Breaking News
Memuat breaking news...

Tekanan Jual Surat Utang Berlanjut, Rupiah Terus Dekati Rp18.000 per Dolar AS

Redaksi
Redaksi
Jumat, 25 September 2026 - 9.21 AM WIB
Tekanan Jual Surat Utang Berlanjut, Rupiah Terus Dekati Rp18.000 per Dolar AS
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN (Waspada.id): Tekanan jual di pasar surat utang Amerika Serikat (AS) kembali menjadi perhatian pelaku pasar. Kondisi tersebut mendorong kenaikan imbal hasil US Treasury 10 tahun dan turut menekan nilai tukar rupiah yang kembali mendekati level Rp18.000 per dolar AS.

Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, tekanan terhadap rupiah saat ini tidak hanya berkaitan dengan data ekonomi AS, tetapi lebih banyak dipengaruhi pergerakan pasar obligasi AS.

“Klaim pengangguran awal AS merealisasikan data yang lebih rendah dibandingkan dengan ekspektasi pasar. Initial jobless claim AS berada di angka 197 ribu jiwa. Penurunan tersebut bisa meredakan spekulasi kenaikan bunga acuan Bank Sentral AS untuk sementara waktu. Namun sayangnya pasar keuangan akan lebih fokus pada pasar obligasi AS dibandinglan data lainnya,” ujar Gunawan, Jumat (25/9).

Menurut Gunawan, kenaikan imbal hasil US Treasury menjadi sinyal penting bagi pasar keuangan global karena dapat meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar AS. Dampaknya, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, berpotensi kembali mendapatkan tekanan.

“Imbal hasil US Treasury 10 tahun kembali naik dan menyentuh level tertingginya sejak tahun 2004. Imbal hasil tersebut sempat menyentuh 5.51% pada sesi perdagangan waktu AS. Sementara itu USD Index bergerak stabil dengan kecenderungan turun pada sesi perdagangan Asia. Kombinasi sentimen ini berpeluang menbuat Rupiah kesulitan untuk menguat,” jelasnya.

Pada perdagangan pagi, rupiah ditransaksikan melemah di kisaran Rp17.900 per dolar AS. Pelemahan tersebut membuat rupiah kembali mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS.

Di tengah tekanan terhadap rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru masih mampu bergerak menguat pada pembukaan perdagangan di level 6.315. Pergerakan IHSG tersebut berbeda arah dengan mayoritas bursa saham Asia yang mengalami pelemahan.

Namun, Gunawan melihat ruang koreksi pada pasar saham domestik tetap terbuka. Salah satu sentimen yang perlu dicermati adalah kenaikan harga minyak mentah dunia, khususnya Brent, yang telah berada di sekitar US$105 per barel.

“Di sisi lain harga emas dunia masih alami tekanan di kisaran level $4.287 per ona troy, atau sekitar 2.48 juta per gram. Harga emas dunia masih kesulitan untuk menguat di tengah upaya perdamaian timur tengah untuk kembali membuka blokade selat hormuz. Justru saat ini kondisinya diperburuk dengan tekanan jual pasar obligasi yang kembali memperkuat rencana kenaikan bunga acuan The Fed,” katanya.

Gunawan menilai kombinasi kenaikan imbal hasil obligasi AS dan tingginya harga minyak menjadi dua faktor yang perlu diperhatikan pasar domestik. Kenaikan yield US Treasury dapat memperkuat tekanan terhadap rupiah, sementara harga minyak yang tinggi berpotensi meningkatkan tekanan terhadap neraca perdagangan dan inflasi apabila berlangsung dalam waktu lama.

Dengan kondisi tersebut, pergerakan rupiah akan sangat bergantung pada perkembangan pasar obligasi AS, arah dolar AS, serta dinamika harga komoditas global. Level Rp18.000 per dolar AS kembali menjadi perhatian pasar apabila tekanan terhadap aset emerging market berlanjut. (id09)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement