Terhidu Ganja Anak BupatiTerhidu Ganja Anak Bupati

Mengapa seorang yang hanya "terhidu asap" tiba-tiba memiliki zat anestesi dalam urinenya? Apakah etomidate juga bisa "menyebar melalui udara"?
DI TENGAH gemerlap lampu kota Pekanbaru, sebuah toilet di tempat hiburan malam menjadi saksi beku teatrikal yang kini mengguncang Riau. Penggerebekan aparat gabungan pada Minggu dini hari, 24 Mei 2026, tidak hanya menangkap 13 orang dalam pesta narkoba, tapi juga membuka kotak Pandora tentang keadilan, sains, dan kekuasaan. Akhmet Fidel Akbari Zukri, anak Bupati Pelalawan Zukri Misran, positif ganja dan etomidate. Tapi dia bebas. Alasannya? Ia hanya "terhidu asap" di toilet.
Kepala BNNK Pekanbaru, Kombes Wawan Setiawan, memberikan penjelasan mencengangkan: dua tersangka lain sedang menghisap ganja di toilet, lalu AF masuk. "Saya tanya ke dokter, apakah bisa positif ganja jika situasinya seperti itu, menghirup asap dari udara? Ternyata bisa," ujarnya. AF pun hanya dijatuhi rehabilitasi rawat jalan, sementara pelaku lain dengan barang bukti ganja kering 9,8 gram dan 1,2 gram menanti proses hukum.
Apakah ini kemajuan forensik atau kemunduran logika?
Studi dari National Institutes of Health (NIH) memang membuktikan paparan asap ganja ekstrem di ruang tertutup tanpa ventilasi bisa membuat non-perokok positif tes urine, terutama pada cutoff rendah 20 ng/mL. Tapi syaratnya: ruangan benar-benar tertutup, asap tebal, dan paparan berkepanjangan. Dalam kondisi normal, kemungkinannya "sangat kecil" hingga "hampir mustahil" menurut berbagai literasi medis. Tes urine standar menggunakan cutoff 50 ng/mL—hampir mustahil tercapai oleh asap sekunder kecuali dalam kondisi laboratorium ekstrem.
Lalu ada etomidate. Zat anestesi intravena ini tidak muncul dari asap. Ia ada di dalam tubuh AF karena disuntik atau diminum. BNNK Pekanbaru bungkam soal ini. Mengapa seorang yang hanya "terhidu asap" tiba-tiba memiliki zat anestesi dalam urinenya? Apakah etomidate juga bisa "menyebar melalui udara"?
Kasus serupa pernah terjadi di Amerika Serikat. Seorang perawat di Colorado dinyatakan positif THC setelah mengaku terpapar asap pasien di rumah sakit. Pengadilan memutuskan ia tidak bersalah, tapi bukan karena "terhidu asap"—melainkan karena ketidakmampuan pihak berwenang membuktikan konsumsi langsung. Bedanya: tidak ada etomidate dalam kasus itu, dan sang perawat tidak berada di tempat hiburan malam pada dini hari bersama barang bukti narkoba.
Di Indonesia, kasus ini mengingatkan kita pada "Ratu Narkoba Riau" Mak Gadi yang baru divonis 17 tahun. Ia tidak punya jabatan bupati sebagai ayah. Beda nasib, beda perlakuan.
Bukan rahasia lagi anak pejabat sering mendapat perlakuan istimewa di ranah hukum. Dari kasus narkoba hingga kecelakaan lalu lintas, mantra "anak siapa" seringkali lebih ampuh dari alibi "terhidu asap". AF bukan kasus pertama, dan mungkin bukan terakhir. Yang membuat publik geram bukan hanya kebebasannya, tapi bagaimana kebebasan itu dijustifikasi dengan argumen yang menghina inteligensi rakyat.
Bupati Zukri Misran meminta publik tidak mengutip sikapnya. Ironis. Seorang pejabat publik meminta privasi saat putranya terlibat kasus publik. Seolah-olah kekuasaan bisa membuat seseorang immun dari pertanggungjawaban sosial.
BNNK Pekanbaru seharusnya menjadi benteng ilmiah, bukan pengacara pribadi. Ketika Wawan Setiawan mengatakan sudah konsultasi dengan dokter, publik berhak tahu: dokter siapa? Apakah hasil tes GC-MS (Gas Chromatography-Mass Spectrometry) sudah dilakukan untuk memastikan positifnya bukan false positive dari immunoassay? Mengapa hanya AF yang mendapat asesmen khusus, sementara 12 orang lain tidak?
Jawabannya hampir mungkin karena AF adalah anak bupati. Dan di negeri ini, hukum seringkali seperti asap—terlihat tebal dan mengaburkan, tapi mudah diterbangkan angin jika ada kekuatan yang meniupnya.
Toilet di tempat hiburan malam itu mungkin sempit dan bau. Tapi lebih sempit lagi ruang keadilan di negeri ini ketika kekuasaan ikut merokok bersama hukum. AF mungkin benar-benar hanya "terhidu asap". Tapi yang pasti terbakar adalah kredibilitas lembaga penegak hukum dan kepercayaan publik pada keadilan.
Asap ganja di toilet itu boleh jadi sudah terbang. Tapi bau busuk ketidakadilan akan melekat lama di Riau—setelah oknum aparat di sana tiba-tiba buta, tuli, dan bisu ketika diduga ikut terhidu asap ganja anak Sang Bupati.































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda