Tiga Besar Diumumkan, Bupati Pidie Menentukan


Papan catur birokrasi Pidie kini memasuki babak penentuan. Dua belas nama telah melangkah ke petak tiga besar, sementara empat kursi strategis menunggu keputusan.
Bupati memegang bidak terakhir yang menentukan arah permainan. Namun, jabatan bukan sekadar buah catur yang dapat dipindahkan sesuka hati; di balik setiap langkah, ada nasib pelayanan publik dan kepercayaan rakyat yang dipertaruhkan.
Pengumuman tiga besar calon pejabat pimpinan tinggi pratama di Kabupaten Pidie menempatkan empat jabatan strategis dalam sorotan publik. Dua belas peserta telah dinyatakan masuk tiga besar melalui seleksi administrasi, kompetensi, dan wawancara akhir.
Untuk jabatan Staf Ahli Bupati Bidang Pembangunan, Ekonomi, dan Keuangan, terdapat Fahmi, S.STP., M.Si.; Muchtar Abdul Gani, S.Pd.I., M.Pd.; dan Muhammad Nur, S.Pd., M.Pd.
Tiga kandidat Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) ialah Firdaus, MY, S.T., M.T.; Neny Safriani Arida, S.P., M.T.; dan Sri Rahayu, SE.
Sementara itu, calon Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) adalah Mahdi, S.T.; Muzakkir, S.T., M.T.; dan Teuku Makhriza, Ir., S.T., M.T. Adapun tiga nama untuk jabatan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) ialah Fauzan Fahmi, S.T., M.T.; Jamaluddin, S.Sos.; dan Saiful Ifwan Mustafa, Drs., M.M.

Kini, bola panas berada di tangan Bupati Pidie. Keputusan akhir bukan sekadar menentukan siapa yang menduduki kursi, melainkan juga menguji komitmen terhadap profesionalisme, integritas, dan sistem merit dalam birokrasi.
Dalam perspektif tata kelola pemerintahan yang baik, kompetensi, rekam jejak, dan kesesuaian keahlian dengan kebutuhan jabatan semestinya menjadi pertimbangan utama. Pengumuman tiga besar belum cukup untuk menyimpulkan siapa yang paling unggul karena dokumen tersebut tidak mencantumkan nilai terperinci setiap kandidat.
Karena itu, masyarakat patut berharap agar keputusan diambil secara objektif, sesuai ketentuan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Harapan tersebut bukan tuduhan terhadap proses seleksi, melainkan bentuk kepedulian publik terhadap kualitas pemerintahan.
Empat jabatan itu memiliki tanggung jawab besar. Mulai dari memberikan pertimbangan strategis kepada kepala daerah, memperbaiki pelayanan perizinan dan investasi, membangun infrastruktur yang berkualitas, hingga memastikan kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Kesalahan menempatkan orang bukan sekadar persoalan administrasi, tetapi berpotensi memengaruhi efektivitas pelayanan kepada masyarakat.
Pada akhirnya, papan catur birokrasi tidak boleh menjadi arena kepentingan sempit. Bupati memang memegang langkah penentu, tetapi hasilnya akan dinilai melalui kinerja pejabat yang dipilih.
Jabatan bukan hadiah, melainkan amanah. Pilihan terbaik bukan semata-mata siapa yang menduduki kursi, melainkan siapa yang mampu bekerja, menjaga integritas, dan menghadirkan manfaat nyata bagi rakyat Pidie. WASPADA.id
Muhammad Riza
Berita Terkait








































































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda