Tekan Biaya Pakan, Peternak Ayam Kampung di Simalungun Gunakan Mesin Pencacah Sayur Berbasis Kontrol Digital


MEDAN (Waspada.id): Tingginya biaya pakan pabrikan menjadi salah satu tantangan yang dihadapi peternak ayam kampung. Untuk membantu mengatasi persoalan tersebut, Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Negeri Medan (Unimed) menghadirkan teknologi tepat guna berupa mesin pencacah sayur berbasis kontrol digital bagi Kelompok Ternak Maju Bersama di Huta III Sahkuda Bayu, Kecamatan Gunung Malela, Kabupaten Simalungun.
Teknologi ini dirancang untuk membantu peternak memanfaatkan berbagai bahan pakan alternatif yang tersedia di lingkungan sekitar. Sayuran dan hijauan lokal yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal kini dapat diolah lebih cepat dan efisien untuk mendukung kebutuhan pakan ayam kampung.
Sebelum adanya mesin tersebut, anggota kelompok ternak masih melakukan proses pencacahan secara manual. Padahal, berbagai bahan seperti daun singkong, daun pisang, kangkung, bayam, sawi, hingga sisa sayuran yang masih layak digunakan memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan pakan alternatif.
Proses pencacahan manual membutuhkan waktu dan tenaga yang cukup besar. Kondisi ini membuat pemanfaatan bahan pakan lokal belum maksimal dan peternak masih cukup bergantung pada pakan pabrikan.
Ketua Tim PKM Unimed, Rosma Siregar, M.Kom., mengatakan penerapan mesin pencacah sayur tidak sekadar memberikan peralatan kepada mitra, tetapi juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kemampuan peternak dalam memanfaatkan teknologi.
“Melalui mesin pencacah sayur berbasis kontrol digital ini, kami ingin membantu mitra mengolah bahan pakan lokal dengan lebih efektif dan efisien. Selain penyediaan teknologi, kami juga memberikan pelatihan agar mitra mampu mengoperasikan dan merawat mesin secara mandiri,” ujar Rosma.
Mesin tersebut menggunakan tenaga listrik sebagai sumber penggerak dan dilengkapi sistem kontrol digital untuk memudahkan pengoperasian. Dengan teknologi ini, proses pencacahan sayuran dan hijauan dapat dilakukan dengan lebih praktis serta menghasilkan ukuran cacahan yang lebih seragam.
Ukuran cacahan yang lebih seragam diharapkan memudahkan peternak dalam mengolah dan mencampurkan bahan tersebut sebagai bagian dari pakan ayam kampung.
Tim PKM Unimed juga memberikan pelatihan dan pendampingan kepada anggota Kelompok Ternak Maju Bersama. Materi pelatihan mencakup pengoperasian mesin, perawatan, hingga aspek keselamatan kerja saat menggunakan peralatan.
Peternak juga mendapatkan pendampingan mengenai pemanfaatan sayuran dan hijauan lokal sebagai bahan pakan alternatif. Langkah ini diharapkan dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap pakan pabrikan sekaligus mendorong pemanfaatan sumber daya yang tersedia di sekitar lokasi peternakan.
Program tersebut merupakan kolaborasi lintas bidang yang melibatkan Rosma Siregar, M.Kom. dan Bagoes Maulana, S.Kom., M.Kom. dari Program Studi Pendidikan Teknologi Informatika dan Komputer serta Eviyona Laurenta Br Barus, S.Pd., M.S. dari Program Studi Fisika Fakultas Teknik Universitas Negeri Medan.
Sejumlah mahasiswa Fakultas Teknik turut terlibat dalam seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari persiapan, penerapan teknologi, pelatihan, dokumentasi, hingga monitoring dan evaluasi.
Rangkaian kegiatan diawali dengan identifikasi kondisi dan kebutuhan mitra. Selanjutnya, tim melakukan persiapan dan penerapan mesin pencacah sayur, uji fungsi, pelatihan penggunaan dan perawatan, serta pendampingan dalam pemanfaatan bahan pakan alternatif.
Evaluasi juga dilakukan untuk melihat perubahan efisiensi proses pengolahan pakan serta tingkat pemahaman anggota kelompok setelah mendapatkan pelatihan.
Ketua Kelompok Ternak Maju Bersama, Sutayno, menyambut baik penerapan teknologi yang diberikan oleh Tim PKM Unimed. Menurutnya, kehadiran mesin pencacah sayur memberikan kemudahan bagi kelompok dalam mengolah bahan pakan yang tersedia di lingkungan sekitar.
Penerapan teknologi ini diharapkan menjadi langkah awal bagi kelompok ternak untuk mengembangkan pola pengelolaan pakan yang lebih efisien dan mandiri.
Melalui program PKM tersebut, Unimed menunjukkan peran perguruan tinggi dalam menghadirkan solusi teknologi yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. Mesin pencacah sayur berbasis kontrol digital bukan hanya menjadi alat bantu produksi, tetapi juga membuka peluang bagi peternak untuk mengoptimalkan sumber daya lokal.
Dengan pemanfaatan teknologi dan bahan pakan yang tersedia di sekitar, kelompok peternak diharapkan semakin mandiri dalam mengelola usaha ayam kampung sekaligus mampu menekan beban biaya pakan secara berkelanjutan. (Id13)



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda