Breaking News
Memuat breaking news...

Tensi Geopolitik Memanas, Rupiah dan IHSG Tertekan

Redaksi
Redaksi
Senin, 31 Agustus 2026 - 9.40 AM WIB
Tensi Geopolitik Memanas, Rupiah dan IHSG Tertekan
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

MEDAN (Waspada.id): Pasar keuangan Indonesia mengawali perdagangan pekan ini dalam tekanan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah di tengah sentimen negatif dari pasar global, sementara nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai pelemahan pasar keuangan domestik tidak terlepas dari kombinasi sentimen global, mulai dari menguatnya dolar AS, kenaikan imbal hasil US Treasury, hingga meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Tekanan juga datang dari pasar saham Asia. Data manufaktur China memang menunjukkan perbaikan, tetapi belum mampu keluar dari zona kontraksi. Manufacturing PMI China pada Agustus berada di level 49,8, membaik dibandingkan posisi bulan sebelumnya sebesar 49,0.

“Perbaikan data manufaktur China memang menjadi sentimen positif, tetapi levelnya masih berada di bawah 50. Artinya, aktivitas manufaktur China masih berada dalam zona kontraksi,” ujar Gunawan, Senin (31/8).

Kondisi tersebut turut membatasi ruang penguatan pasar saham Asia. IHSG pada awal perdagangan tercatat dibuka melemah ke level 6.511 dan bergerak mengikuti kecenderungan mayoritas bursa saham di kawasan Asia.

Di pasar valuta asing, rupiah juga mengalami tekanan. Mata uang Garuda diperdagangkan di kisaran Rp17.750 per dolar AS. Pelemahan tersebut terjadi ketika sejumlah indikator justru menunjukkan penguatan dolar AS.

Indeks dolar AS atau USD Index bergerak naik ke level 99,6. Pada saat bersamaan, imbal hasil US Treasury 10 tahun meningkat ke sekitar 4,7%, lebih tinggi dibandingkan posisi pada akhir pekan sebelumnya.

Menurut Gunawan, kenaikan yield US Treasury menjadi salah satu faktor yang membuat aset berbasis dolar AS kembali menarik bagi investor global. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

“Ketika yield US Treasury meningkat dan dolar AS menguat, investor cenderung lebih berhati-hati terhadap aset di negara berkembang. Ini yang kemudian memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah,” jelasnya.

Tensi Timur Tengah Jadi Perhatian

Selain faktor pasar keuangan, pelaku pasar juga mencermati perkembangan geopolitik yang kembali memanas. Iran, China dan Rusia dijadwalkan bertemu dalam forum Shanghai Cooperation Organization (SCO).

Pertemuan tersebut menjadi perhatian pasar karena berpotensi menghasilkan respons bersama terhadap tekanan ekonomi dan kebijakan Amerika Serikat. China sebelumnya juga telah menyatakan penolakan terhadap sanksi ekonomi AS yang berkaitan dengan kerja sama ekonominya dengan Iran.

Meningkatnya tensi geopolitik tersebut mulai tercermin pada pasar komoditas. Harga minyak mentah dunia kembali bergerak naik dan menyentuh level sekitar US$90 per barel.

Gunawan menilai kenaikan harga minyak perlu menjadi perhatian bagi Indonesia karena dapat memberikan tekanan tambahan terhadap neraca perdagangan maupun inflasi apabila berlangsung dalam waktu yang panjang.

Di sisi lain, harga emas justru berada dalam tekanan dan bergerak ke kisaran US$4.423 per troy ounce atau sekitar Rp2,53 juta per gram.

“Pasar saat ini menghadapi banyak ketidakpastian. Geopolitik, harga minyak, pergerakan dolar AS dan yield US Treasury menjadi faktor yang saling berkaitan dan bisa meningkatkan volatilitas pasar keuangan,” kata Gunawan.

Ia memperkirakan pergerakan rupiah dan IHSG pada awal pekan masih akan sangat bergantung pada perkembangan sentimen global. Jika tensi geopolitik terus meningkat, investor berpotensi meningkatkan aksi wait and see dan mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman.

“Pelaku pasar akan mencermati perkembangan geopolitik dengan sangat hati-hati. Selama ketidakpastian masih tinggi, ruang penguatan IHSG dan rupiah akan relatif terbatas,” pungkasnya. (id09)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement