Tgk Safaini: Lima Penghalang Menjadi Hamba yang SalehTgk Safaini: Lima Penghalang Menjadi Hamba yang Saleh

ACEH BESAR (Waspada.id): Sayyidina Ali karramallahu wajhah, salah seorang sahabat dan menantu Rasulullah yang dikenal akan kesalehan dan keluasan ilmunya mengatakan, ada lima sebab kesalehan atau ibadah seorang hamba tidak dianggap oleh Allah Swt.
Dalam kitab Nashaihul Ibad karangan Syakh Nawawi Banten disebutkan bahwa Imam Ali bin Abi Thalib berkata, “Kalau bukan karena lima perkara, niscaya semua manusia menjadi saleh, yaitu: (1) merasa cukup (senang) dengan kebodohan, (2) tamak dengan (kesenangan) dunia, (3) kikir dengan kelebihan harta, (4) riya dalam beramal, dan (5) bangga akan diri sendiri.”
Pimpinan Dayah Raudhatul Arifin Tanjung Deah Darussalam Aceh Besar, Tgk. Safaini S.PdI, MA menyampaikan hal itu dalam khutbah Jumat di Masjid Jamik Buengcala, Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar, Jumat (31/07/2026), bertepatan 16 Safar 1448 Hijriah.
Tgk. Safaini menguraikan, sebab pertama beribadah tanpa ilmu. Menuntut ilmu agama merupakan kewajiban atas setiap orang Islam laki laki atau perempuan karena dengan ilmu ibadah kita akan diterima oleh Allah karena dalam semua ibadah itu ada ketentuan syarat sah dan rukunnya maka jika seseorang beribadah tanpa ilmu ibadahnya itu ditolak tidak diterima Allah Swt. Sebagaimana yang katakan oleh Ibnu Ruslan dalam bab awal Matn al-Zubad-nya: “Dan setiap orang beramal tanpa ilmu maka amalnya tertolak lagi tidak diterima”
Kedua, tamak akan dunia. Tamak yang berarti ingin mendapatkan banyak materi untuk kepentingan diri sendiri atau biasa juga disebut serakah, merupakan sifat tercela. Orang yang tamak selalu merasa kurang akan rezeki yang telah diberikan Allah kepadanya. Sehingga, ia selalu berusaha dengan keras dan giat mendapatkan tambahan rezeki dan cenderung lupa beribadah karena waktunya dihabiskan untuk bekerja.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Tirmidzi dalam kitab Sunan-nya disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Dua serigala lapar yang dilepas di sekawanan kambing tidaklah lebih merusak daripada ambisi seorang yang tamak untuk memperoleh harta dan kemuliaan yang merusak agamanya.”
Ketiga, kikir dengan kelebihan harta. Jika menilik redaksi kata yang digunakan Imam Ali bin Abi Thalib untuk menyebut kikir, yaitu al-syuhhu, maka sifat kikir yang dimaksud berkaitan erat dengan sifat tamak. Makna kata tersebut adalah kikir yang disertai dengan ambisi atau ketamakan mendapatkan harta sebanyak-banyaknya.
“Tak jarang ada orang yang tidak hanya kikir terhadap orang lain, tetapi juga kikir terhadap keluarganya bahkan dirinya sendiri. Padahal, kelebihan harta menjadikan seseorang memiliki beban yang lebih berat di akhirat kelak, karena akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dimilikinya,” ungkap Dosen Universitas Al-washliyah Banda Aceh ini.(id66)































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda