Breaking News
Memuat breaking news...

Strategi PTAR Lindungi Satwa Liar di Hutan Batangtoru, dari Data hingga Jembatan Arboreal

Redaksi
Redaksi
Sabtu, 29 Agustus 2026 - 12.43 PM WIB
Strategi PTAR Lindungi Satwa Liar di Hutan Batangtoru, dari Data hingga Jembatan Arboreal
Manager Biodiversity & Environmental Strategic Development PT AR, Syaiful Anwar, dan Assistant Manager saat memantau perkembangan mikoriza. Waspada.id/Mohot Lubis
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Menjaga satwa liar di bentang alam Hutan Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), bukan pekerjaan yang bisa diselesaikan hanya dengan memasang papan larangan berburu atau melakukan patroli sesekali, namun dibutuhkan strategi terukur dan langkah nyata yang harus dilakukan.

Di balik lebatnya hutan, terdapat kehidupan yang saling bergantung. Satwa membutuhkan makanan, air, tempat berlindung, ruang jelajah hingga lokasi berkembang biak. Ketika habitat terganggu, keberlangsungan satwa pun ikut terancam.

Karena itu, menjaga keanekaragaman hayati membutuhkan strategi yang terukur, pemantauan berkelanjutan dan tindakan nyata agar kehidupan satwa liar maupun keanekaragman hayati di kawasan hutan Batangtoru dapat terjaga.

Prinsip itulah yang dikembangkan PT Agincourt Resources (AR), pengelola Tambang Emas Martabe, dalam menjaga ekosistem di kawasan Batangtoru.

Upaya tersebut tidak berhenti pada perlindungan satwa. PTAR juga membangun sistem pengelolaan yang mencakup pemantauan biodiversitas, patroli kawasan preservasi, penelitian, pengumpulan data lapangan hingga pemulihan habitat.

Menjaga Hutan dengan Data

Keseriusan PTAR dalam menjaga keanekaragaman dikawanhutan Batangtoru, salah satunya terlihat dari pembentukan unit Biodiversity & Environmental Strategic Development yang secara khusus menangani aspek lingkungan dan keanekaragaman hayati.

Ilmuwan biodiversitas Universitas Nasional Jakarta sekaligus Biodiversity Advisory Panel (BAP) PTAR Dr. Suci Utami.Waspada.id/Mohot Lubis

PTAR juga memperkuat pemantauan dengan membangun stasiun pemantauan satwa liar. Dari titik-titik pemantauan itu, berbagai informasi mengenai flora, fauna dan kondisi habitat dikumpulkan secara berkala.

Manager Biodiversity & Environmental Strategic Development PTAR, Syaiful Anwar, mengatakan monitoring lingkungan dilakukan secara berkelanjutan terhadap flora, fauna, kualitas lingkungan serta perkembangan kawasan konservasi.

Menurutnya, pengamatan yang dilakukan secara rutin memungkinkan kondisi lingkungan dibandingkan dari waktu ke waktu.

Dengan cara tersebut, perubahan dapat diketahui lebih awal sehingga dapat menjadi dasar dalam menentukan langkah pengelolaan berikutnya.

Pendekatan berbasis data menjadi penting karena kondisi biodiversitas tidak dapat dilihat hanya dari satu kali pengamatan.

Ilmuwan biodiversitas dari Universitas Nasional (UNAS) Jakarta sekaligus Biodiversity Advisory Panel (BAP) PTAR, Dr. Suci Utami, menjelaskan monitoring biodiversitas bukan sekadar mencatat jenis satwa yang ditemukan.

Data yang dikumpulkan memiliki fungsi lebih luas, yakni membantu memahami kondisi ekosistem sekaligus mengukur efektivitas program konservasi.

“Data monitoring menjadi instrumen penting untuk melihat kondisi biodiversitas dan menilai efektivitas program konservasi,” katanya dalam Smartabe Connect #3 di Padangsidimpuan.

Data yang dikumpulkan secara konsisten memungkinkan perubahan populasi satwa, kondisi tumbuhan hingga habitat diketahui secara lebih terukur.

Dengan pendekatan tersebut, perlindungan satwa tidak hanya mengandalkan pengamatan sesaat, tetapi menggunakan data sebagai dasar evaluasi.

Dari Pemburu Menjadi Penjaga

Strategi konservasi PTAR juga melibatkan masyarakat sekitar kawasan hutan. Salah satu pendekatan menarik dilakukan dengan melibatkan warga yang sebelumnya dikenal sebagai pemburu hewan di hutan untuk menjadi petugas pemantauan keanekaragaman hayati.

Perubahan peran tersebut menjadi bagian penting dalam upaya konservasi. Mereka yang sebelumnya mengetahui hutan sebagai tempat berburu kini justru dilibatkan untuk memantau kehidupan satwa liar dan kondisi habitatnya.

Pendekatan ini tidak hanya membantu perusahaan mendapatkan informasi lapangan, tetapi sekaligus membuka ruang bagi masyarakat untuk terlibat langsung dalam menjaga biodiversitas.

Pesannya sederhana: satwa liar bukan sekadar buruan, tetapi bagian penting dari ekosistem yang harus dijaga bersama.

Patroli menjadi mata di lapangan.

Tim Patrol Area Preservasi dan Operasi, seperti Parman Sitanggang dan Abdi Paruntungan, melakukan patroli secara rutin untuk melihat langsung kondisi kawasan.

Dari aktivitas tersebut, tim dapat menemukan berbagai informasi terkait kondisi kawasan, lingkungan maupun keberadaan satwa. Kemudian hasil pemantauan dilaporkan kepada Tim Stasiun Riset untuk menjadi bahan dalam memahami kondisi ekosistem Batangtoru.

Dengan demikian, pemantauan, patroli dan penelitian tidak berjalan sendiri-sendiri. Ketiganya saling melengkapi untuk menghasilkan gambaran yang lebih utuh mengenai kondisi kawasan.

Jembatan Khusus untuk Satwa

Perlindungan biodiversitas juga tidak hanya dilakukan melalui pengamatan. PTAR menghadirkan inovasi konservasi berupa arboreal bridge, yakni jembatan tali yang dirancang khusus untuk satwa liar penghuni kanopi hutan.

Satwa liar sedang melintasi jembatan arboreal di sekitar lokasi Tambang Emas Martabe, Batangtoru.Waspada.id/Ist

Fasilitas tersebut dibangun sebagai koridor bagi satwa arboreal agar dapat berpindah dari satu kawasan ke kawasan lainnya tanpa harus turun ke permukaan tanah yang memiliki risiko lebih tinggi.

Bagi satwa penghuni pepohonan, keberadaan koridor seperti ini menjadi bagian dari upaya mempertahankan konektivitas habitat.

Arboreal bridge sekaligus menunjukkan bahwa konservasi tidak selalu berbentuk kawasan tertutup atau larangan aktivitas manusia. Konservasi juga dapat dilakukan melalui rekayasa yang menyesuaikan kebutuhan satwa.

Menanam Bukan Sekadar Menghijaukan

Habitat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan satwa. Karena itu, kegiatan reklamasi dan restorasi yang dilakukan PTAR tidak hanya berorientasi membuat kawasan kembali hijau.

Jenis tanaman yang dikembangkan perlu mempertimbangkan kebutuhan habitat satwa. Sebab, bagi satwa liar, hutan menjadi sumber makanan, air, tempat berlindung, ruang bergerak dan lokasi berkembang biak.

Karena itu, keberhasilan pemulihan kawasan tidak cukup diukur dari berapa banyak pohon yang ditanam, tetapi juga dari sejauh mana kawasan tersebut mampu kembali berfungsi sebagai habitat.

Pendekatan tersebut membuat konservasi menjadi lebih menyeluruh. Flora, fauna dan habitat dipandang sebagai bagian yang saling berkaitan dalam satu ekosistem. Ketika kondisi habitat berubah, kehidupan satwa juga ikut terpengaruh.

Upaya konservasi dan komunikasi publik.

Manager Public Relations PTAR, Reni Radhan, mengatakan media memiliki peran penting dalam menyampaikan informasi mengenai upaya menjaga keanekaragaman hayati di kawasan Hutan Batangtoru.

Manager Public Relations PTAR, Reni Radhan.Waspada.id/Mohot Lubis

Menurutnya, masyarakat perlu mendapatkan informasi yang utuh mengenai pengelolaan lingkungan dan konservasi yang dilakukan perusahaan.

Untuk menjembatani komunikasi tersebut, PTAR secara berkala menggelar Smartabe Connect sebagai ruang komunikasi dan dialog antara perusahaan dengan media.

“Smartabe Connect #3 tidak hanya menjadi sarana penyampaian informasi, tetapi juga ruang dialog terbuka antara perusahaan dan media. Dengan komunikasi yang baik, informasi mengenai pengelolaan lingkungan dan konservasi ekosistem Batangtoru dapat tersampaikan secara komprehensif kepada masyarakat,” tuturnya.

Upaya menjaga satwa liar pada akhirnya bukan semata tentang menyelamatkan satu jenis satwa. Lebih jauh, konservasi adalah menjaga hubungan antara satwa, tumbuhan, habitat dan manusia agar tetap berjalan dalam keseimbangan.

Di Hutan Batangtoru, strategi itu dijalankan melalui rangkaian langkah yang saling terhubung: monitoring, penelitian, patroli, pelibatan masyarakat, pemulihan habitat hingga penyediaan koridor bagi satwa.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa menjaga biodiversitas membutuhkan proses panjang dan konsisten. Sebab, ketika seekor satwa masih dapat bergerak di antara pepohonan, menemukan makanan dan berkembang biak di habitatnya, maka yang sebenarnya sedang dijaga bukan hanya kehidupan satwa tersebut tapi kelangsungan ekosistem. WASPADA.id

Mohot Lubis

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement