Breaking News
Memuat breaking news...
Advertisement

Telunjuk Dunia Menunjuk ke Solo

Redaksi
Redaksi
Jumat, 6 November 2026 - 10.47 AM WIB
Telunjuk Dunia Menunjuk ke Solo
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

Skandal penyadapan telepon Presiden Prabowo oleh mantan Kapolri menjadi santapan pers dunia. Sorotan merambat dari Trunojoyo hingga lingkaran politik Jokowi.

DUNIA kini memasang telinga ke Jakarta. Bukan menguping Presiden Prabowo Subianto, melainkan menyimak skandal dugaan penyadapan teleponnya. Ketidakbiasaan itu sungguh telanjang: perangkat negara yang semestinya melindungi presiden justru diduga dipakai mengintip percakapannya. Tersangkanya pun bukan polisi kemarin sore; ia mantan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

Menurut Bareskrim, penyadapan ilegal berlangsung sepanjang 2025–2026 melalui sistem intersepsi Polri. Jejak digitalnya diduga dihapus. Pada 3 November, Listyo bersama dua jenderal menjadi tersangka, disusul seorang lainnya. Perkara pun melebar dari urusan siapa mengeklik tombol menjadi siapa memerintah dan siapa menikmati hasil sadapan.

Nasib Listyo berjungkir balik. Baru sebulan meninggalkan kursi Kapolri menuju Kepala Staf Kepresidenan, pada 4 November Prabowo mencopotnya. Dari orang dalam Istana menjadi tersangka yang menguping penghuninya. Motif dan penerima hasil sadapan masih gelap. Di tengah kekosongan informasi, spekulasi politik berkembang liar.

Skandal itu pun menyeberang samudra. Reuters dan Financial Times dari Inggris membedah kegaduhan politiknya. Associated Press dan Bloomberg dari Amerika Serikat menguliti dugaan penyalahgunaan perangkat pengawasan. South China Morning Post dari Hong Kong membaca keretakan persekutuan Prabowo–Jokowi.

The Straits Times dan Channel NewsAsia dari Singapura menelusuri mekanisme penyadapan. ABC Australia menyoroti ancaman terhadap wartawan. Deutsche Welle dari Jerman mencermati pengerahan pasukan di Jakarta. Al Jazeera dari Qatar dan Anadolu dari Turki mengangkat kemungkinan makar. Arab News dari Arab Saudi mengulas implikasinya bagi demokrasi.

Dari beragam teropong internasional, satu alamat politik ikut tersorot: Solo.

Di kota itulah Joko Widodo berakar. Listyo pernah menjadi ajudannya. Pada 2021, Jokowi pula yang mengantarnya ke singgasana Trunojoyo, melompati sejumlah senior. Kariernya melesat bak roket tanpa hambatan. Kini, ketika bekas orang kepercayaannya tersandung perkara yang menyasar penerusnya di Istana, mesin spekulasi politik bekerja ganda.

Benarkah semua ini cuma operasi segelintir jenderal? Atau ada kepentingan yang lebih besar bersembunyi di balik layar penyadapan?

Pertanyaan itu boleh-boleh saja. Namun, telunjuk bukan alat bukti. Kedekatan politik bukan surat perintah kejahatan. Pers internasional mengulik retaknya hubungan Prabowo–Jokowi, sebagian menduga keterlibatan mantan presiden tersebut.

Mantan Wakapolri Oegroseno meminta rantai komando diusut, termasuk kemungkinan memeriksa Jokowi. Dari Solo, mantan presiden itu memilih jawaban pendek: hormati proses hukum. Jawaban diplomatis, meski belum mengakhiri kegaduhan.

Di sinilah penyidik diuji. Jangan sampai kedekatan dijadikan dasar menghukum, tetapi jangan pula hubungan kekuasaan menjadi pagar kebal pemeriksaan.

Celakanya, sasaran penyadapan diduga bukan hanya presiden. Wartawan, aktivis, tokoh masyarakat, hingga pengusaha ikut disebut. Jika terbukti, negara ini sedang menghadapi skandal yang lebih busuk daripada perseteruan elite: perangkat keamanan negara berpotensi berubah menjadi perkakas pengintai warga.

Hari ini telepon presiden. Besok percakapan siapa? Boleh jadi percakapan Anda!

Istana sempat menyinggung kemungkinan makar. Tuduhan serius yang memerlukan pembuktian, bukan semata dramaturgi konferensi pers. Sebab, pertanyaan krusial belum terjawab: siapa memberi perintah, ke mana informasi mengalir, dan mengapa jejaknya dihapus?

Sorotan dunia bukan vonis untuk Solo. Namun, ia menjadi cermin yang memperlihatkan betapa rapuhnya batas antara kekuasaan, loyalitas, dan penyalahgunaan kewenangan.

Jika telunjuk dunia mengarah ke Solo, penyidik tak boleh berhenti di Trunojoyo. Ikuti bukti, sejauh apa pun jejaknya menjalar. Negara ini tak membutuhkan opera sabun para penguping, melainkan kebenaran yang tak bisa disadap, disunting, lalu dihapus hanya karena penyelidikan mungkin menyentuh orbit kekuasaan yang dijuluki “Geng Solo”.

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Berita Terkait

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement