakan salah satu rute penting bagi perdagangan energi dunia.

Pasar Minyak Terjebak Dua Sentimen

Kondisi tersebut membuat pasar minyak harus menimbang dua kekuatan yang berlawanan. Di satu sisi, pasokan fisik mulai menunjukkan perbaikan dan stok darurat IEA dapat kembali dilepas. Di sisi lain, ancaman geopolitik masih berpotensi mengganggu distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah.

Chief Investment Officer Zaye Capital Markets Naeem Aslam mengatakan minyak masih “terjebak di antara membaiknya pasokan fisik dan risiko geopolitik yang terus berlanjut.”

Analis Pasar Senior XS.com Samer Hasn juga menilai kemampuan Houthi menyerang fasilitas minyak yang berjarak ratusan kilometer dari perbatasan membuat risiko gangguan terhadap pasokan minyak mentah tetap tinggi.

“Risiko ini dapat memburuk jika Houthi merasa perlu meningkatkan tekanan akibat kehilangan lebih banyak wilayah,” kata Hasn.

Dengan demikian, pelepasan stok solar oleh IEA menjadi faktor yang berpotensi menahan kenaikan harga minyak dalam jangka pendek. Namun, arah harga berikutnya masih sangat bergantung pada perkembangan konflik Timur Tengah dan sejauh mana gangguan terhadap jalur distribusi energi dapat dikendalikan. (Lip6)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement