Tambak yang Hampir Kehilangan Nafas: Normalisasi Saluran sebagai Jalan Hidup Petani Samudera–Tanah PasirTambak yang Hampir Kehilangan Nafas: Normalisasi Saluran sebagai Jalan Hidup Petani Samudera–Tanah Pasir

“Sudah lebih dari 5 tahun saluran tambak di Kecamatan Samudera dan Tanah Pasir tidak pernah dilakukan pengerukan. Saluran ini semakin dangkal pasca terjadinya banjir bandang pada akhir tahun lalu. Akibatnya, seluruh areal tambak tidak produktif karena kehilangan sumber air,”-Wakil Ketua Komisi II DPRK Aceh Utara, Ruslan.
Di Samudera dan Tanah Pasir, Kabupaten Aceh Utara, saluran tambak yang dulu menjadi urat nadi kehidupan kini tertutup oleh sedimentasi. Lima tahun tanpa pengerukan membuat air enggan mengalir, meninggalkan tambak kering dan petani kehilangan harapan.
10 Kilometer Harapan di Samudera
Di Kecamatan Samudera, kegiatan normalisasi dilakukan di Gampong Kuta Glumpang, Kuta Krueng, Pulo, Laga Baro, Lancang, Matang Ulim, Sawang, Puuk, hingga Blang Nibong. Sekitar 10 kilometer saluran dengan lebar bervariasi—6, 5, hingga 4 meter—menjadi proyek besar yang diusulkan. Kemukiman Blang Me, yang menaungi sebagian gampong ini, menaruh harapan besar: air kembali mengalir, tambak kembali hidup.
“Program ini lahir setelah kami melaksanakan kegiatan reses pada tahun 2025. Para petani mengusulkan supaya seluruh saluran tambak dapat dilakukan normalisasi agar mereka dapat melakukan budidaya bandeng dan udang,” kata Ruslan menjawab Waspada.id, Jumat (31/7/26) siang.
7 Kilometer Kehidupan di Tanah Pasir
Di Tanah Pasir, normalisasi menyusuri Kuala Keureuto Barat, Matang Janeng, dan Pande. Sekitar 7 kilometer saluran yang lama terkubur lumpur kini perlahan dibangkitkan. Kemukiman Jrat Manyang menunggu dengan cemas: tanpa air, 70 persen warga kehilangan mata pencaharian. “Program pengerukan saluran tambak juga kita laksanakan di Kecamatan Tanah Pasir.”
Kepada Waspada.id, Ruslan menyebutkan, ada sekitar 8000 jiwa di dua kecamatan ini menggantungkan hidup pada tambak. Udang vaname dan ikan bandeng tetap dibudidayakan, meski hasilnya tak maksimal. Tanpa normalisasi, tambak hanyalah tanah basah yang menunggu mati.
“Kami tidak butuh slogan, kami butuh air yang menghidupkan tambak,” keluh seorang tokoh masyarakat kepada Ruslan, pada saat dirinya melaksanakan kegiatan reses di dua kecamatan ini.
Politik yang Menyentuh Lumpur
Usulan normalisasi ini lahir dari pokok pikiran Ruslan, politisi PAN sekaligus petani tambak. Dari hasil reses, suara rakyat ditampung, lalu disalurkan ke Dinas PU Aceh Utara. Kini, pekerjaan sudah berjalan 30 persen, sebuah tanda bahwa harapan mulai digali dari lumpur.
Air sebagai Simbol Kebangkitan
Air bukan sekadar cairan yang mengalir di saluran tambak. Ia adalah simbol kehidupan, pengikat ekonomi, dan penentu masa depan. Selama saluran di Samudera–Tanah Pasir masih tertutup lumpur, kebangkitan hanyalah kata-kata. Normalisasi bukan sekadar pekerjaan fisik, melainkan upaya mengembalikan nafas bagi tambak, harapan bagi petani, dan kehidupan bagi ribuan jiwa yang menunggu air kembali hadir. (Maimun Asnawi, S.HI.,M.Kom.I/Waspada.id).































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda