Breaking News
Memuat breaking news...

The Fed Masih Buka Peluang Naikkan Bunga, Rupiah dan Emas Justru Menguat

Redaksi
Redaksi
Jumat, 18 September 2026 - 9.43 AM WIB
The Fed Masih Buka Peluang Naikkan Bunga, Rupiah dan Emas Justru Menguat
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN (Waspada.id): Pasar keuangan merespons beragam arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Meski The Federal Reserve (The Fed) masih membuka peluang kenaikan suku bunga acuan hingga akhir 2026, rupiah dan harga emas justru mampu bergerak menguat pada perdagangan Jumat (18/9/2026).

Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, imbal hasil atau yield US Treasury terpantau mengalami penurunan setelah The Fed mengambil kebijakan suku bunga dan tetap memberikan sinyal bahwa ruang kenaikan bunga masih terbuka hingga penghujung tahun.

Menurutnya, arah kebijakan The Fed tersebut menunjukkan bahwa aset berbasis dolar AS masih berpeluang menawarkan imbal hasil yang menarik ke depan. Kondisi ini semestinya menjadi sentimen yang dapat memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

"Bank sentral AS merespon tekanan jual pada obligasi AS, dan tetap memberikan sinyal kemungkinan kenaikan bunga acuan hingga tutup tahun 2026. Sinyalemen dari The Fed ini menunjukan bahwa aset dalam US Dolar berpeluang memberikan imbal hasil yang besar kedepannya," ujar Gunawan, Jumat (18/9).

Namun, rupiah justru menunjukkan penguatan pada perdagangan pagi. Mata uang Garuda diperdagangkan di sekitar level Rp17.715 per dolar AS.

Gunawan menilai pergerakan rupiah tersebut menunjukkan bahwa pasar masih merespons sejumlah faktor secara bersamaan, tidak hanya kebijakan moneter Amerika Serikat. Arah kebijakan Bank Indonesia nantinya juga menjadi salah satu faktor penting yang akan menentukan pergerakan rupiah.

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga dibuka menguat di level 6.481. Penguatan tersebut sejalan dengan mayoritas bursa saham Asia yang turut bergerak positif pada sesi perdagangan pagi.

Emas Masih Jadi Aset Pelindung

Di sisi lain, harga emas dunia justru mampu melanjutkan tren penguatan meskipun prospek suku bunga AS masih cenderung ketat.

Gunawan menjelaskan, secara teori, kenaikan suku bunga dapat memberikan tekanan terhadap harga emas karena emas tidak memberikan imbal hasil bunga. Namun, kondisi tersebut dapat diimbangi oleh meningkatnya ketidakpastian dan tensi geopolitik global.

"Di satu sisi emas berpeluang alami tekanan dari kebijakan suku bunga yang cenderung naik. Meski disisi lain tensi geopolitik yang berpeluang memburuk memberikan kesempatan bagi emas melawan tekanan dari sisi suku bunga," katanya.

Harga emas dunia pada perdagangan hari ini tercatat berada di kisaran US$4.348 per troy ounce, atau sekitar Rp2,5 juta per gram.

Gunawan mengingatkan bahwa tren penguatan emas tetap dibayangi potensi koreksi apabila kebijakan moneter The Fed semakin ketat. Hal serupa juga berlaku terhadap rupiah yang masih menghadapi risiko volatilitas akibat perubahan arah kebijakan moneter global.

"Namun langkah moneter BI yang akan menentukan pergerakan Rupiah nantinya," pungkas Gunawan. (id09)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement