Sulap Botol Bekas Jadi Kebun Mini, Mahasiswa KKNT UNA Ajarkan Hidroponik kepada Siswa MAS Darul IkhlasSulap Botol Bekas Jadi Kebun Mini, Mahasiswa KKNT UNA Ajarkan Hidroponik kepada Siswa MAS Darul Ikhlas

RAWANG LAMA, Asahan (Waspada.id): Pemanfaatan lahan sempit untuk menghasilkan pangan menjadi salah satu tantangan yang semakin relevan di tengah kebutuhan masyarakat akan pangan yang sehat dan berkelanjutan.
Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Fakultas Pertanian Universitas Asahan (UNA) menggelar kegiatan sosialisasi dan praktik penerapan hidroponik sederhana sistem wick (sumbu) kepada siswa-siswi MAS Darul Ikhlas, Desa Rawang Lama, Kecamatan Rawang Panca Arga, Kabupaten Asahan, pada Jumat (31/7/2026).

Dalam rilis yang diterima Waspada.id Minggu (16/8/2026), kegiatan yang dimulai pada pukul 08.30 WIB tersebut mengusung tema pemanfaatan barang bekas sebagai sarana budidaya tanaman. Para mahasiswa memperkenalkan sistem hidroponik wick dengan memanfaatkan botol plastik bekas sebagai wadah tanam. Sistem ini dipilih karena sederhana, ekonomis, mudah dibuat, serta dapat diterapkan pada lingkungan yang memiliki keterbatasan lahan.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh seluruh mahasiswa KKNT Fakultas Pertanian Universitas Asahan yang melaksanakan pengabdian di Desa Rawang Lama, beberapa guru MAS Darul Ikhlas, serta sekitar 25 siswa-siswi kelas XI MAS Darul Ikhlas. Kegiatan juga turut dihadiri oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) kelompok KKNT Desa Rawang Lama, Ibu Juliwati Putri Batubara, S.Pi., M.Si.
Rangkaian kegiatan secara resmi dibuka oleh Ketua Kelompok KKNT Desa Rawang Lama, M. Chairul Firwanda. Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi mengenai hidroponik sederhana yang disampaikan oleh M. Chairul Firwanda bersama rekan mahasiswa KKNT, Ilham Hadinegoro.

Dalam penyampaian materi, mahasiswa menjelaskan secara singkat mengenai pengertian hidroponik, prinsip kerja sistem sumbu, kebutuhan dasar tanaman, serta manfaat hidroponik dalam mengoptimalkan lahan sempit. Para siswa juga diberikan pemahaman bahwa kegiatan bercocok tanam tidak selalu membutuhkan lahan yang luas, tetapi dapat dilakukan dengan memanfaatkan ruang-ruang kecil di sekitar rumah maupun sekolah.
Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi pembuatan instalasi hidroponik sistem sumbu. Mahasiswa KKNT memperagakan secara langsung tahapan pembuatan hidroponik menggunakan botol bekas, mulai dari persiapan alat dan bahan, proses pemotongan botol, pemasangan sumbu, penyiapan media tanam, hingga proses perakitan instalasi hidroponik agar dapat digunakan.
Suasana kegiatan semakin interaktif ketika para siswa diberikan kesempatan untuk mempraktikkan secara langsung pembuatan sistem hidroponik sederhana tersebut. Dengan didampingi oleh mahasiswa KKNT, sekitar 25 siswa-siswi kelas XI mencoba membuat instalasi hidroponik masing-masing hingga selesai.
Antusiasme para siswa terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Mereka tidak hanya memperhatikan demonstrasi yang diberikan, tetapi juga aktif bertanya mengenai cara kerja sistem sumbu, jenis tanaman yang sesuai untuk dibudidayakan, kebutuhan nutrisi tanaman, hingga bagaimana cara melakukan perawatan agar tanaman dapat tumbuh dengan baik.
Kegiatan praktik secara langsung ini menjadi salah satu bagian penting dalam sosialisasi karena siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teoritis, tetapi juga mendapatkan pengalaman nyata dalam menerapkan teknologi budidaya tanaman sederhana.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKNT Fakultas Pertanian Universitas Asahan berharap pengetahuan mengenai hidroponik dapat terus dikembangkan oleh para siswa, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah masing-masing.
Pemanfaatan botol plastik bekas sebagai instalasi hidroponik juga diharapkan dapat memberikan dua manfaat sekaligus, yaitu mengurangi limbah plastik yang sulit terurai dan mengubahnya menjadi sarana produksi pangan sederhana. Dengan demikian, hidroponik tidak hanya menjadi alternatif kegiatan bercocok tanam, tetapi juga menjadi media edukasi mengenai pemanfaatan limbah, kreativitas, pertanian berkelanjutan, dan ketahanan pangan keluarga.

“Kami ingin memperkenalkan kepada siswa bahwa keterbatasan lahan bukan menjadi alasan untuk tidak dapat bercocok tanam. Dengan teknologi sederhana seperti hidroponik sistem wick, botol bekas yang selama ini dianggap sebagai limbah dapat dimanfaatkan menjadi sarana budidaya yang produktif,” ujar salah satu mahasiswa KKNT Fakultas Pertanian Universitas Asahan.
Mahasiswa KKNT juga berharap kegiatan tersebut dapat mendorong generasi muda untuk semakin mengenal dunia pertanian dan tidak memandang pertanian sebagai kegiatan yang hanya dapat dilakukan di lahan yang luas. Sebaliknya, perkembangan teknologi pertanian memungkinkan kegiatan budidaya dilakukan secara lebih sederhana, efisien, dan adaptif terhadap kondisi lingkungan.
“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti hanya pada saat sosialisasi. Semoga para siswa dapat mencoba mengembangkan hidroponik secara mandiri, baik di rumah maupun di lingkungan sekolah, sehingga lahan-lahan sempit yang tersedia dapat menjadi lebih produktif,” ungkap mahasiswa KKNT.
Kegiatan sosialisasi dan praktik hidroponik tersebut berlangsung hingga sekitar pukul 11.00 WIB. Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, mahasiswa KKNT bersama Dosen Pembimbing Lapangan, guru, dan siswa-siswi MAS Darul Ikhlas melakukan foto bersama sebagai dokumentasi sekaligus penutup kegiatan.
Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk nyata kontribusi mahasiswa KKNT Fakultas Pertanian Universitas Asahan di Desa Rawang Lama dalam memperkenalkan inovasi pertanian sederhana kepada generasi muda. Melalui pendekatan edukatif dan praktik langsung, mahasiswa berupaya menanamkan pemahaman bahwa pertanian dapat dimulai dari hal sederhana, dari lahan yang terbatas, bahkan dari sebuah botol bekas.
Lebih jauh, kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi langkah kecil dalam membangun kesadaran generasi muda terhadap pentingnya pemanfaatan lahan, inovasi teknologi pertanian, pengelolaan lingkungan, serta penguatan ketahanan pangan yang dimulai dari tingkat keluarga.
Dari sebuah botol bekas, sebuah sumbu, dan sedikit ruang yang tersedia, para siswa belajar bahwa lahan sempit bukanlah batas untuk menghasilkan pangan. Inilah semangat yang ingin dibawa mahasiswa KKNT Fakultas Pertanian Universitas Asahan melalui kegiatan pengabdian di Desa Rawang Lama: menghadirkan inovasi pertanian yang sederhana, mudah diterapkan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.(rel/id39)

























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda