The Fed Tahan Suku Bunga, Tiga Pejabat Pilih Naikkan Bunga AcuanThe Fed Tahan Suku Bunga, Tiga Pejabat Pilih Naikkan Bunga Acuan

WASHINGTON (Waspada.id): Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) kembali mempertahankan suku bunga acuannya. Namun, keputusan kali ini menjadi sorotan karena tidak diambil secara bulat. Tiga pejabat The Fed memilih menaikkan suku bunga lantaran menilai tekanan inflasi masih terlalu tinggi.
Mengutip CNBC, Kamis (30/7/2026), Federal Open Market Committee (FOMC) memutuskan dengan perbandingan suara 9-3 untuk mempertahankan federal funds rate di kisaran 3,5%-3,75%. Perbedaan pandangan tersebut mencerminkan semakin menguatnya kubu pejabat yang menginginkan kebijakan moneter lebih ketat.
Tiga suara yang berbeda berasal dari Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack, Presiden The Fed Minneapolis Neel Kashkari, dan Presiden The Fed Dallas Lorie Logan. Ketiganya selama ini dikenal sebagai pejabat yang konsisten mendorong suku bunga lebih tinggi guna menekan inflasi yang masih bertahan di atas target 2% milik The Fed selama lebih dari lima tahun.
Dalam pernyataan resmi usai rapat, The Fed menyebut ketiga pejabat tersebut "lebih memilih untuk menaikkan kisaran target federal funds rate sebesar ¼ poin persentase pada pertemuan ini."
Perbedaan suara ini menjadi yang pertama sejak September 2016, ketika tiga pembuat kebijakan secara bersamaan menyampaikan dissent atau penolakan terhadap keputusan mayoritas mengenai arah kebijakan suku bunga.
"Kami melihat ini sebagai komite dengan kelompok hawkish yang vokal," kata Kepala Strategi Suku Bunga AS BMO Capital Markets, Ian Lyngen.
Tantangan Perdana Kevin Warsh
Perbedaan pendapat di internal FOMC juga menjadi ujian awal bagi Ketua The Fed Kevin Warsh. Sejak menjabat, Warsh dinilai memilih tidak memberikan sinyal yang jelas mengenai arah kebijakan moneter, sehingga meningkatkan ketidakpastian di kalangan pelaku pasar menjelang rapat.
Sebelum keputusan diumumkan, mayoritas pelaku pasar memang memperkirakan The Fed akan kembali menahan suku bunga. Meski demikian, berdasarkan FedWatch Tool milik CME Group, peluang terjadinya kejutan berupa kenaikan suku bunga sempat berada di kisaran satu banding tiga.
Warsh sebelumnya berpendapat bahwa bank sentral tidak perlu terlalu banyak memberikan petunjuk mengenai langkah kebijakan yang akan diambil. Menurutnya, The Fed sebaiknya lebih menekankan kondisi ekonomi yang dapat menjadi dasar pengambilan keputusan.
Meski demikian, pernyataan resmi yang dirilis The Fed pada Rabu waktu setempat juga tidak memberikan sinyal mengenai arah kebijakan selanjutnya. Padahal, pasar secara luas masih memperkirakan bank sentral AS akan kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan September mendatang. (Lip6)































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda