Stop Impor Solar Mulai Juli, Pemerintah Genjot Energi Berbasis SawitStop Impor Solar Mulai Juli, Pemerintah Genjot Energi Berbasis Sawit

MAKASSAR (Waspada.id): Pemerintah melalui Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan Indonesia akan menghentikan impor solar mulai 1 Juli 2026. Kebijakan ini menjadi langkah strategis menuju kemandirian energi nasional dengan memanfaatkan crude palm oil (CPO) sebagai bahan bakar alternatif.
Kepastian tersebut disampaikan Amran saat menghadiri Musyawarah Besar Ikatan Alumni Universitas Hasanuddin di Hotel Four Points by Sheraton Makassar, Sabtu (2/5/2026). Ia menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan hasil gagasan panjang sejak 2016 yang kini mulai terealisasi.
"Solar tanggal 1 Juli, Indonesia stop impor. Yang puluhan tahun, bahkan 80 tahun kita impor, stop mulai 1 Juli dan seterusnya. Karena dari CPO kita jadikan solar,” ujar Amran.
Saat ini, kata dia, sudah terdapat 26 pabrik pengolahan CPO yang memproduksi bahan bakar nabati untuk campuran B50, yakni 50 persen berbasis sawit dan 50 persen solar fosil. Pemerintah pun menargetkan peningkatan hingga B100 atau bahan bakar sepenuhnya dari sawit.
“Artinya apa? Tidak ada impor solar. Juli tahun ini tidak impor solar. Ini kita mandiri,” tuturnya.
Tak hanya solar, pemerintah juga mendorong pengembangan energi turunan sawit lainnya seperti etanol dan bensin sawit. Amran mengungkapkan kolaborasi riset telah dilakukan dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember melalui pengembangan Bensa (bensin sawit) yang diklaim mampu menggantikan hingga 50 persen bensin konvensional.
Selain itu, kerja sama juga dilakukan dengan Institut Pertanian Bogor serta melibatkan PT Perkebunan Nusantara untuk pengembangan skala industri.
"Kalau ini kita teruskan, insyaallah swasembada pangan, protein, solar, dan bensin bisa kita capai," sambungnya.
Amran menilai dunia saat ini tengah menghadapi tiga krisis utama, yakni air, energi, dan pangan. Dalam konteks tersebut, Indonesia dinilai memiliki keunggulan strategis untuk menjadi bagian dari solusi global melalui penguatan sektor pertanian dan energi terbarukan.
"Solusinya ada di Indonesia. Ke depan kita bukan hanya mandiri, tapi juga bisa menyuplai negara-negara tetangga," sebutnya.
Ia pun mengajak sivitas akademika dan alumni Universitas Hasanuddin untuk berperan aktif dalam inovasi teknologi pertanian dan energi.
"Tolong teman-teman IKA Unhas dorong para peneliti Unhas. Masa enggak bisa Unhas terdepan? Unhas harus nomor satu," tantangnya.
Selain itu, Amran juga menyoroti pentingnya inovasi alat dan mesin pertanian, termasuk pengembangan alat panjat kelapa sebagai alternatif yang lebih efisien dan manusiawi.
Dengan kebijakan penghentian impor solar serta penguatan riset berbasis kampus, pemerintah optimistis Indonesia mampu mencapai kedaulatan energi sekaligus memperkuat posisi sebagai produsen energi hijau berbasis sawit di kawasan.
"Kemarin kami tanda tangan kontrak langsung dengan IPB. Aku minta traktor, jadi. Aku minta alat panjat kelapa daripada monyet, kasihan monyet. Kalau dia lebih pintar nanti, kalau dia demo, gimana? Kalau dia sudah bisa sadap, monyetnya sadap, kira-kira apa yang terjadi di Indonesia? Bisa kita digorok kalau kita tidur," tandasnya berkelakar. (invid)



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda