Breaking News
Memuat breaking news...

The Fed Tahan Bunga, Rupiah dan Emas Menguat

Redaksi
Redaksi
Jumat, 4 September 2026 - 9.39 AM WIB
The Fed Tahan Bunga, Rupiah dan Emas Menguat
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

MEDAN (Waspada.id): Pasar keuangan Indonesia mendapat angin segar dari arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Sinyal Federal Reserve atau The Fed yang cenderung menahan suku bunga acuan dalam dua pekan ke depan mendorong penguatan aset domestik, termasuk rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Pada perdagangan hari ini, Jumat (4/9), IHSG dibuka menguat ke level 6.695, sejalan dengan mayoritas bursa saham di kawasan Asia yang bergerak positif.

Penguatan pasar juga tercermin dari pergerakan rupiah yang pada sesi pagi ditransaksikan di level Rp17.625 per dolar AS. Sementara itu, harga emas dunia turut menguat hingga berada di kisaran US$4.472 per troy ounce atau sekitar Rp2,54 juta per gram.

Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin, menilai sinyal kebijakan The Fed tersebut memberikan ruang bagi pasar keuangan untuk kembali membangun optimisme.

Menurutnya, pasar sebelumnya dibayangi kekhawatiran bahwa kenaikan harga minyak mentah dunia dapat memicu tekanan inflasi dan pada akhirnya mendorong bank sentral mengambil kebijakan moneter yang lebih ketat.

"Kalau The Fed memberikan sinyal untuk menahan suku bunga, tentunya ini menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan. Kekhawatiran terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga bisa sedikit mereda," ujar Gunawan.

Ia menjelaskan, stabilitas kebijakan moneter Amerika Serikat juga dapat memberikan ruang bagi bank sentral negara lain untuk mempertahankan tingkat suku bunganya. Kondisi tersebut berpotensi menjaga daya tarik aset berisiko, termasuk saham dan mata uang negara berkembang.

Di sisi lain, perkembangan harga minyak mentah tetap menjadi faktor yang perlu dicermati. Kenaikan harga energi berpotensi memberikan tekanan baru terhadap inflasi global dan dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga.

"Pasar masih akan mencermati perkembangan harga minyak. Kalau harga minyak kembali melonjak signifikan, risiko inflasi tetap ada. Tetapi untuk saat ini, sinyal The Fed yang cenderung menahan bunga memberikan sentimen yang cukup positif," jelasnya.

Gunawan memperkirakan rupiah dan IHSG masih memiliki peluang melanjutkan penguatan sepanjang sentimen eksternal tidak mengalami perubahan signifikan.

Penguatan harga emas juga menunjukkan bahwa permintaan terhadap aset lindung nilai masih cukup kuat. Dengan harga emas dunia yang telah berada di level tinggi, pergerakannya akan sangat dipengaruhi oleh arah suku bunga AS, dolar, serta perkembangan geopolitik global.

Dengan kombinasi sentimen tersebut, perdagangan pasar keuangan domestik berpeluang berada di zona hijau. Namun, pelaku pasar tetap perlu mewaspadai perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed dan volatilitas harga komoditas energi. (id09)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement