Breaking News
Memuat breaking news...

Tgk Iyan An Warmus Ujta: Empat Pilar Penjaga Negeri dari Musibah

Redaksi
Redaksi
Jumat, 18 September 2026 - 6.11 PM WIB
Tgk Iyan An Warmus Ujta: Empat Pilar Penjaga Negeri dari Musibah
Guree Tgk Iyan An Warmus Ujta, menyampaikan khutbah Jumat di Masjid Al Munawwarah, Desa Ujung Tanah, Kecamatan Lembah Sabil, Abdya, Jumat (18/9.).Waspada.id/Syafrizal
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

BLANGPIDIE (Waspada.id): Pesan tentang keselamatan sebuah negeri tidak selalu berbicara tentang pembangunan fisik, ekonomi maupun kekuatan pemerintahan. Ada fondasi moral yang jauh lebih menentukan: keadilan pemimpin, peran ulama, kepedulian masyarakat dan terjaganya kehormatan kaum perempuan.

Pesan itu disampaikan Tgk Supriadi, yang dikenal sebagai Guree Tgk Iyan An Warmus Ujta, dalam khutbah Jumat di Masjid Al Munawwarah, Desa Ujung Tanah, Kecamatan Lembah Sabil, Aceh Barat Daya (Abdya), Jumat (18/9).

Menurutnya, selama dalam sebuah negeri masih terdapat pemimpin yang adil, ulama yang menyerukan kebajikan, masyarakat yang bersama-sama menegakkan keadilan, serta kaum wanita yang menjaga aurat, maka negeri tersebut memiliki benteng moral dari berbagai musibah dan bencana.

Pesan tersebut sederhana, namun menyimpan makna sosial yang luas. Pemimpin yang adil menjadi pilar pertama. Kekuasaan tanpa keadilan, hanya akan melahirkan jarak antara pemerintah dan rakyat. Sebaliknya, keadilan mampu menumbuhkan kepercayaan dan menjaga keseimbangan kehidupan masyarakat.

Guree Iyan menegaskan, ulama sebagai pilar kedua bukan sekadar penyampai pesan agama dari mimbar masjid, tetapi juga penjaga moral masyarakat. Nasihat yang benar menjadi penting ketika kehidupan sosial mulai bergeser dari nilai-nilai kebajikan.

Kemudian masyarakat yang peduli terhadap keadilan. Keadilan tidak mungkin berdiri hanya di tangan pemimpin atau aparat. Ia membutuhkan partisipasi masyarakat untuk saling mengingatkan, membantu dan tidak membiarkan ketidakadilan menjadi sesuatu yang dianggap biasa.

Sementara menjaga aurat menjadi bagian dari penjagaan kehormatan dan moral sosial. Pesan ini tidak hanya menuntut tanggung jawab perempuan, tetapi juga mengingatkan seluruh masyarakat agar membangun lingkungan yang menghormati martabat manusia.

Empat pesan tersebut pada akhirnya bermuara pada satu kesadaran: negeri yang kuat bukan hanya negeri yang maju secara fisik, tetapi juga yang sehat secara moral.

Sebab, pembangunan dapat memperindah wajah sebuah daerah. Namun keadilan, keteladanan dan kepedulian masyarakatlah yang menjaga wajah itu tetap bermartabat.

Khutbah tersebut pun menjadi pengingat bahwa menghadapi musibah tidak cukup hanya dengan membangun infrastruktur setelah bencana terjadi. Membangun keadilan, memperkuat moral dan menjaga kepedulian sosial adalah ikhtiar yang harus dilakukan sebelum bencana datang.(id82)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement